Jika Anda pernah membaca Alkitab, Anda tentu tidak akan asing dengan suku bangsa Kanaan bukan? Alkitab menuliskan mengenai kisah bangsa Kanaan dalam banyak ayat-ayatnya sebagai bangsa yang tidak beriman dan harus ditumpas. Penumpasan akan bangsa Kanaan salah satunya disebutkan dalam Yohanes 6.21 “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apa pun yang bernafas, melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu”. Dalam ayat-ayat lain dalam Alkitab disebutkan bahwa Tuhan memerintahkan orang Israel untuk menumpas bangsa Kanaan sampai tidak tersisa sama sekali. Akan tetapi, hasil penelitian yang menggunakan teknik pemetaan genetika membuktikan bahwa pada dasarnya bangsa Kanaan tidak benar-benar mushan. Dr Marc Haber dari Wellcome Trust Sanger Institute berhasil membuktikan bahwa DNA bangsa Kanaan identik dengan bangsa Lebanon modern saat ini.

Bukti ilmiah ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa Tuhan sebagaimana disebutkan di Alkitab telah gagal memerintahkan bangsa Israel untuk membasmi bangsa Kanaan. Penulis juga tidak tertarik dengan argumen benar dan salah mengenai apa yang tertulis dalam Alkitab. Namun yang penulis ingin garis bawahi di sini adalah bagaimana Agama, yang dalam hal ini dibakukan dalam kitab yang dikatakan suci memiliki hubungan erat dengan kekuasaan.

Dalam sebuah pertemuan ilmiah para peneliti yang diadakan oleh Kemenristek Dikti, penulis pernah melontarkan pernyataan “nyleneh” yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh tetapi fundamental. Waktu itu penulis bertanya ke para hadapan para peneliti senior sebagai berikut; “Di forum ini kita berdiskusi mengenai berbagai metode penelitian dan teknik validasi untuk mencari fakta atau kebenaran yang bersifat objektif. Tetapi di saat kita berhadapan dengan pernyataan kitab suatu agama yang dianggap suci, lalu kenapa pernyataan tersebut langsung diamini sebagai kebenaran mutlak? Apakah sudah ada upaya penelusuran melalui metodologi ilmiah dan teknik validasi sehingga pernyataan kitab suci dapat dikatakan sebagai suatu kebenaran, apa lagi kebenaran mutlak? Di saat ada yang ingin membuktikannya secara ilmiah, lalu kenapa dihalangi dengan tameng istilah penodaan agama?”. Uniknya, tidak ada peneliti yang mampu memberikan penjelasan. Saat itu hanya seorang peneliti senior yang sedang menjadi narasumber yang mencoba menjawab dan intinya mengatakan bahwa agama merupakah ranah sensitif, jadi ya harus diterima apa adanya.

Pertanyaannya, apa iya kebenaran agama adalah kebenaran mutlak yang  harus diterima apa adanya? Penulis pribadi berani menyatakan bahwa hanya ajaran yang dogmatis yang akan mengiyakan pertanyaan ini. Kebenaran tidak seharusnya takut dibuktikan dengan sejumlah pengujian. Karena dengan pengujian tersebut lah kebenaran dapat semakin dikukuhkan. Coba kita lihat tengok ke belakang, ada berapa penelitian yang telah dilakukan hanya untuk mengukuhkan teori gravitasi Newton dan juga hukum relativitas Einstein. Karena Newton, Einstein dan juga para ilmuwan yang lain menuliskan kebenaran alam apa adanya, maka dengan berbagai pengujian dan pembuktian yang dilakukan oleh generasi ilmuwan berikutnya tidak serta merta menistakan apa yang mereka nyatakan, tetapi malah semakin mengharumkan nama mereka.

Selanjutnya Anda mungkin akan berkomentar, “lha itu kan pengetahuan duniawi mas, agama adalah pengetahuan rohani yang tidak dapat dibandingkan”. Penulis setuju bahwa tidak semua ajaran kitab suci dapat divalidasi. Sejak awal peradaban manusia sampai dengan detik ini, tidak satu pun bukti yang bisa membuat kelompok Theis dan Atheis menjadi menang atau kalah. Demikian juga dengan klaim dunia setelah kematian beserta berbagai reward dan punishment yang dijanjikannya tidak pernah bisa dibuktikan bukan? Karena itu lah, untuk ranah yang tidak dapat diukur dan dibuktikan ini penulis lebih senang kalau meninjaunya dari berbagai teori tentang budaya, seperti misalnya yang disampaikan oleh Dominic Cooper. Meski Cooper pada dasarnya lebih menekankan pada teori budaya keselamatan, namun sepertinya masih memiliki korelasi erat dengan masalah agama. Cooper menyatakan bahwa nilai-nilai dalam kehidupan manusia tersusun secara berlapis seperti halnya susunan lapisan bawang. Lapisan paling luar merupakan lapisan yang paling tampak dan dapat dengan mudah diamati. Semakin ke dalam, pengamatan tidak dapat dilakukan melalui panca indria secara langsung, tetapi sering kali harus dengan menggunakan metode empiris induktif.

Di forum ini kita berdiskusi mengenai berbagai metode penelitian dan teknik validasi untuk mencari fakta atau kebenaran yang bersifat objektif. Tetapi di saat kita berhadapan dengan pernyataan kitab suatu agama yang dianggap suci, lalu kenapa pernyataan tersebut langsung diamini sebagai kebenaran mutlak? Apakah sudah ada upaya penelusuran melalui metodologi ilmiah dan teknik validasi sehingga pernyataan kitab suci dapat dikatakan sebagai suatu kebenaran, apa lagi kebenaran mutlak? Di saat ada yang ingin membuktikannya secara ilmiah, lalu kenapa dihalangi dengan tameng istilah penodaan agama?

Permasalahan berikutnya adalah, pada level tertentu di bagian paling dalam terdapat sesuatu yang sangat tidak mungkin untuk diukur tetapi sejatinya sangat mempengaruhi corak dan warna dari lapisan di luarnya. Sisi terdapat itulah yang disebut sebagai nilai-nilai keyakinan. Yaitu sejumlah tataran nilai yang diyakini meski tidak pernah dibuktikan kebenarannya. Celakanya, tata nilai dasar ini sangat berpengaruh pada budaya yang terbentuk pada penganutnya. Misalnya budaya Jepang yang didasari pada keyakinan Shinto menganggap bahwa setiap tempat termasuk sungai, gunung dan bahkan pohon memiliki spirit yang harus dihormati. Terlepas dari benar atau salahnya bahwa setiap tempat memiliki spirit, tetapi budaya yang berkembang di Jepang menjadi positif. Tingkah laku mereka sehari-hari menjadi sangat menjaga alam, tidak sembarangan membuang sampah, tidak mudah melakukan pengerusakan hutan dan seterusnya. Sehingga jangan heran jika Anda hidup di Jepang, Anda akan sulit mencari sungai keruh seperti di Jakarta, hutan rusak seperti di Sumatra atau ekosistem yang terganggu. Bahkan di kota besar seperti Tokyo sekali pun Anda akan sangat mudah menemukan hutan yang terawat dengan berbagai faunanya serta aliran sungai jernih yang dipenuhi berbagai jenis ikan. Sehingga dengan demikian mengikuti teori ini, maka jelas bahwa meski ada tata nilai yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, namun secara bersamaan juga terdapat lapisan-lapisan lebih luar yang relatif mudah diamati dan divalidasi. Dan demikian juga halnya dengan ajaran agama yang dituliskan dalam kitab suci. Adakah kitab suci yang hanya menjabarkan masalah spiritual tanpa menyentuh hal-hal material? Adakah kitab suci yang tidak membahas masalah kehidupan? Bahkan yang lebih fundamental, banyak juga kitab suci yang bahkan membahas sesuatu yang bersinggungan dengan sains modern bukan? Seperti misalnya bentuk bumi, tata surya dan sejenisnya. Hal-hal yang bersinggungan seperti inilah yang seharusnya berani untuk dibuka untuk divalidasi.

 

“Tidak ada kitab suci yang jatuh dari langit”

Lalu buat apa sih memvalidasi suatu ajaran agama? Tidak ada kitab suci yang jatuh dari langit. Tidak ada sejarah Tuhan menuliskan kitab suci secara langsung dan secara terus menerus memvalidasinya sehingga menjamin apa yang ditulisNya pertama kali sampai apa yang diterima saat ini adalah sama persis. Jangankah ajaran agama yang telah diwahyukan ribuan tahun lalu, bahkan lembaran sejarah yang baru terjadi beberapa puluh tahun lalu saja sudah bisa diputar-balikkan, lalu bilamana Anda bisa yakin bahwa ajaran agama yang Anda ikuti adalah kebenaran mutlak padahal Anda sendiri keberatan untuk memvalidasinya?

Masyarakat yang lebih memilih menTuhankan agama akan cenderung lebih mudah terprovokasi dan diperalat. Masyarakat model tersebut cenderung dogmatis dan logika berpikirnya tidak jalan sebagaimana mestinya. Tidak peduli mereka punya gelar Professor atau PhD yang berderet. Karena gelar mereka hanya dipakai pada ranah di luar agama. Tapi saat masuk ke ranah agama, mereka sudah cenderung secara kaku menganggap bahwa itu adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh diganggu gugat. Lalu apa akibat selanjutnya? Agama merupakah media yang paling empuk untuk dijadikan sebagai mainan dalam kekuasaan dan juga mengejar kekayaan.

Lalu apa maksud dari artikel ini yang dimulai dengan penemuan ilmiah mengenai DNA orang Kanaan yang ternyata sama dengan bangsa Lebanon? Sejak jaman dahulu, kehidupan di Timur Tengah diwarnai dengan berbagai suku bangsa. Celakanya masing-masing bangsa itu tidak selalu hidup rukun bertetangga dan berbaur. Sering kali mereka berperang satu sama lain. Celakanya, untuk mengobarkan semangat peperangan di antara mereka, sikap permusuhan tersebut juga dimasukkan dalam kitab-kitab yang selanjutnya diyakini sebagai kitab suci. Ayat yang menyatakan perintah Tuhan untuk menghancurkan orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus adalah sedikit diantara banyak bukti bahwa unsur politik juga disusupkan dalam ajaran agama. Benih-benih permusuhan tersebut tetap terjaga sampai ratusan generasi juga karena upaya kristalisasi yang dimasukkan ke kitab suci. Perhatikan konflik Timur Tengah sekarang antara Yahudi, Palestina, Lebanon, Arab Saudi dan lain-lain. Konflik tersebut apakah benar karena konflik hanya karena keyakinan personal? Tidak, itu adalah pengejawantahan konflik kekuasaan antar leluhur mereka di masa lalu yang semakin diperkuat dengan adanya perebutan kekuasaan di masa sekarang ini.

Tidak hanya di Timur Tengah. Bau tidak sedap masuknya politik dalam ranah keyakinan juga sudah masuk di Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Jika Anda adalah pemerhati sejarah, maka tidak akan sulit bagi Anda untuk menemukan manuskrip-manuskrip yang juga dimuati unsur politis. Misalnya pengagungan seorang raja sebagai titisan Visnu. Kisah yang membenarkan penyerangan suatu sekte karena dianggap menjalankan ilmu hitam dan seterusnya.

Sayangnya manusia tidak pernah mau belajar mengenai politik agama seperti ini. Sehingga kejadian pemanfaatan agama untuk kepentingan kekuasaan dan kekayaan pribadi atau golongan tidak pernah disadari. Ambillah contoh konflik yang terjadi di Myanmar saat ini? Apakah itu adalah konflik agama Buddha dengan Islam Rohingnya? Tidak. Mungkin tidak ada yang tahu bahwa tidak semua orang Rohingnya adalah Islam. Sebagian dari mereka ada yang beragama Hindu dan bahkan juga Buddha. Lalu kenapa konflik terjadi? Karena Sebagian kecil para pemain politik Rohingnya menginginkan mendirikan negara sendiri yang terpisah dari Myanmar. Kejadian ini mungkin mirip seperti pada saat Gerakan Aceh Merdeka berperang melawan TNI di Aceh. Apakah itu artinya Negara ingin menghancurkan Islam? Negara tidak punya urusan dengan apa agama pemberontak tersebut. Yang menjadi urusan Negara hanya menjamin kedaulatan negaranya. Hanya saja celakanya, masyarakat kita yang sangat terdogmatis akan agama tidak menyadari bahwa diri mereka sudah dimanfaatkan oleh kelompok separatis yang secara cerdas menggoreng isu agama dalam upayanya mengejar kepentingan politiknya. Lebih parah lagi, masih ada para kaum politikus baik dari dalam dan luar negeri yang malah memanfaatkan kejadian ini untuk permainan politiknya sendiri.

Karena itu, pesan terakhir yang ingin penulis sampaikan hanya satu, “Berhati-hatilah dengan isu agama. Bisa jadi isu yang dilempar tersebut memiliki motif kekuasaan dan/atau ekonomi di baliknya.”

 

Let’s Think Smart.

%d bloggers like this: