Tahun Baru Saka

Hari ini, 17 Maret 2018 dalam kalender Masehi merupakan tahun baru pada sistem kalender Saka. Oleh karena itu, saya secara pribadi mengucapkan selamat tahun baru bagi seluruh netter dimanapun berada.

Meski lahir di India dari Sang Aji Saka, namun kalender Saka sangat popular di Nusantara, terutama sejak masa kejayaan kerajaan Majapahit. Di India sendiri kalender Saka sepertinya sudah tidak diterapkan lagi. Mirip seperti penanggalan Masehi, penanggalan Saka juga mendasari perhitungannya berdasarkan Solar System, yaitu siklus peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Hanya saja tidak seperti kalender Masehi yang sudah disesuaikan dengan permodelan tata surya modern, kalender Saka sangat dekat dengan sistem astronomi dan tata surya dalam ajaran Veda, Jyotisastra. Seperti kita ketahui Jyotisastra memiliki sedikit perbedaan permodelan dengan sistem tata surya modern. Dalam Jyotisastra dikenal 2 jenis planet yang tidak kasat mata yang dijadikan dasar perhitungan gerhana bulan dan matahari, yaitu planet Rahu dan Ketu. Meski permodelan modern dan permodelan kuno Veda berbeda, namun faktanya keduanya dapat memperhitungkan kapan gerhana bulan dan matahari akan terjadi dengan cukup akurat. Selanjutnya jika kalender Masehi menentukan tahun baru berdasarkan pada posisi bumi yang sama setelah mengelilingi matahari 360 drajat, maka kalender Saka menentukan tahun barunya pada saat matahari, bumi dan bulan ada pada 1 garis lurus.

Tradisi tahun baru Saka menjadi sangat unik karena satu-satunya Tahun baru yang dirayakan secara berkebalikan dengan sistem tahun baru yang lain. Jika dalam penanggalan Masehi misalnya tahun baru dirayakan dengan semarak kembang api dan pesta, maka pada tahun baru Saka malah dirayakan dengan keheningan yang sangat sunyi. Suasana sunyi sepi inilah yang selanjutnya menyebabkan tahun baru Saka disebut sebagai Nyepi.

 

Perayaan Nyepi

Hari ini merupakan tahun baru Saka yang sudah lebih dari kedua puluh kali yang saya lewati dalam hidup ini. Pada rentang umur yang sudah menginjak kepala tiga, setidaknya 20 sampai 25 kali tahun baru Saka sudah saya lewati secara sadar. Hanya saja sebagai seorang perantau, saya tidak selalu ikut terlibat dalam kegiatan tahun baru Saka secara langsung baik itu di Bali maupun di Indonesia. Untungnya, dengan media komunikasi yang sudah semakin canggih, setidaknya sebagian informasi dari acara tahunan tersebut bisa saya rasakan.

Saat ini, tahun baru Saka yang disebut dengan Nyepi sangat identik sebagai hari raya umat Hindu di Indonesia. Dalam sambutannya di pelataran candi Prambanan, menteri Agama bahkan menyebutkan bahwa Nyepi seharusnya jangan disebut sebagai Hari Raya Nyepi, tetapi Hari Suci Nyepi untuk umat Hindu. Secara lebih kekinian, perayaan Nyepi lebih dikenal karena kegiatan 1 hari sebelumnya yang disebut pengerupukan. Hari pengerupukan selalu identik dengan pesta ogoh-ogoh, sebuah perwujudan patung raksasa atau para dewa yang diarak keliling desa dan/atau diperlombakan. Bagi mereka yang lebih spiritualis, Nyepi akan identik dengan Catur Brata Penyepian, yaitu empat pantangan yang dilaksanakan untuk menyambut tahun baru. Empat pantangan tersebut antara lain, (1) Amatigeni, yaitu pantang menghidupkan api/ penerangan (lampu), (2) Amatikarya, yaitu pantang bekerja, dengan pengertian agar manusia melakukan pengendalian aktivitas fisik diri, namun saat itu melakukan aktivitas spiritual; (3) Amatilelungan, yaitu pantang bepergian (keluar), dengan harapan agar dapat mengendalikan keinginan dan memfokuskan pikiran; dan terakhir (4) Amatilelangun, yaitu pantang mendengarkan dan menikmati hiburan dan musik, televisi dan sejenisnya.

 

Sejarah Nyepi

Pertanyaan selanjutnya, kapan sih Nyepi dimulai? Perayaan Nyepi pada dasarnya bukan 100% perayaan Hindu. Perayaan Nyepi dimulai pada saat Kerajaan Majapahit menggunakan kalender Saka sebagai bagian dari penanggalan pemerintahannya. Seperti kita ketahui, meski kerajaan Majapahit dipimpin oleh raja Hindu sehingga bercorak Hindu. Tetapi pemeluk Hindu, Buddha dan bahkan mungkin agama asli Nusantara hidup secara berdampingan baik dalam kehidupan sosial bermasyarakat maupun dalam struktur pemerintahan. Sehingga sebagai sistem kalender kerajaan, kalender Saka diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat Majapahit pada waktu itu.

Sebagai sebuah kalender kerajaan, segala kegiatan kenegaraan juga dilaksanakan berdasarkan pada penanggalan Saka. Termasuk di dalamnya penutupan dan pembukaan tahun pemerintahan.

Tutup buku tahun pemerintahan Majapahit dilaksanakan bertepatan dengan berakhirnya siklus penanggalan tahun Saka yang saat ini dirayakan sebagai pengerupukan. Tidak beda jauh dengan saat ini, penghujung tahun Saka dirayakan dengan berbagai pertunjukan, pawai dan pesta yang cukup meriah yang mengiringi laporan tahunan kerajaan. Hanya saja tentunya saat itu belum ada ogoh-ogoh seperti yang kita saksikan saat ini. Yang ada adalah tradisi gunungan yang berisi hasil bumi seperti yang masih digunakan pada tradisi sekaten di Jogjakarta. Gunungan sendiri sangat dekat dengan Govardhan Puja dalam kisah Mahabharata yang merupakan perwujudan syukur atas segala hasil kekayaan alam yang telah dilimpahkan.

Selanjutnya perayaan tahun baru Saka yang sepi dimulai dari tradisi kerajaan Majapahit yang melakukan kegiatan meditasi dan persembahyangan bersama. Dikatakan bahwa para punggawa kerajaan biasanya akan berangkat ke sekitar gunung Bromo guna melakukan meditasi selama 1 hari penuh. Sedangkan rakyat biasa juga melakukan kontemplasi di rumahnya masing-masing. Karena sebagian besar lapisan masyarakat Majapahit disibukkan dengan kegiatan meditasi dan kontemplasi, menyebabkan hari raya tahun baru menjadi sangat sepi. Kondisi tersebut mungkin dapat diidentikkan dengan kegiatan tahun baru di Jepang. Jika Anda melewatkan tahun baru di Jepang, maka Anda akan merasakan bagaimana masyarakat Jepang sebagian besar merayakan pergantian tahun dengan pergi dan sembahyang di kuil sehingga menyebabkan jalan-jalan dan perumahan menjadi sangat sepi.

Keruntuhan kerajaan Mahapahit mengakibatkan perubahan tatanan sosial budaya yang sangat luar biasa. Bagi mereka yang tidak mau tunduk di bawah kekuasaan kerajaan yang baru yang didasarkan pada Islam akhirnya memilih untuk mengungsi. Sebagian besar pergi ke Bali dan sebagian lagi ada yang menyepi ke gunung-gunung termasuk dianataranya gunung Bromo, Gunung Raung dan juga Gunung Kidul. Sebagian besar dari pengungsi tersebut lah yang selanjutnya tetap menggunakan penanggalan Saka dan menjaga tradisi tersebut tetap eksis. Sementara di sisi lain, pada tahun 1633 Masehi kerajaan Mataram Islam sebagai pengganti kekuasaan Majapahit yang berada di bawah kekuasaan Sultan Agung berusaha melakukan islamisasi dengan memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah yang umum digunakan dalam penanggalan Islam. Perpaduan kedua kalender itu berlangsung rumit karena dasar perhitungan kalender Saka dan Hijriah sangat lah berbeda. Kalender Hijriah memiliki siklus yang jauh lebih pendek dari kalender Saka akibat menggunakan sistem perhitungan bulan (Lunar system). Namun pergeseran yang paling kelihatan adalah dengan menggeser tahun barunya menjadi sama dengan tahun baru Hijriah, yaitu 1 Muharam. Akibatnya tradisi pawai dan pesta kerajaan Majapahit diwarisi sebagai kegiatan pawai yang dilaksanakan pada 1 Muharam. Salah satu yang paling nyata adalah masih digunakannya tradisi Gunungan yang tidak lain adalah Govardhan Puja yang akan mengingatkan kita pada kemahakuasaan Sri Krishna pada saat mengangkat bukit Govardhan.

Singkat cerita, setalah ratusan tahun berlalu, penggunaan kalender Saka hanya masih tersisa di Bali akibat Bali masih dikuasai oleh kerajaan Hindu. Tradisi tersebutlah yang kita warisi sebagai Nyepi yang identik dengan ogoh-ogohnya.

 

Pergeseran Makna

Sekitar 20-25 tahun yang lalu, saat masih ingat betul bagaimana perayaan tahun baru Saka dilaksanakan di desa saya. Perayaan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan saat ini. Pada hari pengerupukan, desa memang melaksanakan pawai dan persembahyangan. Tetapi pawai tersebut hanya dilakukan sebatas dalam bentuk tari-tarian yang mengiringi barong, rangda dan celuluk yang diarak keliling desa. Para masyarakat yang menyertainya akan membawa obor dan bunyi-bunyian seperti kulkul bambu. Meriam bambu juga merupakan permainan yang sangat menarik yang selalu menghiasi akhir tahun pada saat itu.

Setelah sekian tahun berlangsung, masuknya petasan mengawali pergeseran penggunaan kulkul dan meriam bambu. Petasan yang lebih praktis selanjutnya menjadi permainan yang lebih menarik dari pada membawa meriam bambu dalam ukuran yang cukup besar.

Kemunculan ogoh-ogoh baru dimulai pada tahun 1984. Namun khusus untuk desa saya, sampai tahun 2000an, ogoh-ogoh masih belum ada. Saya ingat betul bagaimana bendesa adat pada saat itu mengatakan bahwa di desa kami tidak boleh ada ogoh-ogoh karena sudah memiliki “tapakan” dalam bentuk pangpang dan celuluk yang selalu diarak pada saat pawai pengerupukan. Tetapi entah kenapa, apa karena tetua yang memegang tradisi tersebut sudah tiada atau karena dorongan muda-mudi untuk berkreasi semakin kuat, akhirnya lahirlah ogoh-ogoh pertama dalam bentuk yang sangat sederhana yang hanya terdiri dari kain kasa putih dan dengan bentuk perwujudan muka ala kadarnya. Namun, melalui sharing video dan foto di media sosial, saya dapat melihat bagaimana kreasi ogoh-ogoh di desa saya sudah menjadi sangat maju. Wujud ogoh-ogohnya sudah cukup menarik dengan karya seni yang tinggi.

Pawai, ogoh-ogoh, petasan, meriam bambu, hanyalah perwujudan kasat mata dari pergeseran budaya yang ada. Namun di balik itu, saya lebih mengkawatirkan pergeseran basic value dari Nyepi itu sendiri. Seperti kita ketahui, menurut teori Cooper, budaya sejatinya disusun dalam lapisan-lapisan seperti halnya susunan kulit bawang. Lapisan terluar adalah artifak yang terdiri dari hal yang dapat kita lihat dan rasakan secara langsung. Lapisan di dalamnya lagi adalah adat kebiasaan yang lebih tak kasat mata. Dan yang paling dalam adalah nilai-nilai dasar, atau basic value yang merupakan “agama” yang mendasari kebudayaan tersebut. Saat ini, generasi muda mengetahui bahwa sehari sebelum nyepi adalah pawai ogoh-ogoh dan pada saat Nyepi adalah kondisi sepi, tidak boleh ke jalan, bandar udara ditutup dan sejenisnya. Pihak lain juga mengidentikkan Nyepi hanya sebagai hari raya umat Hindu. Semua itu tidak salah, tetapi tahukah mereka makna lebih mendalam dari Nyepi itu sendiri?

Saya sangat mendukung evolusi budaya yang mengiringi peradaban. Karena hanya mereka yang bisa berubah mengikuti jaman lah yang akan survive. Namun jangan lupa, jika basic value terlupakan, maka artifak-artifak di luarnya akan kabur secara tidak terkendali. Hanya dengan memegang basic value secara kuat yang akan mendorong perkembangan budaya secara sehat. Karena itu, kita sebagai generasi muda, sangat perlu tetap memahami sejarah dan makna dasar dari Nyepi itu sendiri. Seperti kata bung Karno, jangan lupa pada “Jas Merah” kita.

Selamat Nyepi semuanya. Semoga kita tetap ada dalam lindunganNya dan benar-benar dapat menerapkan Nyepi untuk diri kita sendiri, masyarakat dan juga tata pemerintahan kita.

 

Om Tat Sat