Terdapat pernyataan yang menggelitik yang disampaikan oleh seorang pimpinan di Bali. Beliau mengatakan bahwa tidak penting apa agamanya, yang penting Ajeg Bali dengan melestarikan budaya Bali. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa sebisa mungkin semua bangunan keagamaan di Bali sebaiknya menggunakan arsitektur Bali sebagai bentuk Ajeg Bali. Karena alasan itulah beliau sangat mengapresiasi penggunaan pakaian adat Bali, seni arsitektur Bali dan termasuk banten dan tata upacara yang sangat mirip dengan Hindu Bali untuk pelaksanaan ibadah umat Kristiani. Pertanyaannya adalah, apakah penggunaan adat istiadat Bali dalam pelaksanaan keagamaan umat lain selain Hindu adalah bentuk Ajeg Bali?

Apa itu Agama?

Pada dasarnya agama merupakan istilah Sansekerta, yaitu dari urat kata “a” dan “gama”. “A” berarti tidak, dan “gama” berarti tidak langgeng atau pergi. Sehingga dengan demikian, istilah agama dalam bahasa aslinya berarti sesuatu yang kekal, bersifat tetap dan langgeng. Istilah agama juga selanjutnya disamakan dengan “Sanatana Dharma”. Sanatana juga berarti kekal dan Dharma berarti kewajiban. Sehingga istilah Agama dan Sanatana Dharma merujuk pada sesuatu yang merupakan kewajiban yang bersifat kekal, yaitu mengenai hakikat hubungan sang Jiwa dengan Tuhan yang bersifat kekal.

Dengan masuknya ajaran Kristen dan Islam, istilah tersebut selanjutnya disamakan dengan istilah religion. Menurut Oxford dictionary, religion berarti kepercayaan dan sesembahan pada pengontrol suatu kekuatan alam, yang selanjutnya disebut Tuhan. Istilah tersebut juga mengacu pada tata nilai serta sistem kepercayaan. Meski pada dasarnya mengarah pada makna yang berbeda, namun dalam hal ini mari kita sepakati bahwa istilah agama yang kita pakai pada saat ini merujuk pada masalah tata nilai yang dianut oleh seseorang yang secara khusus berkenaan dengan Sang Pencipta dan juga hal-hal lainnya yang terkait.

Definisi Budaya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), budaya adalah hasil pikiran/akal budi yang berkembang dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Sedangkan menurut Keesing, Budaya adalah sistem (dari pola-pola tingkah laku yang diturunkan secara sosial) yang bekerja menghubungkan komunitas manusia dengan lingkungan ekologi mereka. Dalam “cara-hidup-komunitas ini termasuk teknologi dan bentuk organisasi ekonomi, pola-pola menetap, bentuk pengelompokan sosial dan organisasi politik. Pearce dan Robinson sebagaimana mendefinisikan budaya sebagai sekumpulan asumsi penting (sering kali tidak diungkapkan) yang dianut oleh semua anggota organisasi tertentu. Sehingga dengan demikian, secara garis besar dapat dikatakan bahwa budaya adalah sesuatu yang dibentuk dalam suatu kelompok masyarakat atau organisasi dalam kurun waktu tertentu yang cenderung cukup lama dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diikuti oleh seluruh anggota masyarakat atau organisasi tersebut.

Keterkaitan Agama sebagai tata nilai, Budaya dan Masyarakat

Terdapat cukup banyak pakar ilmu sosial yang telah mengulas tuntas hubungan antara tata nilai, kehidupan masyarakat dan budaya yang tercipta dari interaksi tersebut. Beberapa pakar ilmu sosial yang cukup banyak membahas masalah budaya adalah Cooper, Lardner, Geller, Cheyne dan lain-lain. Meski memiliki objek bahasan yang berbeda, tetapi secara umum, para pakar tersebut sepakat bahwa pembahasan mengenai budaya dapat diumpamakan seperti mengupas bawang yang terlapisi dari berbagai lapisan kulit sebelum akhirnya dapat dipahami mengenai tata nilai yang mendasari keberadaan budaya tersebut.

Cooper melalui teorinya menjelaskan bahwa budaya pada dasarnya dapat digambarkan sebagai 3 buah lapisan, yaitu dari lapisan terluar yang merupakan lapisan yang paling terlihat yang dapat diamati secara langsung yang disebut artefak; lalu diikuti oleh lapisan di dalamnya lagi yang terdiri dari nilai-nilai pendukung yang terdiri dari suatu perangkat, sistem, masyarakat dan kebiasaannya; dan selanjutnya yang paling dalam sebagai sesuatu yang paling sulit diukur adalah asumsi dasar yang merupakan tata nilai yang terdiri dari unsur-unsur kepercayaan atau agama.

Jika kita melihat suatu kelompok masyarakat, ambillah contoh dalam hal ini masyarakat Bali, maka yang paling pertama yang dapat kita amati adalah bagian artefaknya. Orang asing yang pertama kali datang ke Bali akan melihat berbagai jenis pola seni kerajinan berupa ukiran, ritme gamelan, bangunan tempat sucinya dan sejenisnya. Bentuk-bentuk artefak yang dapat diamati langsung dengan pancaindra tersebutlah yang akan memberikan kesan pertama mengenai kebudayaan masyarakat Bali.

Namun untuk memahami kebudayaan secara lengkap, tidak cukup hanya dengan melihat artefak. Karena sejatinya artefak belum tentu menunjukkan keadaan sebenarnya dan cenderung menipu. Misalnya pada saat kita melihat gereja dengan arsitektur Bali, tata cara sembahyang Katolik yang didesain dengan Banten dan prosesi Hindu Bali, apakah hal tersebut mencerminkan budaya Bali yang sejati? Anda dapat saja berujar bahwa sebagian besar dari mereka adalah masyarakat Bali yang dulunya adalah Hindu sehingga mereka mengadopsi budaya asalnya dalam kegiatan keagamaan baru mereka. Ya itu memang benar, tetapi mari kita lihat kasus yang lebih ekstrem lagi. Saya bisa saja datang ke suatu acara keagamaan dengan menggunakan pakaian pastor misalnya, padahal sejatinya saya Hindu. Atau ada orang yang menampilkan dirinya seolah-olah orang yang sangat agamais dengan menggunakan kopiah, jilbab atau atribut keagamaan lainnya, padahal sejatinya dia adalah penjahat. Melalui atribut keagamaan tersebut, mereka ingin berkamuflase dengan mengesankan pada masyarakat bahwa mereka adalah orang baik, meskipun fakta kehidupan yang mereka lakukan sangat jauh dari ajaran agama. Dan celakanya, seperti itulah praktik umum yang banyak dilakoni orang saat ini. Lihatlah berapa banyak politikus memanfaatkan gelar haji dan pakaian gamis untuk mendulang jumlah suara dan berapa banyak mereka yang terjerat kasus korupsi tiba-tiba langsung berpakaian sangat agamais. Karena itulah, setelah mengenali artefak sebagai ciri-ciri yang tampak, maka kita perlu mendalami aspek nilai-nilai pendukung sebagai lapisan yang lebih dalam lagi, yaitu meliputi pola kebiasaan, norma-norma yang berlaku dan tatanan sosial yang dianutnya.

 

Memahami pola kebiasaan, norma dan tatanan sosial tidak dapat dilakukan hanya melalui kesan pertama seperti halnya melihat artefak. Seseorang perlu menyelami hal tersebut secara lebih mendalam melalui interaksi yang lebih intens. Beberapa bentuk lapisan kedua ini antara lain digambarkan dengan bagaimana sikap masyarakat menghadapi suatu peristiwa seperti kematian misalnya. Masyarakat Bali sejati, tentunya akan melihat kematian sebagai suatu siklus kehidupan untuk memulai kehidupan baru yang lain sehingga jangan heran jika kematian bisa jadi merupakan suatu harapan untuk bentuk kehidupan yang lebih baik yang ditunjukkan dalam bentuk doa-doa yang dipanjatkan dan disampaikan pada sanak keluarga yang ditinggalkannya. Tetapi hal tersebut akan tampak berbeda jika kematian dihadapkan pada masyarakat Bali bukan Hindu, seperti katakanlah yang menganut Kristen. Meski mereka yang Kristen menggunakan pakaian adat Bali, bersembahyang di gereja dengan arsitektur Bali dengan pola Banten seperti adat Bali, namun tidak mungkin akan memanjatkan doa-doa kematian yang menunjukkan bahwa kematian adalah siklus untuk mencapai kehidupan yang baru. Kenapa? Karena dasar tata nilai keyakinan yang berbeda. Umat Hindu dan umat Kristen memiliki tata nilai keyakinan yang berbeda mengenai keberadaan sang jiwa dan mengenai konsep reinkarnasi.

Tata nilai keyakinan yang terdiri dari nilai-nilai agama merupakan hal yang paling dasar yang merupakan inti yang membangun suatu budaya masyarakat. Pada dasarnya kepercayaan dan nilai-nilai keagamaan yang dianut seseorang sangat sulit diukur secara langsung. Sehingga hampir mustahil melakukan penilaian untuk membandingkan tingkat spiritualitas sekelompok orang. Karena yang dapat dinilai bukanlah nilai-nilai dasar, tetapi ciri-ciri yang ditunjukkan oleh artefak dan nilai-nilai pendukungnya. Misalnya pada saat kita mencoba menilai bilamana seseorang dikatakan seorang penganut Hindu yang taat, mungkin kita akan mengatakan bahwa jika orang tersebut senantiasa sembahyang 3 kali sehari, rajin ke tempat-tempat suci, senantiasa menggunakan pakaian lengkap dengan atribut kehinduannya, bertutur kaya sopan dan seterusnya. Namun apakah dengan mendapat penilaian sempurna saat dilakukan penilaian tersebut menjamin bahwa dia benar-benar lebih spiritualis dari pada seseorang yang tampak berpakaian bak preman, terlihat tidak pernah sembahyang dan bahkan hampir tidak pernah tirtayatra ke tempat-tempat suci? Bisa jadi orang kedua ini malah selalu mengucapkan nama suci Tuhan di dalam hatinya dan dia mengamalkan ajaran kehinduannya secara langsung dengan tidak merusak alam, tidak merugikan orang lain dan bahkan makhluk hidup lain serta rajin berderma meski tidak pernah diketahui orang.

Namun intinya dari penjabaran di atas, nilai-nilai keyakinan yang tertuang dalam bentuk agama yang dianutnya, (tetapi tidak terbatas pada agama yang tertera di KTP karena bisa jadi seseorang terpaksa menuliskan agama tertentu di KTP-nya padahal di dalam hati kecilnya memiliki keyakinan yang lain) merupakan hal yang paling mendasar yang menentukan nilai-nilai pendukung dan artefak yang akan ditunjukkannya.

Ajeg Bali dengan Mempertahankan Artefak Budaya Bali?

Orang lain dapat mengcopy artefak kebudayaan, seperti misalnya yang sudah disinggung di atas dengan menyontek habis-habisan bentuk arsitektur pura dijadikan arsitektur gereja, atau dengan penggunaan Banten dan tata cara persembahyangan Hindu ke dalam gereja, namun hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Hal tersebut hanya akan berlangsung dalam 1-2 generasi pertama dan selanjutnya akan memudar dan kembali menunjukkan artefak, sistem dan tata nilai pendukung yang sebenarnya sebagaimana yang didasari oleh keyakinannya. Sikap contek-mencontek seperti itu tidak akan pernah menguntungkan Ajeg Bali, teapi malah akan mengarahkannya pada kehancuran. Kenapa? Karena hal tersebut hanya akan dijadikan ajang promosi sementara agar masyarakat awam lebih mudah menggeser nilai tengah yaitu tata nilai pendukung dalam teori budaya Cooper dengan menyamakan bentuk artefaknya. Sedangkan nilai-nilai dasar pada dasarnya sulit diubah dengan cepat. Sehingga perubahan tersebut hanya akan dapat terjadi setelah generasi kedua dan seterusnya. Dan seiring dengan perubahan tata nilai dasar berupa kepercayaan yang terjadi, maka di saat itulah juga akan berpengaruh pada perubahan lapisan di luarnya yang merupakan nilai-nilai pendukung dan pada akhirnya akan mengubah artefak secara sempurna. Yang artinya, pada beberapa generasi berikutnya, bentuk artefak budaya Bali dalam rangka Ajeg Bali tidak akan digunakan lagi sebagaimana mestinya.

Sehingga dengan demikian jika ingin benar-benar Ajeg Bali dalam usaha mempertahankan bentuk budaya Bali, adalah dengan mengajegkan tata nilai dasar yang membangun kebudayaan Bali itu sendiri, yaitu tatanan keyakinan masyarakatnya yang memang dalam hal ini di dasarkan pada sistem filosofi Sanatana Dharma. Dengan ajegnya ajaran Dharma, maka dengan sendirinya nilai-nilai pendukung dan artefak budaya Bali juga akan tetap ajeg. Kalaupun ada sedikit perubahan, hal itu merupakan hal yang wajar karena memang pada dasarnya ajaran Veda sudah menyatakan bahwa terdapat perbedaan kewajiban dan bentuk praktik spiritual yang berlaku untuk masing-masing jaman. Jika pada Satya Yuga praktik ritual berupa meditasi yoga, maka pada Treta Yuga bergeser menjadi agni hotra dan bergeser lagi menjadi arca vigraha pada Dvapara Yuga. Sedangkan pada Kali Yuga menjadi Harinama Sankirtana yang berupa kidung-kidung pujaan sebagaimana disebutkan dalam Visnu-purana (6.2.17), Padma-purana Uttara-kanda (72.25) dan Brhan-naradiya-purana (38.97). Namun perubahan yang terjadi akibat perubahan jaman tidak akan mengubah artefak budaya secara signifikan sebagaimana halnya jika terjadi perubahan tata nilai dasar melalui konversi agama.

Karena itulah, saya pribadi tidak setuju jika Ajeg Bali disamakan dengan penggunaan artefak budaya Bali untuk praktik keagamaan lain. Ajeg Bali harus disamakan dengan Ajeg Sanatana Dharma, yaitu dengan menegakkan ajaran Dharma di dalam masyarakat Bali khususnya. Hanya dengan cara inilah Bali akan tetap ajeg dan dapat bertahan secara lebih lama.

%d bloggers like this: