Sekitar tahun 1500an corak kehidupan di Bali nampak sedikit berubah sejak kedatangan Dhang Hyang Nirarta atau lebih dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rauh. Beberapa sumber mengatakan bahwa Dang Hyang Nirarta adalah pengikut faham Siva dan mulai menyebarkan pengaruhnya dari Bali bagian barat bahkan kabarnya sampai ke Nusa Tenggara. Sehingga otomatis corak Sivaistis sejak saat itu dikatakan mulai tumbuh subur di Bali. Bahkan saat ini umat Hindu di Bali mengidentikkan diri mereka sebagai penganut Hindu Siva Sidhanta.

Istilah “Siddhanta” dapat diterjemahkan sebagai “kesimpulan akhir”, sehingga secara harfiah arti kata Siva Siddhanta adalah Siva sebagai kesimpulan akhir. Atau dengan kata lain menempatkan Siva sebagai kesimpulan dan tujuan tertinggi. Paham Siva Siddhanta berkembang subur di daerah suku Tamil di India Selatan dan juga di kawasan Kasmir. Menurut teologi Siva Siddhanta, Tuhan, Jiva dan benda-benda di alam semesta ini adalah nyata. Secara terminologis mereka menyebut Tuhan sebagai “Pati”, sedangkan Jiva disebut “Pasu” dan benda-benda di alam material disebut “Pasa”. Dari ketiga ini mereka beranggapan bahwa Pati-lah yang paling tinggi dan dipuja dengan sebutan Siva atau Hara. Siva dianggap sebagai sumber dari Trimurti (Brahma, Visnu dan Rudra). Disamping itu Siva juga disebut sebagai Iswara dan Maheswara. Dalam ritual keagamaannya mereka senantiasa melakukan persembahan kepada Siva yang terkonsentasi pada Siva Lingam.

Namun kalau kita telusuri lebih mendalam, ternyata corak keagamaan di Bali tidaklah sama seperti faham Siva Sidhanta aslinya. Bahkan dikatakan tidak terdapat indikasi benang merah yang jelas dengan konsep Siva Sidhanta di India dan di Bali sehingga mendorong beberapa buku membedakannya menjadi Siva Sidhanta India dan Bali.

Pondasi dasar keberadaan budaya dan keagamaan di Bali pada dasarnya tidak lepas dari jasa Mpu Kuturan dan juga adiknya Mpu Bradah. Ketika itu, atas ijin dari Raja Udayana Warmadewa dan Ratu Gunapriya Dharmapatni, Mpu Kuturan melakukan Pesamuan Agung (rapat akbar) dengan mengambil tempat di Bataanyar (kini Gianyar). Saat itu ada 1370 desa di seluruh Bali yang ikut dalam Pesamuan Agung ini. Pada saat pesamuan agung itu diundanglah tokoh-tokoh dari masing-masing keyakinan yang dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:

  1. Empu kuturan disamping selaku ketua majelis Pakira-kira Ijro Makabehan dan pemimpin Pesamuhan Agung.
  2. Tokoh-tokoh atau pimpinan orang-orang Bali Aga, dari masing-masing paksa/keyakinan yang terdiri dari berbagai sampradaya, dijadikan 1 kelompok yang jumlahnya paling banyak.
  3. Tokoh-tokoh dan pimpinan Agama Siwa didatangkan dari Jawa, dimana mereka merupakan kelompok tersendiri.

Dengan keluhuran pengetahuan dan kemampuannya sebagai seorang guru suci, Mpu Kuturan berhasil menghantarkan Pesamuan Agung mencapai kata sepakat yang meliputi;

  1. Pemujaan kepada Brahma, Visnu dan Siva dijadikan dasar keagamaan di Bali.
  2. Dijadikan perubahan terhadap organisasi kemasyarakatan, dengan wadah yang disebut Desa Pekraman, untuk itu didirikan tiga pura yang disebut pura Khayangan Tiga, yaitu:

(a)   pura puseh yang terletak di Utama Mandala sebagai tempat suci untuk memuliakan Sri Wisnu;

(b)  pura bale agung atau pura desa yang terletak di Madya Mandala sebagai tempat suci untuk memuliakan Dewa Brahma;

(c)   pura dalem atau pura hulu setra sebagai tempat suci untuk memuja Siva.

  1. Pada setiap rumah tangga di wajibkan mendirikan sebuah pelinggih berbentuk Rong Tiga (Rong Telu), sebagai tempat memuliakan dan memuja roh suci para leluhur dan Sanghyang Widhi Wasa. Sebutan lain dari rong tiga adalah kemulan yang terdapat dalam setiap sanggah atau merajan.
  2. Semua tanah pekarangan dan tanah yang terletak di desa pakraman dan pura khayangan tiga adalah milik desa pakraman yang juga berarti milik kayangan tiga, oleh sebab itu, tanah-tanah ini tidak boleh dijual – belikan.
  3. Disamping itu, perlu didirikan tempat suci di sawah, yang disungsung oleh krama subak, yang merupakan sistem sosial religius dalam bidang perekonomian.

Uniknya, ternyata sangat jelas kelihatan bahwa konsep yang disepakati oleh Pesamuhan Tiga itu sangat sesuai dengan ajaran Veda dan memperlihatkan corak kevaisnavaan. Pada Khayangan Tiga sangat tepat jika Visnu diletakkan pada bagian Utama Mandala, dan berikutnya Brahma yang tercipta dari pusar Sri Visnu diletakkan di Madya Mandala. Sementara itu Siva yang merupakan perwujudan Visnu yang sama dan sekaligus berbeda, yang dalam istilah konsep Guna Avatara dikatakan sebagai pengendali sifat Tamas dan senantiasa melumuri badannya dengan abu mayat diletakkan di dekat Setra atau kuburan. Begitu juga dengan sistem desa Pekraman yang besar kemungkinan adalah perwujudan dari sistem Pasraman atau sistem Guru Kula, sistem pendidikan tradisional dalam Veda yang ingin ditanamkan oleh Mpu Kuturan di Bali.

Dari segi karya sastra lontar, kekawin dan pewayangan yang meresap dalam sanubari masyarakat, ternyata hampir semuanya dijiwai oleh kitab Itihasa (Ramayana dan Mahabharata). Dalam setiap gubahan lontar yang diturunkan dari kitab Ramayana, semua penulis menitik beratkan kepada Rama sebagai yang tertinggi. Demikian juga untuk lontar yang digubah dari kitab Mahabharata selalu menempatkan Krishna sebagai yang tertinggi. Tanpa Rama, maka Hanuman, Sugriwa dan Subali tidak akan ada artinya. Tanpa Krishna, apa yang dapat dilakukan oleh Panca Pandawa? Pemujaan kepada Sri Narayana juga ternyata menjadi objek yang tertinggi. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya Narayana Upanisad sebagai pondasi dasar keyakinan Hindu di Bali. Bahkan tidak tanggung-tanggung gubahan Narayana Upanisad disebut sebagai Catur Veda Sirah (kepala/inti sari Catur Veda). Hal ini diterangkan dengan kalimat: etad Rg Veda siro ‘dhite (demikianlah inti sari dari Rg. Veda); etad Sama Veda siro ‘dhite (demikianlah inti sari dari Sama Veda) etad Yajur Veda siro ‘dhite (demikianlah inti sari dari Yajur Veda); etad Atharva Veda siro ‘dhite (demikianlah inti sari dari Atharva Veda). Dalam kitab Catur Veda Sirah ini dijelaskan bahwa segala sesuatu berasal dari Narayana. Bahkan pemimpin para dewa seperti Brahma, Siva dan Rudra-pun lahir dari Narayana. Narayana sendiri menurut Visnusahasranama (1000 nama suci Sri Visnu) sebagaiman tercantum dalam kitab Padma Purana dan juga Mahabharata Anushāsanaparva 149 adalah nama lain dari Sri Visnu, Krishna, Rama yang merupakan sebutan Tuhan dalam konsep Vaisnava.

Melihat kenyataan ini, lalu kenapa Mpu Kuturan menanamkan konsep Vaisnava di Bali, sementara selama ini Mpu Kuturan sering dikatakan penganut Buddha?

Mpu Kuturan adalah Putra pertama dari Rsi Visnu Sunya Murti. Sementara adiknya adalah Mpu Bradah. Kedua orang suci ini sangat penting peranannya dalam penanaman pondasi budaya Bali. Mengenai riwayat mereka ini, salah satu lontar mengisahkan:

 “Mangke wuwusen hana Rsi Bhujangga Vaisnava putus, ngaran Hyang Rsi Visnu Sunya Murti sira ia adi manggala sembahen, apan sira wisesa mahotama. Sira ta angamet stri listuayu paripurna ingaranan Dewi Indrakarana. Wus lama sira apulang lulut, tumuli sira aputra laki-laki karwa, kang panuha apanelah Sira Mpu Kuturan mwang sang anten apenengeran sira Mpu Bhradah. Kadi kramanira sang yayah Sira ta Hyang Visnu Sunya Murti, asung nugraha ri sutanira panuha, aji utama, kaputusaning kabhujanggan, nging sira Mpu Bhradah lunga maring Kadiri I Bhumi Jawa.”

“Sekarang diceritakan seorang Rsi Bhujangga Vaisnava, nama Beliau Hyang Rsi Visnu Sunya Murti. Beliau yang patut pertama-tama disembah, karena amat kuasa dan maha utama. Beliau mengambil istri bernama Dewi Indrakarana. Setelah beberapa lama berumah tangga, berputralah beliau dua orang, yang pertama diberi nama Mpu Kuturan dan adiknya Mpu Bhradah. Hyang Rsi Visnu Sunya Murti berkaruani kepada putranya yang lebih tua dengan memberikan pengetahuan utama ajaran Vaisnava. Sedangkan mpu Bhradah pergi ke Kediri di pulau Jawa.”

Mpu Bhradah cenderung melaksanakan kevaisnavaannya dengan menyembah Sri Visnu dalam aspek AvataraNya sebagai Buddha. Namun demikian, bukan berarti Mpu Bhradah adalah pengikut Agama Buddha seperti yang ada saat ini. Beliau adalah Vaisnava sejati. Hal ini dibuktikan ketika wafatnya Ratu Gunapriya Dharma Patni. Saat itu Mpu Bhradah sengaja datang ke Bali menghaturkan bhaktinya sesuai dengan isi prasasti berangka tahun 929 bertanda Cakra Sudarsana (Cakra Sri Visnu dan ciri khas seorang Vaisnava). Dikatakan juga dalam prasasti yang tersimpan di Pura Batumadeg tempat memuja Visnu ini bahwa Mpu Bhradah menetap dan bersemedi di pura ini. Hal ini memperkuat bahwa Mpu Bhradah adalah seorang Vaisnava.

Mpu Kuturan sendiri menegaskan konsep ajaran kevaisnavaannya dengan  mengatakan bahwa seorang Rsi Vaisnava adalah guru dari para guru yang berhak memberikan pelajaran karena ia seolah-oleh adalah putra Bhatara Guru.

“Rsi Vaisnava wenang ngamertanin kala bhuta, apan ida Rsi Vaisnava guruning guru. Ida wenang guru-maguru, dening ida anak bhatara guru wenang maguru-guru nga, Ika ta don nira tan tekeng cuntaka dening wang kuwu kabeh”.

Pernyataan Mpu Kuturan ini ternyata bukan sekedar ajaran yang disampikan demi tujuan politik, apa lagi untuk kepentingan diri sendiri. Fakta pendapat yang mengatakan bahwa seorang Vaisnava sesungguhnya memiliki posisi paling mulia juga disampiakan dalam wejangan Mpu Kidul tertanggal tahun 959 Saka yang mengatakan:

Yan hana letuhing kedaton, Bale Agung mwah sawah, wenang Sang Guru Bhujangga amretista, apa sira Sang Bhujangga Waisnawa kasungan geni Saracinara, Purwabhumi Twa, Gelar Siwaga Waisnawalingga genisara, aregep dening sanjatanira, sakwehing letuhing rat kasudha de nira kabeh, lingganira ring Batur. Sira Sang Bhujangga Waisnawa batukeneng cuntaka, apan sira mraga suku mwah cecek, wenang nyiwa Budha”.

Pernyataan ini menegaskan bahwa hendaknya hanya seorang Bhujangga Vaisnawa yang mampu membersihkan dan menyelamatkan dunia dari segala kekotoran. Selain gegelaran Sang Bhujangga Waisnawa seperti Gni Saracinara, Purwabhumi Twa, dan lain-lain, juga beliau ayomi bhumi dari mala yang mengotori dengan Sangkha, Katipluk, Genta Urag, Bhajra Padma, Bajra Uter dan lain-lain.

Seperti umum telah diketahui, pada masa pemerintahan raja-raja di Bali, Kakak Mpu Bhradah, Mpu Kuturan memegang peranan sangat penting dalam kedudukannya sebagai purohita, atau penasehat raja. Sehingga nama Kuturan atau Senapati Kuturan pernah dipakai gelar untuk para bhujangga yang diangkat sebagai penasehat raja. Beberapa contoh penggunaan gelar Kuturan ini adalah para masa pemerintahan Aji Sri Dharmawangsa Wardana Marakata Pangkaja Sthana Uttungga Dewa pada tahun 944 Saka (1022 Masehi) mengangkat Guru Bhujangga Mapanji Putu-putu sebagai Senapati Kuturan. Demikian juga pada masa kekuasaan Ratu Sri Sakal Indukirana Isana Guna Dharma Laksmi Dhara Wijaya Utungga Dewi tahun 1020 Saka (1098 Masehi) mengangkat Guru Bhujangga Vaisnava bernama Mpu Antuk sebagai Senapati Kuturan. Pengangkatan para Vaisnava sebagai purohito kerajaan ini berlangsung turun temurun sampai pada masa pemerintahan Raja Vaisnava terkenal, yaitu Sri Aji Jaya Pangus Arkajalancana yang mengangkap Mpu Angdon Amenang.

Titanen ri saka 1103, hana Dalem I Bali Dwipa Mandala, tos Waisnawa, abhiseka Sri Aji Jayapangus Arkajalancana. Arkajalancana ngaran, tos Arka. Arka ngaran Surya Wangsa ngaran Hari Wangsa. Hari Wangsa ngaran Wisnu Wangsa, yata Waisnava ngarannya.”

“Tersebut dalam Saka 1103, seorang raja di Pulau Bali keturunan Vaisnava, bergelar Sri Aji Jaya Pangus Arkajalancana, Arkaja berarti keturunan Arka. Arka berarti keturunan Surya Wangsa, Surya Wangsa berarti Hari Wangsa, Hari Wangsa berarti Visnu Wangsa. Itulah yang disebut Vaisnava.”

Keagungan Jaya Pangus sebagai raja Vaisnava juga tertuang dalam Bhuwana Tattva Maharsi Markandeya; “Palgunamasa, titi pancami sukla paksa, tungleh, wage, wrehaspati waraning Julungpujut, irika dewasaning Sri Maharaja Aji Jayapangus Mur angungsi Wisnu loka.

Dengan demikian, sudah sangat jelas bahwa Mpu Kuturan dan adiknya Mpu Bradah adalah seorang Vaisnava dan karenanya sebenarnya Bali yang ada saat ini dibangun di atas pondasi Vaisnava meskipun diwarnai dengan berbagai ajaran masab yang lainnya. Hanya karena Pondasi Vaisnava dan akulturasi indah karya agung Mpu Kuturan lah yang membawa Bali menjadi seperti saat ini.

Om ajnana-timirandhasya jnananjana-salakaya caksur unmilitam yena

Hari Om…

%d bloggers like this: