Murid: Orang yang menekuni kegiatan spiritual disebut yogi. Lalu orang yang hanya sibuk dalam urusan material agar hidup lebih enak dan lebih nyaman melalui pemuasan indriya jasmani secara lebih mewah disebut apa?

Guru: Dia disebut bhogi, penikmat. Oleh karena tujuannya memperoleh gelar akademik adalah supaya bisa hidup lebih baik, lebih nyaman dan lebih mewah, maka praktis mereka yang disebut sarjana duniawi tergolong bhogi.

Murid: Tujuan material agar hidup lebih enak, lebih nyaman dan lebih mewah tanpa disadari menyebabkan tabiat serakah dan watak-watak asurik (jahat) lainnya tumbuh subur dalam pikiran.

Guru: Ya, demikianlah. Keserakahan sesungguhnya akar masalah kesengsaraan yang menimpa masyarakat dewasa ini. Oleh karena sesungguhnya tergolong bhogi bertabiat serakah, maka semakin banyak jiva berjasmani sarjana duniawi gentayangan di masyarakat, kehidupan rakyat bukan semakin damai, makmur dan sejahtera, tetapi semakin tidak damai, tidak makmur dan tidak sejahtera.

Murid: Saya pernah mendengar bahwa jika seseorang hanya sibuk dalam kegiatan-kegiatan material memuaskan indriya jasmani agar hidup bahagia di dunia fana, dia dikatakan tidak berbeda dari hewan. Mengapa dikatakan begitu?

Guru: Sebab dia hanya sibuk dalam kegiatan-kegiatan hewani yaitu makan, tidur,  berketurunan dan bertahan diri. Semua kegiatan material ini secara alamiah dapat dilakukan oleh binatang yang tidak pernah bersekolah. Karena itu dikatakan, “ Ahara nidra-bhaya maithunam ca etat pasubhir naranam, jika seseorang hanya sibuk dengan kegiatan makan, tidur, bertahan diri dan berketurunan, maka dia tidak berbeda dari hewan” (Hitopadesa 25).

Murid: Tetapi bukankah setiap orang ingin agar bisa makan lebih enak, tidur lebih nyenyak, berhubungan badan (sex) lebih nikmat dan bertahan diri secara lebih canggih?

Guru: Hanya mereka yang bertabiat materialistik memiliki keinginan-keinginan demikian. Mereka tidak sadar bahwa dengan berkeinginan seperti itu,  dirinya menjadi krpana, manusia malang. Sebab, dengan sibuk dalam keempat kegiatan hewani ini, indriya-indriya jasmaninya menjadi semakin tidak terkendali, dan pada akhirnya membuat dirinya sengsara saja.

Murid: Menurut anda, kegiatan-kegiatan apa saja yang bisa membedakan manusia dari binatang?

Guru: Hanya ada satu kegiatan yaitu kegiatan spiritual keinsyafan diri dengan mempelajari kitab suci Veda dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari dibawah bimbingan guru kerohanian (acarya). Cuma itu! Karena itu dikatakan, “Dharmena hinah pasubhih samanah, jika seseorang tidak menuruti ajaran dharma (kitab suci Veda), maka dia sama saja dengan binatang” (Hitopadesa 25). Lebih lanjut dikatakan, “Purusasya atma darsanam, tujuan hidup sang manusia adalah menginsyafi diri sebagai atma atau jiva spiritual nan abadi (Bhag. 3. 26. 2). Dan menginsyafi diri ini hanya bisa dilakukan dengan mempelajari Veda dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Murid: Kalau boleh saya simpulkan, sang jiva berjasmani manusia hanya punya dua pilihan jalan kehidupan yaitu: a. Jalan kehidupan material, atau b. Jalan kehidupan spiritual. Jika dia cukup cerdas, maka dia menempuh jalan kehidupan spiritual dengan mengendalikan indriya-indriya badan jasmaninya. Tetapi jika dia bertindak bodoh karena amat kuat dikhayalkan oleh maya (tenaga material Tuhan Sri Krishna), maka dia menempuh jalan kehidupan material dengan bekerja keras memuaskan indriya-indriya jasmani. Betulkah kesimpulan saya ini?

Guru: Betul sekali. Dan Veda memang menyediakan dua jalan kehidupan yang harus ditempuh oleh para jiva berjasmani manusia yaitu: a. Nivrtti-marga, jalan kehidupan spiritual bagi mereka yang berwatak surik (daivi-sampad), dan b. Pravrtti-marga, jalan kehidupan material bagi mereka yang berwatak asurik (asuri-sampad).

Tetapi sayang, akibat pengaruh buruk Kali-Yuga, jalan kehidupan material (pravrtti-marga) yang dimaksudkan untuk secara berangsur-angsur mengangkat sang jiva ke tingkatan spiritual dengan menuruti berbagai macam tapa dan vrata, tidak diperdulikan oleh kebanyakan orang jaman sekarang, apalagi jalan kehidupan spiritual (nivrtti-marga).

Murid: Kali-Yuga yang kini sedang berlangsung sungguh menyesatkan para jiva berjasmani manusia dengan berbagai macam pengaruh buruknya. Akibatnya, manusia amat sulit maju dalam jalan kehidupan spiritual (nivrtti-marga). Adakah cara praktis dan mudah tetapi manjur yang diberikan oleh kitab suci Veda agar para jiva berjasmani manusia Kali-Yuga bisa maju dalam jalan spiritual keinsyafan diri?

Guru: Ada, dan cara yang diberikan oleh Veda adalah sankirtana-yajna. Hal ini telah kita bahas sebelumnya. dikatakan, “Kaler dosa nidhe rajan asti hy eko mahan gunah kirtanan eva krsnasya mukta sangah param vrajet, O sang Raja, meskipun Kali-Yuga penuh dengan kegiatan berdosa, tetapi jaman Kali ini membawa satu keberuntungan besar yaitu hanya dengan mengucapkan  nama-nama suci Tuhan Krishna, seseorang dapat bebas dari derita kehidupan dunia fana dan dituntun menuju dunia rohani” (Bhag. 12. 3. 51). Ada banyak sloka Veda yang mengatakan bahwa sankirtana-yajna adalah praktek spiritual paling sah, paling manjur dan paling mujarab pada jaman Kali sekarang.

Murid: Dapatkah anda mengutipkan beberapa sloka lain?

Guru: Dalam Kali-santarana Upanisad dikatakan, “Hare Krsna Hare Krsna, Krsna Krsna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare, iti sodasakan nam nam kali kalmasa nasanam, maha-mantra Hare Krsna yang terdiri dari 16 nama suci Tuhan ini secara pasti meniadakan segala pengaruh buruk Kali-Yuga.

Dalam Brhan-Naradiya-Purana (38. 126) dikatakan, “Harer nama harer nama harer nama iva kevalam kalau nasty eva nasty eva nasty eva gatir anyata, pada jaman Kali tidak ada cara lain, tidak ada cara lain, tidak ada cara lain untuk maju dalam jalan kehidupan spiritual selain dari pada mengumandangkan nama suci, nama suci, nama suci Tuhan Hari”.

Praktek sankirtana  yajna untuk jaman Kali sekarang tercantum pula dalam Bhagavata-Purana 12. 3. 52, Visnu-Purana 6. 2. 17, Padma-Purana Uttara-Kanda 72.35, Brhan-Naradiya-Purana 38.97 dan Bhagavad-gita 9.14.

Murid: Meskipun Veda telah memberikan petunjuk amat jelas agar para jiva berjasmani manusia melaksanakan sankirtana-yajna pada jaman Kali sekarang, tetapi kebanyakan dari mereka tidak perduli. Lalu bagaimana nasib mereka ini?

Guru: Nasib mereka sungguh malang. Dikatakan, “Ara kali hata janah, mereka menjadi korban keburukan-keburukan Kali-Yuga” (CC Madhya-Lila 11.99). Jika sang jiva sudah menjadi korban keburukan Kali-Yuga,  itu berarti ia pasti terseret kedalam lingkaran samsara yang lebih dalam.

Murid: Terimakasih atas semua penjelasan anda tentang jiva, makhluk hidup, diri sejati setiap orang.

Guru: Semoga jawaban-jawaban yang saya berikan bermanfaat. Haribol!

Oleh: Ngurah Heka Wikana

%d bloggers like this: