Runtuhnya Teori Darwin

SRILA PRABHUPADA: Dunia material ini adalah suatu campuran tiga sifat, yaitu sattvarajas dan tamas (kebaikan, nafsu dan kebodohan), yang mana ketiga sifat itu berlaku di mana-mana. Ketiga sifat ini ada dalam berbagai proporsi pada semua jenis kehidupan. Sebagai contoh, beberapa pohon menghasilkan buah yang enak, sementara yang lainnya hanya diperuntukkan sebagai kayu bakar. Hal ini disebabkan oleh gabungan dari sifat-sifat alam tertentu. Ketiga sifat ini juga ditemukan pada binatang. Sapi berada dalam sifat kebaikan, singa dalam sifat nafsu, dan kera dalam sifat kebodohan. Darwin mengakui nenek moyangnya adalah seekor kera. Dia telah berteori secara dungu.

DR. SINGH: Darwin mengatakan bahwa beberapa spesies telah punah dalam upaya untuk bertahan hidup. Bagi yang mampu bertahan hidup akan bertahan, namun bagi yang tidak mampu akan punah. Jadi, dia mengatakan bahwa bertahan hidup dan mati berjalan secara berdampingan.

SRILA PRABHUPADA: Kera tidak punah. Nenek moyang Darwin, kera, masih tetap ada hingga kini.

KARANDHARA: Darwin mengatakan pasti ada suatu seleksi alam. Namun seleksi berarti pilihan. Jadi, siapakah yang memilih?

SRILA PRABHUPADA: Itu pasti ada satu sosok. Siapakah yang memperkenankan bertahan hidup dan matinya seseorang? Pastilah ada suatu penguasa dengan kebijakan memberi perintah seperti itu. Itulah dalil pertama kita. Siapa penguasa itu, dijelaskan di dalam Bhagavad Gita. Sri Krishna bersabda, mayādhyakṣeṇa prakṛtiḥ: “Alam berjalan di bawah kendali-Ku.” [Bg. 9.10]

DR. SINGH:  Darwin juga mengatakan bahwa spesies-spesies yang berbeda tidak tercipta secara bersamaan, melainkan berkembang secara bertahap.

SRILA PRABHUPADA: Lalu, apa penjelasannya tentang bagaimana proses evolusi itu dimulai?

KARANDHARA: Para pendukung paham modern Darwin mengatakan bahwa organisme hidup pertama, tercipta secara kimiawi.

SRILA PRABHUPADA: Dan saya mengatakan kepada mereka, “Jika kehidupan berasal dari zat-zat kimia, dan jika ilmu pengetahuan Anda sangat maju, mengapa Anda tidak mampu menciptakan kehidupan secara biokimia di laboratorium Anda?”

Di Masa Depan

KARANDHARA: Mereka mengatakan bahwa mereka akan menciptakan kehidupan di masa depan.

SRILA PRABHUPADA: Masa depan apa? Ketika masalah pokok yang sangat penting ini muncul, mereka berkata, “Kami akan melakukannya di masa depan.” Mengapa di masa depan? Itu omong kosong belaka. “Jangan mempercayai masa depan, betapa pun menggiurkannya.” Jika mereka sangat maju, seharusnya mereka tunjukkan sekarang bagaimana kehidupan dapat diciptakan dari zat-zat kimia. Jika mereka tidak mampu melakukannya, apalah arti kemajuan mereka. Mereka sedang membual.

KARANDHARA: Mereka mengatakan bahwa mereka benar-benar berada di ambang penciptaan kehidupan.

SRILA PRABHUPADA: Itu hanyalah satu cara berbeda untuk mengatakan hal yang sama: “Di masa depan.” Para ilmuwan harus mengakui bahwa mereka masih belum mengetahui asal mula kehidupan. Pernyataan bahwa mereka akan segera membuktikan satu asal kehidupan kimiawi adalah sesuatu seperti membayar seseorang dengan selembar cek mundur. Andaikan saya memberi Anda selembar cek mundur senilai sepuluh ribu dolar tetapi sebenarnya saya tidak punya uang sama sekali. Apa nilai cek tersebut? Para ilmuwan sedang menyatakan bahwa sains mereka sangat menakjubkan, namun ketika sebuah contoh mudah diterapkan, contoh yang kita ajukan, mereka mengatakan bahwa mereka akan menerima contoh itu nanti. Jika saya mengatakan bahwa saya mempunyai uang berjuta-juta dolar jumlahnya, dan ketika Anda meminta sedikit, saya menjawab, “Ya, sekarang Anda akan saya beri uang banyak dalam bentuk selembar cek mundur. Apakah itu menggembirakan?” Jika Anda cerdas, Anda akan menjawab, “Saat ini berilah saya setidaknya lima dolar tunai jadi saya bisa melihat sesuatu yang nyata.” Demikian halnya, para ilmuwan tidak mampu menciptakan sebatang rumput pun di laboratorium mereka, namun mereka menyatakan bahwa kehidupan tercipta dari zat-zat kimia. Omong kosong apa lagi ini? Apakah tidak ada seorang pun yang mempertanyakan hal ini?

KARANDHARA: Mereka mengatakan bahwa kehidupan diciptakan oleh hukum-hukum kimia.

SRILA PRABHUPADA: Ketika ada seperangkat hukum, maka kita pasti berpikir bahwa seseorang telah membuat hukum itu. Meskipun mereka telah mengantongi segala yang namanya kemajuan, para ilmuwan tetap saja tidak sanggup membuat sebatang rumput pun di laboratorium mereka. Ilmuwan macam apa mereka itu?

DR. SINGH: Mereka mengatakan bahwa dalam analisis akhir, segalanya berasal dari zat. Zat hidup berasal dari zat yang tidak hidup.

SRILA PRABHUPADA: Lalu untuk saat ini dari manakah zat hidup ini berasal? Apakah para ilmuwan mengatakan bahwa kehidupan berasal dari zat di masa lalu tetapi tidak di masa sekarang? Dari manakah semut berasal sekarang ini? Dari kotoran?

Mata Rantai yang Hilang

DR. SINGH: Sebenarnya ada beberapa teori yang menerangkan bagaimana kehidupan itu berasal dari zat, bagaimana zat hidup itu berasal dari zat yang tidak hidup.

SRILA PRABHUPADA: [Dengan seolah-olah mengkategorikan Dr. Singh sebagai seorang ilmuwan materialistik]. Baiklah, ilmuwan, mengapa kehidupan tidak berasal dari zat untuk saat sekarang ini? Anda orang yang tidak jujur. Mengapa kehidupan tidak berasal dari zat saat sekarang ini? Sebenarnya ilmuwan yang demikian adalah orang yang tidak jujur. Mereka mengatakan secara kekanak-kanakan bahwa kehidupan berasal dari zat, walaupun mereka sama sekali tidak mampu membuktikannya. Gerakan kesadaran Krishna kita akan menyingkap semua orang yang tidak jujur ini. Mereka hanya berlagak. Mengapa mereka tidak segera menciptakan kehidupan? Dahulu mereka berkata, kehidupan berasal dari zat; dan mereka mengatakan bahwa hal ini akan terjadi lagi di masa datang. Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka akan menciptakan kehidupan dari zat. Teori macam apakah ini? Mereka telah menguraikan bahwa kehidupan mulai dari zat. Lalu mengapa sekarang mereka berkata tentang masa depan? Apakah itu tidak bertolak belakang? Mereka sedang mengharapkan masa lampau datang lagi di masa yang akan datang. Ini adalah bualan yang bersifat kekanak-kanakan.

KARANDHARA: Mereka mengatakan bahwa kehidupan berasal dari zat di masa lampau dan mengatakan bahwa mereka akan menciptakan kehidupan dengan cara ini di masa datang.

SRILA PRABHUPADA: Omong kosong apalagi ini? Jika mereka tidak mampu membuktikan bahwa kehidupan berasal dari zat pada saat ini, bagaimana mereka mengetahui kehidupan muncul dengan cara seperti ini di masa lampau?

DR. SINGH: Mereka berasumsi…

SRILA PRABHUPADA: Semua orang bisa berasumsi, tapi itu bukanlah sains. Semua orang bisa mengasumsikan sesuatu. Anda dapat mengasumsikan sesuatu, saya dapat mengasumsikan sesuatu. Tapi, harus ada bukti. Kita dapat membuktikan bahwa kehidupan berasal dari kehidupan. Contohnya, seorang ayah menghasilkan keturunan seorang anak. Sang ayah hidup, dan sang anak hidup. Mana bukti dari mereka bahwa seorang ayah dapat berupa sebongkah batu mati? Mana bukti mereka? Kita dapat dengan mudah membuktikan bahwa kehidupan mulai dari kehidupan. Dan kehidupan awal adalah Krishna. Hal itu juga dapat dibuktikan. Tapi, apa buktinya bahwa seorang anak lahir dari batu? Mereka benar-benar tidak mampu membuktikan bahwa kehidupan berasal dari zat. Mereka mengesampingkan itu demi masa depan.

KARANDHARA: Para ilmuwan mengatakan bahwa mereka sekarang dapat memformulasikan sejumlah asam amino, yang hampir menyerupai organisme-organisme bersel satu. Mereka mengatakan bahwa karena asam-asam ini begitu mirip dengan makhluk hidup, maka pasti hanya ada satu mata rantai yang hilang sebelum mereka mampu menciptakan kehidupan.

SRILA PRABHUPADA: Omong kosong! Mata rantai yang hilang. Saya menantang mereka langsung! Mereka tidak mendengarkan tantangan ini. Mata rantai yang hilang itulah tantangan yang saya maksud.

Hadiah Nobel Bagi Seekor Keledai

DR. SINGH: Beberapa ilmuwan berharap bahwa di masa depan mereka akan mampu menciptakan bayi di dalam tabung-tabung percobaan.

SRILA PRABHUPADA: Tabung-tabung percobaan?

DR. SINGH: Ya, mereka bermaksud untuk menggabungkan unsur-unsur pria dan wanita di laboratorium-laboratorium biologis.

SRILA PRABHUPADA: Jika mereka mulai dengan makhluk-makhluk hidup, apa kegunaan tabung percobaan itu? Tabung tersebut hanyalah sebuah tempat bagi gabungan yang dimaksud, dan seperti itu pula kegunaan rahim. Penghargaan apa yang perlu diberikan kepada para ilmuwan itu jika hal ini telah dilakukan di dalam tabung uji buatan alam?

KARANDHARA: Hal tersebut telah dilakukan oleh alam, namun apabila seorang ilmuwan melakukan hal itu, maka orang akan memberikan Hadiah Nobel kepadanya.

SRILA PRABHUPADA: Ya, hal demikian dinyatakan di dalam Srimad Bhagavatam:  va-vi -vardho kra-kharaih sakstutah puru ah pa uh. Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang memuji manusia-manusia yang seperti binatang tidaklah lebih baik daripada anjing, babi, unta, dan keledai.  Sva berarti “anjing,” vid-vardha berarti “babi yang makan kotoran,” u kra berarti “unta,” dan khara berarti “keledai.” Jika Hadiah Nobel diberikan kepada seorang ilmuwan yang merupakan orang kurang ajar, maka orang-orang yang duduk dalam komite pemberi hadiah tersebut tidaklah lebih baik daripada anjing, babi, unta, dan keledai. Kita tidak menganggap mereka manusia. Seekor binatang dipuji oleh binatang lainnya. Di mana letak nilai kebanggaan untuk hal semacam itu? Jika orang-orang yang duduk di dalam komite itu tidak lebih baik daripada binatang, siapa pun yang menerima Hadiah Nobel di bidang sains adalah orang bodoh nomor wahid, sebab dia dipuji oleh para binatang, bukan oleh manusia.

DR. SINGH: Bagi beberapa ilmuwan, Hadiah Nobel adalah hal yang paling istimewa.

SRILA PRABHUPADA: Mereka adalah orang yang tidak jujur. Mereka sedang membual, dan karena mereka sedang bermain kata-kata, maka orang lain dalam keadaan tersesat.

BRAHMANANDA SWAMI: Nobel adalah orang yang menemukan dinamit.

SRILA PRABHUPADA: Dia telah menciptakan kemalangan besar, dan telah meninggalkan uangnya untuk menciptakan kemalangan lebih lanjut.

BRAHMANANDA SWAMI: Bhagavad Gita menyebutkan bahwa orang-orang jahat melakukan tindakan-tindakan yang bertujuan untuk menghancurkan dunia.

SRILA PRABHUPADA: Ya. ugra-karmāṇaḥ kṣayāya jagato ‘hitāḥ [Bg. 16.9] Mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang diperuntukkan bagi ketidakberuntungan dan kehancuran dunia.

Perbedaan Antara Yang Hidup dan Yang Tidak Hidup

[Srila Prabhupada mengarahkan tongkatnya menunjuk pada sebatang pohon mati.]

SRILA PRABHUPADA: Sebelumnya, daun-daun dan ranting-ranting tumbuh dari pohon ini. Sekarang, tunas-tunas dan ranting tersebut tidak lagi tumbuh. Bagaimana para ilmuwan menjelaskan hal ini?

KARANDHARA: Mereka akan mengatakan bahwa komposisi kimiawi pohon ini telah berubah.

SRILA PRABHUPADA: Untuk membuktikan teori itu, mereka harus bisa memasukkan zat-zat kimia yang tepat untuk membuat cabang-cabang dan daun-daun tumbuh lagi. Metode ilmiah meliputi observasi, hipotesa, dan kemudian pembuktian. Dengan demikian teori tersebut menjadi sempurna. Tapi, para ilmuwan sungguh-sungguh tidak sanggup membuktikan di laboratorium-laboratorium mereka bahwa kehidupan berasal dari zat. Mereka hanya mengamati dan kemudian mengobral kata-kata yang tak masuk akal. Mereka seperti anak-anak. Di masa kanak-kanak, kita mengamati sebuah kotak gramo-phone dan berpikir bahwa di dalam kotak itu ada seseorang yang sedang menyanyi, yaitu seorang manusia listrik. Kita mengira pasti ada seorang manusia listrik atau semacam hantu di dalam kotak tersebut.

DR. SINGH: Salah satu pertanyaan populer yang muncul saat kita mulai belajar biologi adalah “Apa perbedaan antara suatu organisme hidup dan organisme tidak hidup?” Buku-buku pelajaran mengatakan bahwa ciri-ciri utama yang membedakan keduanya adalah bahwa makhluk hidup dapat bergerak dan menghasilkan keturunan, sedangkan benda mati tidak dapat melakukan kedua hal tersebut. Namun, buku-buku tersebut tidak pernah membicarakan tentang sifat dasar dari roh atau tentang kesadaran dari entitas hidup.

SRILA PRABHUPADA: Kesadaranlah yang merupakan tanda utama adanya kehidupan. Hanya karena adanya kesadaran maka satu entitas hidup dapat bergerak dan menghasilkan keturunan. Oleh karena seseorang berada dalam keadaan sadar, maka dia berpikir tentang perkawinan dan tentang menghasilkan anak. Dan kesadaran yang asli dijelaskan di dalam Veda: tad aik ata bahu syam [Chandogya Upanisad 6.2.3]. Ini berarti bahwa Tuhan, insan sadar yang sejati, bersabda, “Aku akan menjadi banyak.” Tanpa kesadaran, maka tidak memungkinkan ada hasil yang diperoleh.

Daya Hidup Individual

SRILA PRABHUPADA: Tukang kebun menyirami pepohonan yang hijau dengan air, jadi mengapa mereka tidak menyirami pohon yang mati ini dan membuatnya hijau kembali?

DR. SINGH: Berdasarkan pengalaman, mereka tahu bahwa pohon yang mati itu tidak akan tumbuh lagi.

SRILA PRABHUPADA: Lalu unsur apa yang kurang? Para ilmuwan mengatakan bahwa zat-zat kimia adalah penyebab kehidupan, sementara semua zat kimia yang ada pada saat pohon itu masih hidup, masih ada. Dan zat-zat kimia ini masih mendukung kehidupan banyak entitas seperti mikroba dan serangga. Jadi, mereka tidak dapat mengatakan bahwa daya hidup yang ada di pohon itu yang kurang. Daya hidup tersebut tetap ada.

DR. SINGH: Tapi, bagaimana tentang daya hidup pohon itu sendiri?

SRILA PRABHUPADA: Ya, itulah bedanya. Daya hidup itu bersifat individu, dan entitas hidup dari pohon tersebut telah pergi. Inilah hal yang sebenarnya, mengingat bahwa semua zat kimia yang diperlukan untuk mendukung kehidupan itu masih ada di sana, tapi pohon tersebut mati. Ini satu contoh lagi. Andaikata saya tinggal di sebuah apartemen, dan kemudian saya meninggalkannya. Saya telah pergi, tetapi ada banyak entitas hidup lainnya yang tetap tinggal di sana, yaitu semut, laba-laba, dsb. Jadi, tidak benar bahwa hanya lantaran saya telah meninggalkan apartemen itu, lantas apartemen itu tidak dapat lagi menampung kehidupan. Entitas hidup yang lainnya masih tetap tinggal di sana. Singkatnya, hanya saya, sebagai satu makhluk hidup individu, yang pergi. Zat-zat kimia yang ada pada pohon itu seperti apartemen tersebut: semua itu hanyalah lingkungan bagi kekuatan individu—sang roh—dalam melakukan suatu aktivitas. Dan sang roh adalah satu individu. Saya adalah satu individu, dan oleh karena itu saya mungkin meninggalkan apartemen tersebut. Demikian halnya dengan mikroba. Mikroba-mikroba tersebut juga individu-individu; mereka memiliki kesadaran individu. Jika mereka sedang bergerak menuju suatu arah namun entah karena sesuatu hal mendapat halangan, mereka akan berpikir, “Biar aku lewat jalan lain saja.” Mereka memiliki personalitas.

KARANDHARA: Namun di dalam satu badan yang mati tidak ada personalitas.

SRILA PRABHUPADA: Ini menunjukkan bahwa roh individu telah meninggalkan badan itu. Sang roh telah pergi, dan oleh karena itu, pohon tersebut tidak tumbuh.

DR. SINGH: Di dalam badan yang hidup, Srila Prabhupada, ada makhluk-makhluk hidup kecil yang tak terhitung jumlahnya, tapi sang diri individu yang memiliki badan itu juga tinggal di sana. Apakah itu benar?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Di dalam badan saya ini ada berjuta-juta entitas hidup. Di dalam usus saya ada banyak cacing. Jika mereka menjadi kuat, maka apa pun yang saya makan, mereka makan, dan saya tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari makanan itu. Karena itu, orang-orang yang ususnya penuh cacing tambang makan sangat banyak tapi tidak pernah gemuk. Mereka kurus, dan mereka merasa sangat lapar, karena entitas-entitas hidup yang kecil ini memakan makanan mereka. Jadi, ada beribu-ribu dan berjuta-juta entitas hidup di dalam badan saya ini—mereka adalah individu-individu, dan saya adalah satu individu—namun saya pemilik badan ini, seperti halnya saya mungkin sebagai pemilik dari sebuah kebun yang di dalamnya ada berjuta-juta entitas hidup yang tinggal di sana.

MAHASISWA: Jadi, jika saya makan Krishna Prasadam [makanan yang telah dipersembahkan kepada Sri Krishna/Tuhan], apakah entitas-entitas hidup di dalam badan saya  juga makan prasadam?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Anda adalah orang yang penuh kebajikan. Anda makan Krishna Prasadam untuk makhluk lainnya.

KARANDHARA: Kerja untuk kesejahteraan sosial.

SRILA PRABHUPADA: Ya, namun ada begitu banyak makanan di dalam badan Anda untuk mereka makan, sehingga Anda tidak perlu melakukan suatu upaya tersendiri untuk memberi mereka makan.

SRILA PRABHUPADA: Roh individu tidak pernah hilang. Dia tidak mati, ataupun dilahirkan. Dia hanya berganti badan dari satu badan ke badan lain, seperti halnya orang berganti pakaian. Ini ilmu pengetahuan yang sempurna.

DR. SINGH: Tapi, mengapa para ilmuwan tidak menerima hal ini?

SRILA PRABHUPADA: Mereka bukanlah orang baik-baik. Mereka tidak beriman. Bahkan mereka bukan orang-orang terhormat. Dalam keadaan-keadaan yang sesuai, orang-orang baik akan memiliki rasa segan atau rasa malu. Akan tetapi, orang-orang semacam ilmuwan itu tidak memiliki rasa malu. Mereka tidak mampu menjawab tantangan-tantangan kita dengan benar. Sekalipun demikian, tanpa rasa malu mereka menyatakan diri sebagai ilmuwan dan menyatakan akan menciptakan kehidupan. Mereka bahkan bukan orang-orang terhormat. Paling tidak saya menganggap mereka seperti itu. Seorang pria terhormat akan merasa malu untuk membica-rakan sesuatu yang tidak masuk akal.

DR. SINGH: Mereka tidak berpikir sebelum bicara.

SRILA PRABHUPADA: Itu berarti bahwa mereka bukan manusia. Seorang manusia berpikir dua kali sebelum mengatakan sesuatu. Pemahaman tentang adanya kehidupan di dalam badan telah dibuat menjadi mudah untuk mengerti oleh Sri Krishna. Sri Krishna bersabda:  dehino ‘smin yathä dehe  kaumäraà yauvanaà jarä tathä dehäntara-präptir dhéras tatra na muhyati, “Seperti halnya roh yang terkurung di dalam badan terus-menerus berpindah di dalam badan ini, dari masa remaja ke masa dewasa hingga usia tua, demikian halnya sang roh berpindah masuk ke dalam badan yang lain pada saat kematian. Roh yang insaf-diri tidak dibingungkan oleh pergantian seperti itu.” (Bg. 2.13) Dalam dua kalimat ini, Krishna memecahkan seluruh persoalan biologi. Itulah pengetahuan. Sedikit kata, banyak penyelesaian. Berjilid-jilid buku menguraikan tentang sesuatu yang tidak masuk akal dan tanpa makna. Para ilmuwan materialistik itu seperti kodok yang sedang berkuak-kuak: ka-ka-ka, ka-ka-ka. Kodok-kodok itu sedang berpikir, “Wah, kita sedang bercakap-cakap dengan gembira,” tapi akibatnya ular menemukan mereka dan berkata, “Wah, ini ada kodok yang enak!” Bup! Habislah. Apabila kematian datang, maka segalanya berakhir. Para ilmuwan materialistik itu sedang berkuak-kuak—ka-ka-ka—namun saat kematian datang, industri ilmiah mereka berakhir, dan mereka menjadi anjing, kucing atau sesuatu semacam itu.

Bersambung…………..

Dikutip dari buku “Life Come From Life” 

%d bloggers like this: