Murid: Bebas dari maya atau khayalan berarti seseorang menyadari dan menginsyafi bahwa dirinya bukan badan jasmani tetapi jiva nan abadi. Bukankah anda juga mengajarkan demikian?

Guru: Betul, tetapi saya tidak mengajarkan bahwa makhluk hidup (jiva) identik atau sama dengan Tuhan (Brahman).  Makhluk hidup tetap makhluk hidup, dan Tuhan tetap Tuhan.

Murid: Bukankah di dalam Veda Tuhan dan makhluk sama-sama disebut atma, Brahman, isvara dan purusa? Bukankah ini menunjukkan bahwa makhluk hidup (jiva) identik dengan Tuhan (Brahman)?

Guru: Saya memahami ajaran Veda berdasarkan filsafat acintya bheda-bheda tattva, Tuhan dan makhluk hidup secara tak terpikirkan sama dan berbeda pada saat yang sama. Artinya begini, Tuhan dan makhluk hidup keduanya disebut atma, Brahman, purusa atau isvara karena sama yakni sama-sama berhakekeat spiritual-kekal. Tetapi pada saat yang sama, oleh karena Tuhan berpotensi tak terbatas dan mengendalikan sang makhluk hidup yang berpotensi kecil dan terbatas,  sebagai pengendali maka Tuhan disebut Paramatma (makhluk hidup paling utama), Paramesvara (Pengendali paling utama), Parambrahman (Makhluk hidup paling utama), dan Purusottama (Kepribadian paling utama). Demikian Veda menjelaskan. Apakah anda menolak penjelasan Veda ini?

Murid: Terus terang, semua penjelasan anda tentang sang jiva kepada saya benar-benar merupakan pengetahuan spiritual baru bagi diri saya. Dapatkah anda menjelaskan lebih lanjut tentang kekeliruan filsafat monistik ini?

Guru: Jika sang makhluk hidup (jiva) dianggap sama dengan Tuhan (Brahman berwujud spiritual yaitu Bhagavan) Dalam segala hal dan aspek, maka praktis satu Tuhan sebagai pengendali tertinggi dianggap tidak ada. Terus, tidak perlu ada kitab suci (Veda) sebagai penuntun kehidupan, sebab setiap orang dianggap Tuhan yang maha mengetahui. Hukum karma-phala tidak berlaku, sebab setiap orang adalah Tuhan yang tidak tunduk pada hukum kehidupan ini. Selanjutnya, jika filsafat monistik ini sungguh-sungguh dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat pasti kacau, sebab setiap oang menganggap dirinya Tuhan yang menguasai dan mengendalikan alam fana.

Murid: Saya sering merenung begini, “Jika saya adalah Tuhan yang maha kuasa, mengapa saya sering binggung, tertimpa banyak masalah dan hidup melarat? Dalam keadaan tidak berdaya, kepada siapa saya harus berdoa minta pertolongan?”, Apakah keraguan seperti ini menunjukan bahwa filsafat monistik advaita-vada (non dualistic) yang saya tekuni selama ini adalah ajaran palsu?

Guru: Ya! Veda mengatakan bahwa nama lain filsafat ini adalah vivarta-vada atau mayavada. Dikatakan, “Mayavadam asac chastram, filsafat mayavada ini adalah ajaran kerohanian palsu” (Padma-Purana Uttara-Kanda 25. 7).

Murid: Kembali pada topic kita tentang jiva. Anda telah menjelaskan bahwa sang jiva mampu melepaskan diri dari cengkraman maya dan mencapai mukti, jika ia secara tekun dan tulus melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan Krishna. Tetapi mengapa kebanyakan jiva berjasmani manusia tidak mau menekuni jalan spiritual bhakti-yoga ini?

Guru: Tuhan Krishna berkata, “Bhogaisvarya prasaktanam tayapahrta-cetasam vyavasayatmika buddhih samadhau na vidhiyate, orang yang pikirannya amat melekat pada kenikmatan indriya jasmani dan kekayaan material dan dibingungkan oleh hal-hal ini, tidak mau secara tulus melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan” (Bg. 2. 44). Sebab kedua adalah kebanyakan atau hampir semua orang yang mengaku menganut ajaran Veda, telah dijangkiti filsafat mayavada sehingga mereka lebih senang berdiskusi berdasarkan angan-angan pikiran tentang Brahman impersonal yaitu Tuhan yang tak berwujud, bersifat dan berciri apapun.

Murid: Mohon dijelaskan secara singkat bagaimana perbedaan kehidupan sang jiva ketika masih tinggal di alam material dan setelah mencapai mukti dengan tinggal di alam spiritual?

Guru: Selama tinggal di alam material, sang jiva berkegiatan dengan badan material. Ia hanyut dalam gelombang suka-duka kehidupan material dunia fana. Setelah mencapai mukti dan tinggal di alam spiritual Vaikuntha-Loka, sang jiva berkegiatan dengan badan spiritualnya yang asli-sejati dalam kebahagiaan pelayan kepada Tuhan Krishna berdasarkan cinta-kasih (bhakti) timbal balik denganNya.

Murid: Karena selama hidupnya di dunia fana hanya sibuk dalam kegiatan material memuaskan indriya jasmani, maka setelah ajal sang jiva harus ber-punarbhava, lahir lagi di alam fana dengan menghuni badan jasmani baru tertentu. Bagaimanakah proses sang jiva memperoleh badan jasmani baru?

Guru: Segala kegiatan (karma) yang dilakukan sang jiva selama hidupnya terekam dalam pikiran (manah) yang merupakan salah satu unsur badan material halusnya. Pada saat ajal, kegiatan (karma) yang paling sering dilakukan  dan paling disukai, menentukan suasana pikiran (mentalitas) nya. Dan berdasarkan macam mentalitas ini sang jiva mengembangkan jenis badan baru  tertentu dalam pikirannya. Kemudian, atas pengaturan para deva pengendali urusan material dunia fana, sang jiva yang hanya berjasmani halus (tersusun dari ego, kecerdasan dan pikiran), dimasukkan kedalam rahim ibu yang cocok dengan mentalitasnya itu. Begitulah, di dalam rahim si ibu ia berkembang menjadi janin dan kemudian lahir dengan badan material baru.

Murid: Dapatkah anda menjelaskan secara lebih rinci tentang proses perpindahan sang jiva dari badan jasmani lama ke badan jasmani baru tertentu?

Guru: Jenis perbuatan (karma) menentukan macam mentalitas. Jika selama hidupnya sang jiva hanya sibuk dengan kegiatan memuaskan lidah dan perut dengan makan dan minum sepuas-puasnya dan tidur lelap, itu berarti dia telah mengembangkan mentalitas babi dalam pikirannya. Sesuai dengan mentalitasnya itu, dengan hanya mengenakan badan material halus, sang jiva dimasukkan kedalam rahim babi betina melalui sperma babi jantan, dan kemudian dia lahir sebagai babi. Karena itu, badan jasmani ini disebut karma-cittah, perwujudan reaksi (phala) kegiatan (karma) yang dilakukan dengan badan jasmani lama. Sedangkan pikiran sang jiva berjasmani manusia dikatakan, “Manah karma-mayam nrnam, pikiran sang manusia berbentuk sesuai dengan macam karma yang dilakukan dengan badan jasmani lama (perhatikan Bhag. 11. 22. 37).

Murid: Lalu bagaimana tentang hukuman siksa di neraka yang harus dijalani oleh sang jiva berjasmani manusia berdosa?

Guru: Siksaan di neraka pasti dijalani oleh sang jiva berdosa yang harus merosot dalam penjelmaan berikutnya dengan mendapatkan badan jasmani yang tingkatannya lebih rendah. Kembali pada contoh diatas. Karena tidak sadar dirinya mengembangkan mentalitas babi dalam pikirannya, sebelumnya dimasukkan ke dalam rahim babi betina, sang jiva terlebih dahulu “dilatih” di neraka oleh deva Yama supaya terbiasa hidup sebagai babi. Dan “latihan” kejam amat menyakitkan dan menyengsarakan ini disebut siksaan neraka.

Begitulah disana sang jiva (yang hanya berbadan halus) dipaksa berendam di Lumpur, tidur di tempat kotor penuh tinja berbau busuk, makan sisa-sisa makanan yang sudah basi, minum air kotor dan amis, dimasukkan kedalam keranjang lonjong nan sempit dan dibuat berguling-guling, dipukul berulang-kali dengan tongkat, dsb. Setelah “ latihan “ kejam ini dianggap cukup, maka sang jiva yang bermentalitas babi ini dimasukkan kedalam rahim babi betina dan kemudian lahir sebagai babi. Setelah dewasa, si babi di jual kepada sang jagal dan disembelih  menjadi lawar. Dahulu ketika berjasmani manusia, ia (sang jiva) senang sekali makan lawar. Dan kini tiba gilirannya dijadikan lawar. Inilah karma phala, hukum sebab-akibat  yang tak bisa digagalkan.

Murid: Tetapi pada jaman yang disebut modern sekarang, kebanyakan orang tidak lagi perduli pada hukum karma-phala ini. Mereka sibuk melakukan bermacam-macam himsa-karma dengan menyembelih jutaan hewan setiap hari demi kenikmatan lidah sesaat. Mengapa mereka tak takut pada akibatnya yang sungguh mengerikan seperti itu?

Guru: Saya hanya bisa berkata bahwa fenomena kejam ini adalah bagian dari ciri-ciri buruk Kali-Yuga yang kini sedang berlangsung. Oleh karena sifat alam tamas (kegelapan) begitu tebal menyelimuti kesadaran penduduk Bumi, maka mereka malahan bersuka-ria membunuh hewan-hewan malang ini. Dikatakan bahwa Kali-Yuga dimulai kira-kira 5.000 tahun yang lalu setelah Sri Bhagavan. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krishna kembali ke tempat tinggalNya Goloka-dhama di langit rohani. Begitu Kali-Yuga menyelimuti Bumi, maka papeyad ramate janah, manusia mulai bersuka-ria dalam bermacam-macam kegiatan berdosa (Bhag. 12. 2. 29).

Murid: Fakta yang saya lihat adalah karena kebanyakan sarjana duniawi dengan bermacam-macam gelar akademik dan dihormati sebagai orang-orang yang sungguh berpengetahuan, menyatakan bahwa tidak ada jiva spiritual-abadi yang menghidupkan badan jasmani, maka rakyat merasa tidak berdosa membunuh dan makan binatang. Bukankah begitu?

Guru: Mereka yang disebut sarjana dengan bermacam-macam gelar akademik, sesungguhnya bukan orang-orang berpengetahuan. Orang yang sungguh berpengetahuan adalah orang yang insyaf diri. Dia sadar betul pada perbedaan antara badan jasmani yang material dan sementara dengan sang jiva yang spiritual-abadi. Dialah orang yang berpengetahuan. Oleh karena kesadarannya digelapkan oleh maya dengan sifat alam tamas, maka cara-cara memuaskan indriya jasmani secara lebih canggih mereka sebut sebagai pengetahuan.

Oleh Ngurah Heka Wikana

%d bloggers like this: