Badai ganas mengamuk di tengah kegelapan. Deru angin terus- menerus menerjang, mencabut pohon-pohon besar. Awan tebal menyelimuti langit, dan halilintar menyambar-nyambar seolah tertawa. Ombak-ombak tinggi di samudera meratap seolah dirundung ke-sedihan. Serigala-serigala dan anjing melolong dengan suara sendu, dan burung-burung beterbangan menjerit dari sarangnya. Raksasa kembar Hiranyakasipu dan Hiranyaksatelah lahir.

Hari demi hari, tahun demi tahun, mereka tumbuh menjadi semakin tangguh, semakin jahat, dan semakin berkuasa atas semua raksasa lainnya, yang bersekutu dengan mereka. Kemudian, di bawah pimpinan Hiranyaksadan Hiranyakasipu, para Raksasa berangkat untuk menaklukkan para dewa, administrator- administrator alam semesta dan musuh bebuyutan mereka. Dalam perang untuk memperebutkan kuasa atas alam semesta, para Raksasa berjaya, tapi pada akhirnya Sri Visnu sendiri membunuh Hiranyaksa. Kematian saudaranya membuat Hiranyakasipu diliputi rasa cemas dan amarah. Ia menggigit bibirnya dan memandang ke atas dengan mata memancarkan cahaya kemarahan yang membuat langit menjadi penuh asap. Ia mengambil trisulanya, memandang ke sekeliling dengan penuh amarah, memperlihatkan gigi-giginya yang mengerikan, dan mulai berkata-kata kepada kawan-kawannya, para Raksasa.

“Wahai kawan-kawanku,” ia berseru, “Sri Visnu semestinya bertindak adil terhadap para dewa dan para raksasa, tapi sekarang Dia telah memihak para dewa dan membunuh saudara tercintaku, Hiranyaksa. Atas tindakan ini aku akan memenggal kepala-Nya! Dan dengan cucuran darah-Nya aku akan membuat senang hati Hiranyaksa saudaraku, yang begitu gemar minum darah. Hanya dengan cara demikian aku bisa tenang!”

Pertama-tama, Hiranyakasipu mengirim kawan-kawannya, para raksasa, ke seluruh dunia untuk menciptakan kekacauan di kalang- an orang-orang lugu dan saleh, lalu ia pun bersiap untuk mewujud- kan rencana-rencana jahatnya sendiri. Hiranyakasipu bukan hanya ingin berkuasa atas alam semesta dan menguasai segala kesem- purnaan mistik tapi juga yang terpenting adalah ia ingin menjadi kekal. Untuk meraih tujuan yang terasa tidak mungkin diraih ini, ia pergi ke lembah Bukit Mandara dan mulai menjalani pertapaan yang keras sekali: ia berdiri di atas ujung-ujung jari kakinya dan menjaga tangannya tetap ke atas serta matanya mantap menatap langit.

Sebagai hasil dari usaha keras Hiranyakasipu, rambut-rambut di kepalanya mulai memancarkan cahaya yang secemerlang ledakan bintang. Semua sungai dan samudera bergolak, dan seluruh gunung dan pulau di muka bumi mulai bergetar. Bintang-bintang dan planet- planet berjatuhan dari surga, dan api menjilat-jilat di segala penjuru. Sedemikian lamanya Hiranyakasipu mempertahankan dirinya dalam posisi yang sangat menyakitkan itu hingga rerumputan, semak- semak bambu, dan akhirnya rumah semut yang luas membungkus badan-nya. Semut-semut menggerogoti kulit, lemak, daging, dan darah di badannya, hingga hanya tulang kerangkanya yang tersisa.

Download E-book berikut untuk versi lengkapnya

%d bloggers like this: