Siapa yang tidak kenal Kanjeng Dimas? Kemajuan teknologi komunikasi menyebabkan Kanjeng Dimas, atau yang memiliki nama asli Taat Pribadi menjadi sangat terkenal ke seluruh antero Indonesia karena klaim kemampuannya berhubungan dengan dimensi lain, bersahabat dengan jin, menggandakan uang, dan tentu saja agamais. Dengan modal agama yang dihidangkan dengan lauk iming-iming kekayaan, telah sanggup menghipnotis begitu banyak orang untuk menjadi pengikutnya. Bukan hanya dari masyarakat miskin dan tidak berpendidikan, tetapi juga kaum terpelajar, pejabat dan bahkan dikabarkan bahwa beberapa perwira TNI dan Polisi juga banyak yang menjadi pengikutnya. Marwah Daud yang menyandang gelar Ph.D dalam bidang politik dan komunikasi dari Amerika Serikat pun didaulat menjadi ketua yayasan milik Kanjeng Dimas. Dari fakta ini, harus diakui bahwa Kanjeng Dimas bukan manusia biasa, dia adalah manusia hebat, setidaknya hebat dalam kemampuan meyakinkan orang.

Namun siapa sangka, kemajuan teknologi juga lah yang akhirnya membuka lebar semua aib dibalik tameng kerajaan pedepokan spiritual yang telah dibangun Kanjeng Dimas. Kasus demi kasus yang dilakukannya mulai terkuak. Dimulai dari kasus pembunuhan yang melibatkan para santrinya, praktik penipuan dengan kedok menggandakan uang serta logam mulia, dan sejenisnya. Meski pihak berwajib telah membuktikan semua tipuan dan kejahatan yang sang Guru lakukan, namun faktanya sampai saat ini tetap saja masih banyak orang yang percaya bahwa Kanjeng Dimas merupakan “Nabi” yang memiliki kedekatan dengan Sang Pencipta dan menjadi penyelamat bagi murid-muridnya. Andaikan Kanjeng Dimas lahir dan melakukan intriknya beberapa abad yang lalu saat teknologi tidak semaju sekarang, mungkin para pengikutnya sudah menuliskan kitab suci, mendeklarasikan suatu agama atau mengangkat Kanjeng Dimas sebagai orang suci yang sejajar dengan mereka yang disebut sebagai nabi. Sayangnya, dia lahir di waktu yang kurang tepat.

Faktanya, terdapat sangat banyak “Kanjeng Dimas” – “Kanjeng Dimas” yang lain di dunia ini. Bahkan kalau kita telisik satu demi satu, di Indonesia sendiri ada ratusan orang-orang seperti dia. Sehingga sudah selayaknya kita bercermin terhadap kasus ini. Ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dari sini.

Agama, Bahan Dagangan Sepanjang Masa

Secara garis besar, agama atau keyakinan merupakan sesuatu yang terletak di alam bawah sadar manusia. Ilmu psikologi mengatakan bahwa alam pikiran manusia berlapis-lapis seperti kulit bawang. Dari lapisan-lapisan bagian tersebut secara garis besar dapat dibedakan menjadi pikiran sadar dan bawah sadar. Ibarat gunung es, pikiran sadar manusia hanya sekitar 10% dari seluruh kesadaran yang ada. Sementara 90% lainnya adalah alam bawah sadar. Pikiran sadar memiliki 4 fungsi utama, yaitu mengenali informasi yang masuk dari panca indra,

membandingkan dengan memori kita, menganalisis, dan kemudian Memutuskan respons spesifik terhadap informasi tersebut. Sedangkan alam bawah sadar berfungsi lebih kompleks, yaitu antara lain dalam hal kebiasaan, perasaan, memori permanen (ingatan jangka panjang), persepsi, kepribadian, intuisi, kreativitas, dan keyakinan. Sebagai bagian dari alam bawah sadar, keyakinan memerlukan pembentukan yang sangat lama dan juga perlu waktu yang lama untuk dapat mengubahnya.

Setiap bayi yang baru lahir memang sudah membawa genetik, karakter dan tabiatnya masing-masing yang dalam filsafat Veda dikatakan sebagai buah dari karma wasana (Sancita Karmaphala) yang dia bawa dari kehidupan terdahulu. Namun demikian, faktor ini hanya sebagian yang sangat kecil dari proses pembentukan keyakinan. Sehingga dengan demikian ilmu psikologi modern akan mengatakan bayi yang baru lahir bagaikan kertas putih yang siap diprogram. Lalu bagaimana keyakinan bayi tersebut dibentuk? Keluarga adalah pihak yang paling berperan dalam doktrinasi keyakinan seorang bayi. Lalu berikutnya doktrinasi akan diberikan melalui pelajaran-pelajaran di sekolah. Keluarga dan juga sebagian peran lembaga pendidikan akan mendoktrin sang anak dengan asumsi yang dianggap benar dan salah. Kenapa disebut asumsi? Karena doktrinasi yang diberikan keluarga juga didasarkan pada keyakinan dengan bukti-bukti terbatas. Celakanya, pada saat masih kecil, alam pikiran sadar manusia belum terbentuk dengan baik. Namun seiring bertambahnya umur, alam sadar semakin mendominasi. Karena itulah doktrinasi keyakinan yang paling ampuh adalah pada saat seseorang masih di bawah umur 20 tahun dan akan semakin sukses seiring dengan semakin mudanya umur.

Pembentukan keyakinan juga dapat terjadi jika seseorang mengalami suatu kejadian. Kejadian tersebut diberi makna oleh alam pikiran, baik oleh pikiran sadar maupun bawah sadar. Makna akan memunculkan emosi yang sejalan dengan makna tersebut. Setelah emosi muncul, pikiran akan mencoba menguji kebenaran makna, pikiran akan mencari data-data pendukung terhadap makna yang telah di putuskannya, dan saat pikiran berhasil menemukan data-data pendukung, maka makna diterima sebagai sesuatu yang benar. Setelah pikiran menerima dan menyatakan “kebenaran” suatu makna, maka pikiran mulai menyesuaikan diri dan mengeras dalam jangka waktu lama menjadi suatu bentuk respons yang menjadi kebiasaan berpikir. Kemudian setelah itu barulah tercipta pola keyakinan yang mendukung mode berpikir yang pada akhirnya mempengaruhi pola pikir dan perilaku serta menentukan suatu proses atau hasil akhir.

Fakta bahwasanya keyakinan menduduki level yang paling dasar di alam bawah sadar menyebabkannya sangat sulit untuk diubah. Keyakinan seseorang hanya akan dapat diubah jika terjadi perbedaan logika antara alam bawah sadar dengan logika sadarnya. Dengan kata lain, kesadaran memiliki “logika”nya sendiri dan jika seseorang menyadari bahwa logika kesadarannya adalah keliru berdasarkan pada logika alam sadarnya, maka keyakinanya pun akan rontok. Kalau pun hal tersebut juga perlu waktu yang cukup lama.

Agama sebagai persepsi alam bawah sadar menjadi modal paling mudah dalam menggerakkan seseorang. Yang perlu dilakukan dalam menggerakkan seseorang adalah bertindak selaras dengan keyakinannya. Sehingga dengan demikian, bisnis apapun yang kita tawarkan, selama itu sejalan dengan keyakinan agamanya, maka bisnis itu akan laris.

Kekuasaan dan politik sangat suka dan terbukti sukses menggerakkan sisi agama seseorang. Coba perhatikan praktik yang dilakukan oleh organisasi teroris baik yang di Indonesia maupun di dunia global? Kenapa mereka bisa menggerakkan manusia untuk mau melakukan bom bunuh diri? Kenapa mereka berhasil menggiring banyak orang untuk berperang di bawah kendalinya? Padahal kalau ditelisik secara jujur, sang dalang dibalik semua itu pada dasarnya hanya menginginkan harta, takhta (baca: kekuasaan) dan wanita (baca: pemenuhan hasrat). Keyakinan dalam ajaran agama para pelaku teror menyatakan bahwa mati secara syahid melawan kafir sudah pasti akan mendapatkan ganjaran hidup nyaman dan kekal di surga dengan 72 bidadarinya yang selalu perawan. Terlepas dari salah-benarnya atau mungkin kekeliruan tafsir atas ajaran tersebut, sampai kapan pun kehidupan surga dan keberadaan bidadarinya tidak akan dapat dibuktikan. Sehingga hal itu akan tetap hanya menjadi misteri yang hanya bisa diyakini. Misteri kehidupan setelah kematian hanya akan naik dari sekedar keyakinan menjadi logika sadar jika suatu saat manusia bisa menemukan surga secara ilmiah, atau orang tersebut dengan pikiran sadarnya belajar ajaran yang lain dan akhirnya terjadi perbedaan logika sebagaimana disampaikan di atas.

Dagang agama untuk mendapatkan harta, takhta dan wanita terbukti sukses dalam banyak kasus. Dimas Kanjeng sukses menjadikan dirinya kaya raya dan dijunjung oleh banyak orang hanya dengan modal klaim wahyu dari Sang Pencipta dan diberi kekuasaan dalam menggandakan uang. Para penjajah melalui para misionarisnya sukses menjadikan masyarakat jajahannya yang awalnya adalah lawan akhirnya menjadi kawan sehingga mengurangi pergolakan perselisihan setelah antara penjajah dan terjajah berhasil mencapai titik temu, yaitu sama-sama menganut agama yang sama. Para artis berkedok “orang suci” sukses menghipnotis masyarakat melalui petuah-petuah agamanya, padahal di sisi lain orang tersebut pada dasarnya hanya mengejar harta dan tidak benar-benar berlaku suci. Dan sayangnya, banyak juga para oknum tokoh agama yang memanfaatkan agama untuk mencapai kepentingan pribadinya.

Kekuasaan, politik dan agama juga memiliki kaitan erat. Pada jangka panjang, selama masyarakat masih mengedepankan kepercayaan dan memiliki logika berpikir sadar terbatas, maka selama itu pula partai politik yang berbasis agama tidak akan pernah kehilangan pengikut. Bahkan partai politik seperti itu perlahan tapi pasti akan semakin memiliki banyak pengikut. Di Indonesia, sebenarnya ada partai politik yang sudah semakin sukses melakukan praktik ini. Partai politik tersebut menanamkan doktrinasinya pada calon pengikutnya sejak dini. Para kadernya diajarkan untuk mendoktrinasi anak-anaknya melalui berbagai macam kegiatan keagamaan. Di dunia pendidikan mereka masuk dan mendoktrinasi anak didik yang ada. Sehingga pada akhirnya meski terkesan lambat, namun sudah pasti doktrinasi tersebut akan semakin terbentuk. Partai politik yang membangun ideologinya dengan basis agama pada akhirnya akan menjadi sangat besar dan memiliki kader yang lebih loyal di kemudian hari. Apapun yang terjadi pada pimpinannya, meski pimpinannya pada dasarnya hanya memanfaatkannya sebagai kendaraan politik demi harta dan takhta, namun karena pengikutnya telah terdoktrin di alam bawah sadarnya, maka tetap saja mereka akan mendapat dukungan. Sehingga dengan demikian, pendekatan agama, pada dasarnya adalah pendekatan alamiah dan sudah pasti akan selalu laku dalam upaya perebutan harta, takhta dan wanita. Karena itu, waspadalah sehingga kita bisa membedakan mana orang yang mengajarkan agama secara sejati dan mana yang hanya menjadikannya sebagai kendaraan.

Bangun Kepercayaan Dengan Logika

Kitab suci Veda sendiri mengatakan “Meski 1000 Veda mengatakan bahwa api itu dingin, maka janganlah kau percayai”. Ungkapan metafora ini pada dasarnya merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh manuskrip tertua di dunia ini kepada seluruh umat manusia. Veda tidak ingin pengikutnya terdoktrin sehingga selalu menganggap bahwa apa yang dia baca dalam Veda sebagai kebenaran mutlak yang dapat diikuti secara membabi buta. Namun hendaknyalah pengikut Veda harus mengedepankan logikanya dan menguji setiap pernyataan yang Veda sampaikan.

Kenapa Veda harus diuji? Pada dasarnya tidak ada kitab suci yang jatuh dari langit. Tidak ada kitab suci yang langsung ditulis oleh Tuhan dan diserahkan kepada umat manusia. Semua kitab suci ditulis oleh seseorang berdasarkan klaim wahyu yang diterima dari para orang suci atau nabinya. Kitab suci Hindu, Veda dikodifikasi oleh Maha Rsi Vyasa dan bagian-bagiannya ditulis oleh banyak Rsi yang lainnya. Kitab suci Agama Buddha, Tipitaka yang juga terdiri dari banyak ajaran yang dihasilkan dari sidang agung dari sekitar 500 pengikut Sang Buddha Gautama setelah Sang Buddha wafat. Kitab suci Kristen, Al-Kitab juga terdiri dari banyak kitab yang dikumpulkan berdasarkan tulisan dari orang-orang berbeda dan bahkan dengan jaman yang berbeda. Perjanjian lama bahkan dikatakan saling tumpang tindih dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab Yudaisme / Yahudi. Sedangkan bagian kedua Al-Kitab, Perjanjian Baru diyakini ditulis oleh para murid-murid Yesus. Kitab suci Islam, Al-Qur’an juga demikian. Ada versi yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an disusun pada masa Khulafaur Rasyidin hingga khalifah Utsman bin Affan. Sedangkan sumber yang lain menyebutkan bahwa terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menulis Al Qur’an sejak Nabi Muhammad masih hidup, yaitu Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab.

Kitab-kitab suci agama di dunia ditulis dalam berbagai media, ada yang di batu, kulit kayu, daun lontar, kulit binatang dan bahkan tulang. Faktanya, hanya sedikit dari media-media penulisan tersebut masih tetap utuh sampai saat ini. Kebanyakan dari media penulisannya telah mengalami reproduksi puluhan dan bahkan mungkin ratusan kali sejak penulisan pertama. Sehingga dengan demikian, perubahan dialek, perubahan tata bahasa dan perubahan budaya dapat menyebabkan pergeseran makna dalam proses penyaduran. Proses penyaduran yang dilakukan secara manual juga sangat potensial mengalami kesalahan akibat keterbatasan sang manusia itu sendiri. Potensi kesalahan tersebut akan semakin besar jika sang penyadur memiliki motif-motif pribadi dalam proses penyaduran. Apa lagi pada masa kerajaan, dimana raja memiliki kekuasaan yang absolut, maka potensi tersebut akan menjadi semakin besar. Sang raja dapat saja memerintahkan juru tulisnya untuk membuat saduran sesuai dengan arah kebijakan kekuasaannya. Atau malah sang juru tulis sengaja menyadur agar dapat menyenangkan hati sang raja dengan menghilangkan atau memodifikasi hal-hal yang dianggap membuat sang raja tidak berkenan. Peran aktif dari sang raja dalam hal keyakinan umum dapat kita jumpai seperti misalnya dalam sejarah transisi agama di Nusantara. Pada masa perubahan Mataram Hindu menjadi Mataram Islam, sultan Agung berusaha melakukan banyak penggubahan, mulai dari kitab-kitab yang mengatur masalah penanggalan, sampai dengan kitab-kitab lainnya sehingga hal tersebut dapat mempermulus perubahan sosial religius masyarakatnya dari penganut Hindu menjadi Islam.

Dengan fakta bahwasanya tidak ada satu pun kitab suci yang jatuh dari langit dan dalam perjalanan waktu yang sangat panjang juga terdapat potensi penyimpangan di mana-mana, lalu bagaimana cara kita meyakini suatu ajaran agama? Semua manusia dilengkapi dengan logika berpikir, dan hanya pikiran logis lah yang dapat menyelamatkan umat manusia dari keyakinan yang membabibuta. Namun dalam hal ini saya tidak mengatakan bahwa semua ajaran agama harus dilogikakan. Kembali sebagaimana karakter dari alam pikiran yang dibagi dalam tataran pikiran sadar yang logis dan tataran bawah sadar yang sebagian terdiri dari keyakinan, maka tidak semua ajaran agama juga dapat dilogikakan. Tetapi, meskipun tidak semua dapat dilogikakan, bukankah ada sebagian diantaranya yang dapat dilogikakan? Pada sisi-sisi inilah sebaiknya kita bertindak secara smart dan kritis. Jika kita menemukan suatu ajaran yang melarang pengikutnya mempertanyakan atau menguji ajaran tersebut, maka saya pribadi menganjurkan untuk segera meninggalkannya karena dapat saja itu hanya sebuah dogma yang hanya berujung pada doktrinasi.

Menguji Kebenaran Agama

Agama bukan sains sehingga pada dasarnya tidak dapat diuji dengan mengikuti metode ilmiah. Andai agama dapat diuji secara ilmiah, maka agama sudah menjadi sejajara dengan ilmu pengetahuan modern lainnya. Terlepas dari ajaran agama itu merupakan wahyu sejati dari Tuhan atau bukan, namun pada dasarnya ajaran agama tersusun atas gagasan-gagasan atau ide-ide tertentu. Gagasan-gagasan inilah yang pada akhirnya dapat dikategorikan menjadi kelompok gagasan yang dapat diuji dan kelompok gagasan yang imposible untuk diuji. Sebagai mahluk berpikir, maka seyogyanya lah kita meletakkan nalar pikiran kita di depan keyakinan semata untuk kelompok gagasan-gagasan yang dapat diuji.

Bagi anda penganut Veda, jangan pernah takut menguji ajaran agama anda, karena Veda tidak mengenal istilah penistaan agama akibat berani mempertanyakan kebenaran ajarannya. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, Veda memang harus diuji sebagaimana penyataan Veda itu sendiri, yaitu melalui pratyaksa pranama (persepsi langsung dari indria-indria), sabda pramana (pernyataan yang disampaikan dalam kitab suci), dan anumana (kebenaran yang diperoleh secara analisis dan penyimpulan tidak langsung). Disamping itu, Veda juga mengatakan bahwa terdapat 3 pondasi dalam uji validasi ajaran spiritual, yaitu melalui Sastra, Sadhu dan Guru. Sastra mengacu pada kitab suci atau kelompok sastra suci. Sadhu adalah sebutan untuk para orang suci yang merupakan penekun spiritualitas. Dan Guru merupakan para pimpinan spiritual yang aktif mengajarkan ajaran keagamaan. Dalam tradisi Veda dikenal istilah Guru Parampara atau garis perguruan, dimana setiap orang yang ingin menekuni ajaran spiritual keagamaan harus belajar dari guru dimana guru tersebut juga berguru pada guru sebelumnya sehingga merupakan rantai perguruan yang tidak terputus. Lalu bagaimana validasi dilakukan? Karena ketiga unsur ini juga mungkin tidak lepas dari kesalahan, maka satu dengan yang lainnya juga harus saling memvalidasi. Apa yang ditulis di kitab suci, harus sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para Sadhu dan Guru. Apa yang diajarkan oleh Guru juga harus sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab suci dan yang disampaikan para Sadhu. Dan demikian juga apa yang disampaikan oleh para Sadhu juga harus sesuai dengan ajaran sang Guru dan suratan kitab suci. Jika salah satunya tidak sinergi, maka patut dicurigai ada yang salah dengan ajaran tersbeut sehingga tidak perlu diikuti dan ditelan mentah-mentah.

 

Kali Yuga, Jaman Kemerosotan

Banyak sloka-sloka dalam sastra Veda membahas mengenai kondisi mengerikan jaman Kali. Jyotisastra membahas bahwa sejak sekitar 5000 tahun lalu kita sudah memasuki siklus Yuga keempat, yaitu Jaman Kali yang akan berlangsung selama 430.000 tahun. Kali yuga dikatakan sebagai senjakala-nya alam semesta sebelum akhirnya akan masuk ke “malam yang gelap”. Pada Kali yuga dikatakan bahwa ajaran dharma atau unsur kebaikan sudah sedemikian rapuh. Ibarat sapi yang normalnya memiliki 4 kali, pada Kali Yuga sapi tersebut dipaksa untuk berdiri hanya dengan 1 kaki. Umur manusia juga dikatakan mengalami kemerosotan yang awalnya pada Satya Yuga bisa mencapai 1000 tahun, maka pada masa Kali Yuga hanya sekitar 100 tahun. Bahkan dikatakan pada akhir Kali Yuga nanti, umur manusia bahkan maksimal hanya sampai 10 tahun.

Dari sisi ajaran agama, masa Kali Yuga juga dikatakan sangat merosot. Lebih dari ¾ umat manusia akan terjerumus dalam ajaran Adharma. Meski tampilan luar tampak agamis, namun tampang agamis tersebut hanya dijadikan sebagai kedok dalam pemenuhan hasrat birahinya semata. Banyak ajaran-ajaran agama yang diputarbalikkan, banyak yang disimpangkan dan lebih banyak lagi manusia yang sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap spiritual. Inilah jaman di mana banyak muncul agama hanya akan diarahkan pada destruksi atau penghancuran. Agama bukan lagi menjadi media pencarian spiritual, tetapi lebih pada identitas diri untuk mengotak-kotakkan diri dalam suatu kelompok yang memecah belah. Dan mungkin, akhir jaman saat pergantian Kali Yuga kembali ke Satya Yuga akan dipicu oleh perang berkedok agama.

Pembagian jaman dalam Yuga sebagaimana paragraf di atas, memang bukan kebenaran ilmiah, tetapi keyakinan yang disampaikan dalam kitab suci Veda. Namun demikian, inti yang ingin saya sampaikan pada akhir dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi isu-isu agama yang sering kali muncul akhir-akhir ini. Mari berhati-hati karena agama sebagai sebuah keyakinan yang terletak di alam bawah sadar sangat mudah digunakan untuk menghasut. Mari kedepankan logika untuk setiap isu yang muncul agar kita tidak mudah terjebak pada perangkap yang sengaja dibuat oleh oknum-oknum tertentu yang sengaja memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi yang berujung pada harta, takhta dan wanita semata.

 

Hari Om….

%d bloggers like this: