Pertama-tama marilah kita menghaturkan sembah sujud kepada tempat tinggal abadi Tuhan Çré Kåñëa, Çré Maöhurä dhäma.

harir api bhajamanebhyaù

präyo muktià dadäti na tu bhaktim

vihita-tad-unnati-satraà

maöhure dhanyaà namämi tväm

”Biasanya Tuhan Çré Hari, Çré Viñëu, menganugrahkan “Mukti” (pembebasan), namun Beliau tidak begitu mudah menganugrahi “bhakti” ( pengabdian) kepada pemujanya. Oh Maöhurä! Engkau adalah kepribadian yang mujur dan yang menganugrahkan yajïa agung berupa bhakti. Hamba menghaturkan sembah sujud hamba kepada anda”.

Maöhurä adalah tempat suci yang sangat penting diantara tempat-tempat suci yang harus dikunjungi oleh para Vaisnava. Maöhurä berada +150 km di sebelah selatan New Delhi, ibu kota India. Menurut Çréla Rüpa Goswämé di dalam Upadeçämåta, beliau menyatakan bahwa Maöhurä bahkan lebih tinggi kedudukannya dari Vaikuntha dimana Tuhan dalam bentuk Beliau sebagai Näräyana bertempat tinggal. Kenapa? karena Kepribadian Tuhan Yang Asli, Çré Kåñëa, muncul di tempat ini. Karena begitu agungnya tempat ini, orang yang hanya melihat tempat ini saja  akan terbebaskan dari dosa-dosa yang mereka lakukan di dalam hidup mereka. Di dalam Maöhurä mähätmya, keagungan Maöhurä diuraikan sebagai berikut:

suryodare tamo naçyed

yatha vajra-bhayan nagaù

tarkñaà dåñöva yatha sarpa

megha vata-hata iva

tattva-jïanad yatha duhkhaà

siàhaà dåñöva yatha mågaù

tatha papäni naçyanti

Maöhurä-darçanat kñanat

”Seperti halnya kegelapan dihilangkan oleh terbitnya matahari, seperti gajah yang takut terhadap ankusa (tongkat pengendali gajah), ular yang takut begitu melihat Garuda, rasa duka yang dilenyapkan oleh pengetahuan dan seekor rusa merasa takut melihat seekor singa, begitu juga dosa-dosa akan dihancurkan hanya dengan melihat Maöhurä Dhama”.

Meskipun demikian, tujuan kita mengunjungi Maöhurä bukanlah untuk menghancurkan dosa yang telah kita perbuat kemudian melakukan dosa lagi dan datang kembali ke tempat suci untuk membersihkan dosa. “präyaçcittam atho ‘pärthaà manye kuïjara-çaucavat”,  prayascita  atau penyucian diri seperti itu merupakan penyucian diri yang tidak berguna yang bagaikan gajah mandi, (SB 6.1.10). Tujuan kita ke tempat suci adalah untuk mendengarkan manisnya kegiatan Tuhan dan ajaran-ajaran dari para sadhu atau orang-orang suci, yang bagaikan minuman kekekalan yang mampu menganugrahkan kehidupan kekal kepada si pendengar. Tentu saja mengunjungi tempat suci akan secara otomatis memberikan efek samping seperti yang diuraikan diatas yaitu orang akan terbebaskan dari dosa-dosa. Tetapi kita harus mengerti bahwa pembersihan dosa seperti itu itu bukanlah tujuan utama kita.

Tempat tempat di Maöhurä

1. Janmasthäna ( Kåñëa Janma Bhümi)

Lima ribu tahun yang lalu Çré Kåñëa muncul di tempat ini dari kandungan ibu Devaké. Pada jaman Vajranäbha, kuil yang sangat indah dibangun di tempat ini dan Arca Çré Keçava deva disthänaakan di tempat ini. Namun sayang sekali kuil tersebut dihancurkan oleh orang-orang Islam. Setelah kuil tersebut dihancurkan, sejumlah kuil dibangun lagi oleh beberapa raja Hindu berulang kali, akan tetapi setelah beberapa waktu dihancurkan kembali oleh raja Islam. Akhirnya kuil yang masih berdiri sampai saat ini adalah kuil yang di bangun sekitar tahun 1951. kuil ini sangat megah dan di dalam kuil, Çré Çré Rädhä-Kåñëa dipuja sebagai istadeva.

Karena diserang oleh raja Islam, arca Keçava deva yang asli yang dulunya di sthänakan oleh Vajranäbha dilarikan oleh penduduk Hindu setempat ke tempat yang aman. Saat ini arca yang asli tersebut berada di Radjdhani, sebuah kota dekat Maöhurä. Saat ini Pratibhu murti Çré Keçava Deva (Replika arca yang sebenarnya tidak berbeda dengan yang asli) masih di puja di salah satu kuil di dalam area janma sthänaa. Kuil ini dikenal dengan nama “pratibhü keçava deo mandir”

Keçava Deva adalah salah satu dari empat deva yang disthänaakan oleh Vajranäbha di empat penjuru Vraja Bhümi sebagai Içtadeva di keempat penjuru. Diurakan bahwa Vajranäbha memahat 16 arca secara pribadi yang disthänaakan di Vraja Bhümi. Arca ini terbuat dari batu pilihan yang sangat langka yang disebut dengan nama “batu  Braja”.  Beliau memahat empat deva, dua nätha, dua Gopäla, empat mähädeva, dan empat Devé. Masing masing diantaranya adalah sebagai berikut:

• Keempat deva adalah:

1.          Hari Deva (disthänaakan di Govardhan). Saat ini arca yang asli tidak diketahui keberadaanya.

2.          Govinda Deva (disthänaakan di Våndävana). Saat ini arca asli Çré-Çré Rädhä Govinda ji dipuja di Jayapur. Jayapur adalah sebuah kota yang terletak di Rajasthäna, dekat Maöhurä.

3.          Baladeva, juga di kenal dengan nama Dauji dan Baldeo. Arca ini adalah satu-satunya arca yang asli dari keempat deva yang masih sampai sekarang di Vraja . Beliau di puja di desa Baldeo, di Mahavan (+18 km dari Maöhurä). Tempat ini terletak dekat dengan Gokula.

4.          Keçavadeva (di Maöhurä).

• Dua nätha adalah:

1.          Çrénäth ji, yang ditemukan oleh Madhavendra Puri di Govardhan dan disthänaakan di atas bukit Govardhan. Saat ini beliau di puja di Näthadvar, rajasthäna.

2.          Gopénäth ji yang saat ini berada di Jayapur.

• Dua Gopäla adalah:

1.          Madana Gopäla (Madana Mohan) yang di puja oleh Çré Sanätana Gosvämé di Våndävana. Saat ini Madana Gopäla berada dan dipuja di Karoli.

2.          Saksi Gopäla, arca yang lari ke Orisa untuk menjadi saksi atas janji yang diberikan oleh seorang brahmana tua kepada brahmana muda dari daerah Orissa. Saat ini Beliau di puja di Kota kecil Saksi Gopal, Orissa, di daerah bagian timur India.

• Empat Mähädeva atau Siva lingga adalah :

1.          Cakraleçvara Mähädeva di Govardhan

2.          Kamesvara Mähädeva di Kämyavana.

3.          Bhutesvara Mähädeva di Maöhurä

4.          Gopeçvara Mähädeva di Våndävana

• Empat Devé adalah:

1.          Manasi Devé di Govardhan

2.          Vrnda Devé di Kamavan

3.          Pathala Devé di Maöhurä

4.          Yogamäyä Devé di Våndävana.

Selain Hari Deva, kelima belas arca yang lainnya masih dapat kita lihat sampai saat ini.  Masing-masing arca tersebut akan diuraikan sambil kita mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan masing-masing arca tersebut.

Janmasthäna adalah salah satu tempat yang sangat ketat untuk dikunjungi. Untuk masuk ke dalam, para pengunjung dilarang membawa alat-alat eletronik, khususnya kamera dan hand-phone. Jika kita ingin perjalanan  memasuki tempat ini lancar, usahakan untuk tidak membawa barang-barang yang terbuat dari logam. Akan lebih baik bila tas dan barang lainnya diletakkan di bus atau di mobil, kecuali japa mala.

Tempat dimana Tuhan Çré Kåñëa muncul di dalam sebuah penjara. Disini kita akan melihat lorong kecil untuk masuk ke tempat tersebut. Sebelum memasuki tempat ini kita akan darsan terlebih dahulu kepada Çré Yogamäya Devé. Yogamäyä Devé adalah saudari Çré Kåñëa, Çrématé Durga Devé, yang muncul dari kandungan ibu Yaçodä di Gokulaa. Bayi tersebut ditukar oleh Vasudeva dan dibawa ke dalam penjara di Maöhurä. Vasudeva dan Devaké berharap bahwa Kaàsa akan mengurungkan niatnya untuk membunuh anak mereka karena bayi yang lahir adalah bayi wanita. Ketika Kaàsa mengetahui bahwa bayi ke delapan Devaké telah lahir, meskipun bayi tersebut adalah bayi wanita, Kaàsa tetap berusaha untuk membunuhnya. Akan tetapi ketika Kaàsa melemparkannya, bayi tersebut langsung terbang dan berubah wujud dalam bentuk Durga berlengan delapan. Jadi arca ini dimaksudkan untuk mengingat Beliau. sebelum darsan kepada Kåñëa, kita hendaknya memohon berkat dari Devé Yogamäyä agar dianugrahi penglihatan rohani sehingga kita dapat mengerti kegiatan Kåñëa. Atas aturan Yogamäyä, Vraja-dhama terselubungi dari penglihatan material kita. Hanya atas karunia beliau kita akan mampu merasakan keindahan dan keagungan Vraja bhümi.

Setelah darsan dan berdoa kepada Yogamäyä Devé,  kita akan memasuki lorong kecil yang panjangnya hanya beberapa meter. Lorong ini tepat berada di sebelah kanan kita ketika kita darsan pada Çré Yogamäyä. Di dalam lorong kecil inilah Çré Kåñëa, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa muncul lima ribu tahun yang lalu. Di sini kita dapat melihat arca Çré Viñëu berlengan empat dan gambar ibu Devaké dan Vasudeva sedang berdoa kepada Çré Viñëu. Di sini juga terdapat gambar Kåñëa sebagai bayi di depan mereka berdua. Kita dapat pula melihat Çrémad Bhagävatam yang berhubungan dengan lila ini di tulis dalam tulisan Deva-nägaré di atas tembok di dalam ruangan ini.

Setelah keluar dari Garbha Sthäna, ruangan di mana bayi Kåñëa muncul, kita akan melihat kuil yang sangat megah yang sebelumnya kita lihat dari jalan raya. Kuil tersebut adalah kuil Çré Çré Rädhä Kåñëa, kuil yang dibangun sekitar tahun 1951. Kita dapat darsan dan menikmati keindahan mandir tersebut yang dihiasi dengan lukisan-lukisan indah yang berhubungan dengan kegiatan Kåñëa dan kisah-kisah dari Purana, Ramayana, Mahabharata dan lain-lain. Selain Rädhä Kåñëa, terdapat beberapa arca yang dipuja disini. Kemudian kita bisa berkeliling dan darsan di beberapa kuil yang dibangun di dalam areal Janma sthäna. Keçava Deva, salah satu dari empat deva yang di sthanakan oleh Vajranäbha terletak diluar tembok kuil Janma sthäna. Saat ini Pratibhü- murti Çré Keçava Deva dipuja di kuil ini. Arca Keçava Deva yang sangat tampan terbuat dari batu marmer hitam.

Bersambung ke: Mathura – Part 2

Dikutip dari Buku “Perjalanan Suci di Tanah Vraja”

Karya: Mendiang H. G. Bhagiratha Dasa Prabhu

%d bloggers like this: