Belajar dari Negeri Sakura

Selama merantau di Negeri Sakura, saya cukup beruntung karena memiliki kesempatan mengikuti program keluarga angkat. Melalui keluarga angkat tersebut, saya belajar banyak secara mendalam filosofi hidup orang Jepang. Bukan hanya apa yang tampak di permukaan sehingga sering disalah mengerti, tetapi juga secara lebih mendalam sampai kepada value of believe yang mereka miliki.

Jauh sebelum saya menginjakkan kaki di negeri Matahari Terbit, rekan-rekan instansi saya yang notabene lulusan luar negeri bercerita bahwasanya orang jepang itu Atheis alias tidak beragama. Bahkan pada saat saya baru sampai di sini, sejumlah orang Indonesia yang sudah cukup lama tinggal di Jepang juga berujar mengatakan bahwa orang Jepang rata-rata tidak beragama. Seandainya saya tidak memiliki hubungan baik dengan salah satu Professor Budaya Jepang dan juga tidak mendapatkan keluarga angkat yang tepat, mungkin sampai dengan saat ini saya juga akan memiliki pandangan yang sama dengan apa yang teman-teman tersebut di atas katakan. Saya akan percaya bahwa orang Jepang tidak beragama.

Berbicara mengenai agama di Jepang dengan di Indonesia memang sangat jauh berbeda. Sama seperti negara-negara maju lainnya, Kartu Tanda Penduduk di Jepang tidak mencantumkan kolom agama. Sejak diterbitkannya undang-undang kebebasan beragama pasca kekalahannya dalam perang dunia kedua, negara tidak lagi ikut campur dan menggunakan agama sebagai alat politik. Sekolah bahkan tidak boleh mengajarkan agama pada anak didiknya. Sebagai gantinya, anak-anak diajarkan budi pekerti dan etika yang pada akhirnya sangat mencerminkan nilai-nilai budaya Jepang itu sendiri. Pendidikan agama bagi anak-anak hanya dibolehkan dilakukan di rumah masing-masing.

Jauh sebelum undang-undang kebebasan beragama diberlakukan di Jepang, Jepang juga menggunakan agama sebagai alat politik persis seperti apa yang sedang terjadi di Indonesia. Seperti kita ketahui, dalam Agama Shinto, Kaisar dianggap sebagai keturunan langsung dari Matahari atau Amaterasu yang dipercaya sebagai Tuhan. Karena dianggap sebagai personifikasi Tuhan di dunia, maka Kaisar dan keluarganya sangat dihormati dan disembah selayaknya utusan Tuhan. Namun gejolak sosial yang luar biasa pernah melanda Jepang saat penyebaran agama Buddha dari daratan China dan Korea. Masuknya ajaran Buddha tentu saja secara perlahan mengubah pola keyakinan dasar yang pada akhirnya juga mengubah sudut pandang mereka akan kekuasaan sang Kaisar. Oleh karena itulah pernah suatu masa terjadi pelarangan pengajaran ajaran Buddha dan pemaksaan untuk memeluk Shintoism demi eksistensi kekuasaan sang Kaisar. Setelah mengenyam pahit manis sejarah yang sangat panjang, pada akhirnya saat ini Kaisar hanya dijadikan sebagai simbol negara dan sebagai pimpinan tertinggi agama Shinto.

Secara de yure, jika Anda bertanya pada orang Jepang mengenai apa agamanya, maka sebagian besar dari mereka memang akan menjawab tidak beragama, atau mengatakan bahwa mereka meyakinan beberapa agama. Lalu apakah dengan berkata tidak beragama berarti mereka Atheis, mensinkritisme agama, atau memang tidak beragama? Mari kita selami lebih jauh lagi sebelum memberi kesimpulan secara prematur.

Keyakinan Sebagai Way of Life

Keluarga angkat saya tampak tersenyum saat saya bertanya mengenai agama di keluarga mereka. Secara mengejutkan mereka berkata bahwa sebagai keluarga keturunan Samurai, mereka mengikuti prinsip hidup Bushido. Simbolisasi prinsip hidup itu mereka ejawantahkan dengan pemberian upacara pemberkatan bagi anak-anak mereka saat berusia sekitar 5 tahun di kuil Shinto terdekat. Tapi saat mereka menikah, mereka melangsungkan pernikahan di Gereja. Dan di saat ada kerabat mereka yang meninggal biasanya akan dikremasi dengan upacara agama Buddha. Dengan kehadiran saya di sana, bahkan mereka mengatakan ingin belajar tentang Hindu dan budaya Bali. Sangat unik bukan? Lalu apa sebenarnya agama mereka? Secara mengejutkan mereka mengatakan bahwa keyakinan mereka dan cara mereka beragama tidaklah seperti apa yang banyak negara berkembang termasuk Indonesia lakukan. Mereka tidak menjadikan agama mereka sebagai simbol, tetapi lebih kepada jalan kehidupan. Agama bagi mereka lebih kepada penginsafan akan diri dan bagaimana mengejawantahkan nilai-nilai keyakinan tersebut pada tingkah laku yang tercermin melalui alam lingkungannya. Agama bagi mereka bukan sebagai sebuah label atau untuk melabeli orang lain. Sehingga prinsip hidup Bushido yang mereka jalani juga mereka ejawantahkan bukan dalam bentuk banyak kegiatan seremonial keagamaan atau simbol-simbol yang dipamerkan di bagian tubuh atau rumah mereka. Tidak dapat dipungkiri, mereka juga memiliki sejumlah altar pemujaan dan peralatan seremonial termasuk Katana (pedang) dengan perlengkapannya. Tetapi simbol-simbol itu bukan segalanya bagi mereka. Simbol hanya sebagai pengingat, sementara yang lebih penting adalah gaya hidup, disiplin dan penerapan tingkah laku.

Lebih lanjut lagi mereka menjelaskan bahwa sikap mereka sehari-hari merupakan perwujudan dari agama mereka. Cara mereka menyembah Tuhan diperlihatkan dengan bagaimana mereka menjaga alam yang merupakan perwujudan kemahakuasaan Tuhan (Kami-sama). Kecintaan dan keharmonisan mereka pada alam adalah perwujudan cinta kasih mereka pada Tuhan. Sebagian besar orang Jepang tidak menunjukkan ketaatan mereka beragama dengan memperlihatkan diri rajin sembahyang, dengan menggelar upacara agama besar-besaran, atau dengan memutar music keagamaan keras-keras seolah-olah ingin mengumumkan agar orang lain tahu bahwa mereka memiliki agama. Tetapi sikap spiritualitas mereka terwujud nyata melalui sopan santunnya.

Jika Anda datang ke Jepang, pemandangan pertama yang akan sangat Anda nikmati adalah lingkungannya yang sangat bersih. Sungguh sangat sulit menemukan sampah di sepanjang trotoar. Jarangnya sampah bukan karena ada banyak pasukan kuning yang selalu membersihkan dan tidak juga karena ada aturan ketat yang akan mendenda mereka saat buang sampah sembarangan. Tetapi karena sejak kecil mereka sudah ditanamkan budaya malu dan sikap hormat pada lingkungan. Bagi mereka, khususnya dalam ajaran Shinto, setiap benda memiliki personifikasi kehidupan. Jangankan pohon, binatang dan manusia, batu, bangku bahkan sampai sampah menurut mereka memiliki jiwa sehingga juga harus diperlakukan sebagaimana mestinya. Lebih-lebih gunung, sungai, hamparan sawah dan lautan bagi mereka juga memiliki personifikasi penguasa yang disebut sebagai “Kami” atau dapat diterjemahkan sebagai dewa. Selanjutnya di samping memiliki kuil kecil yang diperuntukkan untuk masing-masing personifikasi perwujudan tersebut, cara mereka menyembah Tuhan adalah dengan menjaga dan bersikap harmonis terhadapnya. Karena itulah pemandangan berikutnya yang akan sulit Anda temukan di Indonesia adalah bentang alam yang sangat alami, sungai dengan air sangat jernih, hutan yang sangat asri.

Jepang juga terkenal dengan tingkat kriminalitasnya yang sangat rendah. Saya sendiri pernah beberapa kali menyaksikan bagaimana HP dan dompet yang terjatuh di jalan kembali lagi kepada pemiliknya. Benda-benda berharga yang ditaruh begitu saja tanpa takut dicuri juga merupakan pemandangan umum sebagaimana yang dapat kita nikmati di alam pedesaan di Bali tempo dulu. Kenapa hal ini dapat terjadi? Ternyata mereka juga yakin akan hukum karma. Inilah prinsip hidup mereka, melaksanakan ajaran agama sebagai sebuah jalan hidup.

Yang unik adalah pada saat bencana gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan jepang pada bulan maret 2011. Pada kondisi genting, kehancuran dan kelaparan yang terjadi di wilayah bencana, tidak menyebabkan masyarakatnya rusuh. Pada saat gempa terjadi, orang-orang yang sedang berbelanja di dalam toko berhamburan keluar tetapi setelah gempa mereda, mereka masuk kembali ke dalam toko, mengantri dan membayar apa yang mereka ambil. Di sisi lain, di sebuah lapangan tempat sembako dibagikan oleh pemerintah, penduduk membentuk antrian panjang dengan sangat tertib dan dengan sabar menunggu jatah mereka. Rumah-rumah dan harta benda yang ditinggal mengungsi atau meninggal oleh pemiliknya juga aman tanpa penjarahan. Melihat kondisi seperti itu, dalam benak saya, saya membayangkan, andaikan hal ini terjadi di Indonesia yang katanya agama beragama, apakah mungkin kondisinya akan sama? Saya pribadi tidak yakin masyarakat kita akan bisa tertib, tidak terjadi penjarahan dan secara jujur hanya mengambil apa yang menjadi hak mereka. Kalau memang demikian halnya, lalu siapakah yang sejatinya lebih spiritualis dan beragama?

Kehidupan orang Jepang juga sesungguhnya sangat spiritualis, meskipun tidak ditonjolkan dalam bentuk upacara dan sembahyang rutin tiap hari. Sebelum makan, selalu mereka buka dengan doa “Itadakimasu 頂きます” yang berarti menyampaikan terima kasih pada seluruh entitas kehidupan atas makanan yang telah diberikan. Di depan setiap rumah pribadi umumnya juga didesain ada keran sebagai tempat membasuh kaki dan mulut. Jadi idenya sama halnya seperti di kuil, setiap penghuni rumah harus masuk ke dalam rumah dalam kondisi bersih dan suci. Mereka juga memiliki sejenis altar atau pelangkiran yang dijadikan pusat pemujaan. Memang tidak semua rumah memilikinya, tetapi konsep-konsep spiritualitas tergambar melalui tingkah laku mereka, bukan hanya sekedar simbolis keagamaan semata.

 

Jika di sebagian besar wilayah dunia merayakan pergantian tahun Masehi dengan hingar bingar kembang api, maka hal tersebut tidak akan Anda rasakan di Jepang, setidaknya di sebagian besar wilayah Jepang. Ternyata tahun baru bagi orang Jepang tidak identik dengan pesta, tetapi mereka malahan pergi ke Kuil untuk sembahyang. Pergantian tahun akan ditandai dengan bunyi lonceng Kuil yang dipukul beberapa kali.

 

Namun tentu saja, Jepang juga memiliki sisi gelap yang tidak seharusnya kita tiru. Orang Jepang terkenal dengan sikapnya yang workaholic, sangat gila kerja. Bahkan sering kali dapat kita temui mereka yang sudah pensiun sebagai seorang General Manager tetap bekerja sebagai juru parkir di sebuah mal. Mungkin hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki budaya komunal tempat masyarakatnya berkumpul dan disibukkan dalam suatu event-event tertentu. Jika orang tua masyarakat pedesaan khususnya di Bali punya berbagai kesibukan dengan kegiatan ngayah dan upacara, maka masyarakat Jepang yang minim kegiatan upacara keagamaan tidak demikian halnya. Oleh karena itulah kebahagiaan hidup mereka diwujudkan dalam bentuk bekerja sampai mati.

Harmonikasi Kehidupan

Kehidupan keagamaan di Jepang sangat minim upacara dan simbolisasi. Meski beberapa kuil besar buka setiap hari, tetapi faktanya sebagian besar orang Jepang hanya sembahyang ke kuil rata-rata 1-2 kali dalam 1 tahun. Mereka tidak perlu melakukan upacara pecaruan untuk membersihkan alam, karena alam sudah dibersihkan dengan kesadarannya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Mereka juga tidak melaksanakan upacara tumpuk kandang untuk penghormatan pada binatang, karena kesadaran mereka pada kelestarian pada makhluk hidup. Dan mereka juga tidak perlu mengagung-agungkan konsep Tri Hita Karana karena konsep itu sudah mereka praktikkan secara langsung. Dan yang terpenting, mereka juga tidak sibuk membela Tuhan atau melarang orang lain melaksanakan keyakinan yang berbeda dari mereka. Karena bagi mereka Tuhan sudah maha kuasa sehingga tidak perlu dibela.

Pada dasarnya upacara merupakan hal penting sebagai simbolisasi dan tonggak pengingat akan suatu kegiatan. Tetapi nilai-nilai yang baik tidak bisa hanya berhenti pada tataran seremonial. Konsep Tri Hita Karana, Tri Mandala dan berbagai jenis upacaranya memberikan tata nilai yang sangat baik bagi masyarakatnya. Tetapi tata nilai itu tetap hanya akan menjadi jargon dan simbol jika hanya berhenti pada tatanan seremonial. Lihatlah beberapa berita terakhir yang menyebutkan bahwa pantai pulau Bali sangat kotor dipenuhi oleh sampah Banten Upacara. Sungguh ironis, di saat upacara yang dilakukan dikatakan sebagai upacara pecaruan yang bertujuan untuk membersihkan buana alit dan buana agung. Tetapi faktanya upacara tersebut malah mendatangkan masalah baru dalam bentuk sampah yang mengotori buana agung dan menyebabkan penyakit bagi buana alit. Hal seperti itukah tujuan dari sebuah upacara? Beberapa saat lalu saya juga membaca berita mengenai banjir yang sudah menggerogoti kota Denpasar yang disinyalir akibat masyarakat yang suka membuang sampah ke sungai. Belum lagi tindakan kriminal yang semakin meraja rela yang uniknya kalau pada jaman dahulu pelakunya selalu didominasi oleh pendatang, namun pada saat ini malah banyak dilakukan oleh orang Bali sendiri.

Sebagai orang Bali, saya suka merenung akan masa depan budaya Bali. Di satu sisi saya sangat bangga dengan seluruh tatanan nilai, budaya dan adat-istiadat yang telah diwariskan oleh leluhur saya. Tapi di sisi lain, saya sangat kawatir dengan keharmonisan antara tata nilai, aplikasi sikap dan pengejawantahannya lewat berbagai upacara.

Agama Shinto tidak memiliki kitab tertulis yang dijadikan patokan bagi generasi penerusnya. Ajaran Shinto mengalir begitu saja secara turun temurun dari generasi ke generasi. Kita di Bali jauh lebih beruntung karena masih memiliki salinan lontar tertulis yang dijadikan rujukan. Lontar-lontar itu juga sudah memberikan pedoman kehidupan dengan nilai-nilai yang sangat baik. Namun permasalahannya adalah, sejauh mana nilai-nilai itu dapat diaplikasikan dengan baik di kehidupan nyata? Apakah cukup dengan bentuk upacara?

Di lingkungan keluarga saya pernah terjadi kesialan yang terjadi berturut-turut. Katakanlah di pagi hari saudaranya kecelakaan, siangnya neneknya masuk rumah sakit dan terakhir mereka kehilangan sejumlah harta benda. Atas masalah yang terjadi tersebut, apa yang mereka lakukan? Melalui bisikan mereka yang dianggap tetua, solusinya katanya hanya 1, yaitu melakukan upacara pecaruan karena lingkungan rumahnya sudah leteh atau kotor. Di tempat lain di saat gempa bumi, tanah longsor, banjir terjadi di mana-mana, sejumlah kawan di group instansi menyerukan agar diadakan tabliq akbar dan pendekatan diri kepada Tuhan agar kita terhindar dari bencana. Dalam benak saya, saya berpikir, apa hubungannya bencana dengan upacara? Apakah upacara akan menghentikan bencana? Saya yakin akan kemahakuasaan Tuhan, tetapi saya tidak yakin dengan Tuhan yang pemarah yang akan menghancurkan manusia karena “lupa” menyembahNya setiap hari. Saya lebih yakin kalau semua murka Tuhan yang ditunjukkan oleh alam tersebut disebabkan karena manusia sudah lupa bahwa alam adalah perwujudan kemahakuasaan Tuhan yang harus kita hormati dan jaga secara harmonis. Pada titik inilah seharusnya kita belajar dari budaya Jepang yang sejatinya juga sudah ditanamkan dengan sangat baik dalam ajaran Hindu.

Sebagai daerah rawan gempa. Ilmu asta kosala kosali sudah mengajarkan bagaimana seharusnya masyarakat Bali membangun rumah anti gempa. Jika hal tersebut diterapkan, setidaknya korban jiwa akibat gempa akan dapat diminimalisir. Melalui konsep Tri Hita Karana dan Tri Mandala kita diajarkan bagaimana merawat buana agung dan buana alit. Jika ajaran itu kita wujudkan secara nyata, kita tidak akan membuang sampah sembarangan, tidak akan menggunduli hutan secara membabi buta dan akibatnya, bencana tanah longsor dan banjir tidak akan terjadi. Etika dan susila juga sudah diajarkan dengan sangat baik oleh leluhur kita. Jika etika itu kita jalankan, konflik sosial akan dapat diminimalisir.

Jadi dengan demikian, di akhir coretan kecil ini, saya hanya bermaksud menyampaikan, bahwasanya upacara itu baik tetapi upacara tidak akan menyelesaikan seluruh masalah. Kita perlu menyeimbangkan antara tatwa, susila dan upacara. Tatwa merupakan tuntunan yang harus kita pelajari sebagai dasar filsafat, susila harus benar-benar kita terapkan dan upacara adalah simbolisasi yang penting untuk mempererat ikatan antara kita baik dalam lingkungan keluarga atau pun masyarakat. Semua itu perlu dilakukan secara seimbang dan harus mampu mengikuti jaman. Jangan ada lagi keluarga yang jatuh miskin karena beban upacara, cukup sudah memberi solusi dalam bentuk upacara terhadap semua bencana yang ada. Kita harus bangkit dengan implementasi agama yang nyata. Bukan hanya beragama melalui simbol atau hanya sebagai ajang identitas diri semata, apa lagi hanya alat politik.

 

Om tat sat