Oleh: I Gede Widya Suputra*)

 

Bali merupakan satu-satunya Majapahit Kecil yang masih tersisa di Nusantara (Indonesia). Tanpa Bali, nama Indonesia akan kurang dikenal oleh masyarakat dunia. Bahkan dalam lingkup internasional, masyarakat dunia lebih mengenal kata ‘Bali’ daripada kata ‘Indonesia’. Banyak masyarakat luar negeri, sebut saja masyarakat di Eropa yang tidak tahu ‘Negara Indonesia’, namun mengenal nama ‘Bali’. Dari sejumlah warga Eropa yang pernah Saya wawancara, awalnya mereka mengira Bali adalah sebuah Negara dengan budayanya yang  adi luhung yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu. Namun setelah mereka berkunjung ke Bali, ternyata mereka baru menyadari bahwa Bali adalah sebuah provinsi dari sebuah Negara yang bernama Indonesia. Selain itu, diluar negeri nama ‘Indonesia’ menjadi popular karena ada kata ‘Bali’ yang mengikutinya sehingga tak sedikit dari masyarakat internasional mengira bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk Hindu dengan budayanya yang adi luhung, dan lagi-lagi, setelah mereka berkunjung ke Bali, mereka menyadari lagi bahwa Bali adalah provinsi kecil yang unik namun indah, berkarisma, dan memiliki daya tarik yang luar biasa.

Bali merupakan salah satu tulang punggung dari NKRI. Bali adalah Majapahit terakhir yang masih ada. Kontribusi Bali terhadap NKRI sungguh besar. Bali mampu membuat nama Nusantara tetap muncul di ranah Internasional karena begitu masyarakat dunia mengingat Bali dan mencari tahu tentang Bali, berarti mereka telah mengingat Indonesia dan belajar dari Indonesia. Bali mampu membuat nama Indonesia tetap ada dalam kancah Internasional. Lantas apa yang membuat Bali mampu membawa nama Nusantara ke kancah Internasional? Kenapa Bali bisa memiliki daya tarik yang begitu besar? Jawabannya yaitu, karena masyarakat Bali mampu menjadi dirinya sendiri, masyarakat Bali mampu melestarikan warisan budaya nenek moyang mereka yang merupakan warisan-warisan budaya yang adi luhung  yang kaya akan nilai-nilai luhur yang tinggi, seperti ilmu pengethuan, filsafat, seni, sastra, arsitektur, dll.

Suatu bangsa bisa menjadi bangsa yang adi luhung apabila bangsa tersebut mampu menjadi dirnya sendiri, berbuat dan bertindak berdasarkan kearifan lokal. Untuk membuat pulau Bali tetap harmonis dan lestari, tidak cukup hanya sekedar bangga manjdi diri sendiri. Untuk mampu mempertahanakan Bali agar tetap bisa menjadi pulau yang adi luhung dan tidak hancur seperti Majapahit yang ada di pulau Jawa, diperlukan masyarakat Bali yang Militan dan Terdidik. Jangan biarkan Bali seperti Majapahit Jawa, yang hancur karena dirongrong oleh tikus-tikus luar yang menggunakan politik serigala berbulu domba, yang berpura-pura baik, namun menusuk dari belakang dan akhirnya menghancurkan secara perlahan.

Militan dalam konteks ini adalah bukan bertindak anarkis dan saling membunuh serta menghancurkan agama lain. Militan dalam hal ini adalah masyarakat Bali khususnya para pemuda harus mampu mempertahankan budaya, tradisi, kearifan lokal, serta agamanya dalam kondisi apapun. Militan dalam konteks ini dapat juga diinterpretasikan sebagai berikut: 1. Masyarakat Hindu Bali harus mampu memahami agamanya  secara teori (competence) dan aplikasi (performance), 2. Masyarakat Hindu Bali harus memiliki rasa persaudaraan yang tinggi sesama warga Hindu Bali dan sesama umat Hindu, 3. Masyarakat Hindu Bali harus berani bicara, menolak, dan menentang pihak-pihak yang ingin merusak Bali baik secara fisik, moral, maupun melalui ideologi-ideologi luar yang sengaja ditanamkan di Bali, 4. Masyarakat Bali harus mampu membaca situasi di wilayahnya masing-masing serta memiliki rasa jengah khususnya kepada para pendatang yang berniat tidak baik yang bertujuan merusak Bali, 5. Masyarakat Bali harus peka terhadap sekelompok orang yang menggunakan simbol-simbol ke-Hinduan Bali untuk menjebak Hindu Bali kedalam agama tertentu, 6. Masyarakat Bali harus prihatin terhadap fenomena sosial yang kini kerap menimpa Bali seperti: sex bebas, banyaknya kafe-kafe liar, judi, narkoba, banyaknya pemuda yang mabuk-mabukan di jalanan, masalah perebutan setra atau kuburan  dan lain-lain.

Sebagai bahan renungan untuk masyarakat Bali, mari sejenak kita merenung tentang runtuhnya Majapahit. Nusantara dikala itu telah mampu bersatu dengan peradabannya yang adi luhung, baik secara fisik, budaya, sastra, politik, dan ilmu pengetauan. Sedangkan Amerika Serikat yang sekarang menjadi negara adi daya, dikala itu hanya lah sekedar dataran yang luas yang penuh dengan semak belukar. Kemudian muncul lagi sejumlah pertanyaan, mengapa Nusantara yang begitu hebat dikala itu mampu tumbang? Bahkan Mongolia pun harus bertekuk lutut pada Majapahit, karena tak mampu mengalahkan Nusantara saat ingin menginvasi Nusantara. Majapahit tumbang bukan karena nenek moyang kita seorang yang tidak suka berperang demi kebenaran, namun nusantara ini hancur akibat masuknya ideologi luar yang merong-rong pemikiran banyak pemimpin nusantara yang berakibat pada perang saudara. Lalu mengapa ideologi tersebut mampu masuk dan meracuni kebanyakan dari pemimpin-pemimpin Nusantara yang menyebabkan ketidak percayadirian menggunakan jati diri nya sendiri? Itu terjadi karena bangsa kita adalah bangsa yang ramah dan selalu menyambut segala hal baru yang datang tanpa proses filter terlebih dahulu atau dengan kata lain pemimpin Nusantara dikala itu pintar dan intelek namun kurang cerdas.

Tak hanya itu, kebanyakan dari pendatang luar yang membawa ideologi dan budaya luar tersebut bagaikan tikus yang licik dan menggunkan politik serigala berbulu domba. Mereka baik didepan kemudian menusuk dari belakang. Awalnya kedatangan bangsa Arab ke Nusantara telah diberi izin oleh raja-raja Hindu Nusantara. Mereka diberi izin berdagang dan menyebarkan agama. Namun tanpa sepengetahuan raja-raja Hindu, dibelakang mereka menyusun rencana untuk menaklukan. Sedikit demi sedikit mereka menaklukan wilayah pesisir dan akhirnya kerajaan induk pun dirusak dengan cara melakukan penyerangan secara diam-diam dan mendadak. Kemudian wilayah – wilayah yang telah ditaklukan, seluruhnya di-Islamkan. Peninggalan-peninggalan Hindu Budha dihancurkan. Sastra – sastra suci dibakar. Orang-orang yang tak mau beralih menuju Islam di bunuh, dikenai pajak tinggi, dan dijadikan budak. Sungguh penyeberan agama yang sangat keji. Karena Iblis pun tak sperti itu. Itu semua akibat pengaruh buruk bangsa Arab, yang menyebarkan agama melalui budayanya yang penuh dengan doktrin kebencian (Shasangka, 2011). Seharusnya agama disebarkan dengan damai, tanpa ada paksaan, atau ancaman.

Mulai dari sekarang dan saat ini saatnya kita belajar dari pengalaman yang telah terjadi. Karena ilmu pengetahuan serta pemikiran kita tak akan berubah tanpa adanya ke gagalan atau ancaman. Pola fikir manusia tak akan berkembang dan kritis sebelum pernah mengalami yang namanya kegagalan seperti besi baja tak akan menjadi pedang yang tajam dan kuat apabila belum ditempa dengan keras. Begitu halnya dengan pemikiran manusia, tak akan cerdas dan kritis sebelum pernah mengalami kegagalan dan menemui masalah. Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang terbaik. Melalui tulisan ini Saya mengajak pemuda dan pemudi Hindu, mulai saat ini, mari kita pertahankan pulau kita, kita pertahankan agama kita, kita pertahankan kearifan lokal kita, mari militan untuk menyelamatkan tanah Bali.

Selain itu, melalui tulisan ini Saya juga ingin menyampaikan aspirasi teman-teman Saya dan mungkin aspirasi masyarakat Bali. Banyak masyarakat Bali yang sangat terganggu dengan  bisingnya suara Loud SpeakerMasjid yang begitu keras. Seharusnya Masjid di Bali tidak perlu menggunakan Loud Speaker yang terlalu keras. Kebanyakan dari suara Loud Speaker Masjid sangat besar hingga ke gunung-gunung yang notabene tidak ada umat Islamnya dan juga terdengar ke wilayah yang tidak ada pemeluk Islamnya. Belakangan ini Masjid-Masjid di Bali dengan sengaja diisi Loud Speaker lebih dari satu bahkan hingga lima Loud Speaker. Hal ini menyebabkan kebisingan dan mengganggu keheningan umat Hindu Bali dalam melaksanakan Bhaktinya. Selain itu, beberapa pura Khayangan Jagad di Bali di sebelahnya dibangun Masjid Besar. Bukan Masjidnya yang kami permasalahkan, namun ketika mereka sholat, Loud Speaker itu sangat mengganggu kami-kami umat Hindu di Bali. Adapun solusi yang dapat kami berikan adalah sebagai berikut: 1. Masjid-Masjid yang berdekatan dengan Pura-Pura Umum, Pura Khayangan Jagat, atau Pura Sad Khayangan sebaiknya tidak perlu menggunakan Loud Speaker khususnya saat di Pura tersebut sedang berlangsung upacara-upacara keagamaan atau Pujawali, 2. Masjid boleh saja menggunakan Loud Speaker, namun tidak lebih dari satu serta tidak membuat kebisingan. Loud Speaker Masjid cukuplah hanya untuk didengar oleh warga muslim sekitar bukan dengan tujuan untuk meng Arab kan Bali karena Kami, umat Hindu di Bali sudah memiliki alunan mantra-mantra suci dan kidung-kidung ilahi  untuk kami dengar.

Saya juga berpesan kepada seluruh umat Hindu di Bali agar lebih mencintai produk sendiri. Selagi saudara kita sesama Hindu Bali masih bisa menghasilkan produk sendiri sebaiknya kita membeli produk saudara kita. Olahlah sumberdaya yang ada, dan jangan banyak gengsi. Lihatlah tempat – tempat wisata di Bali banyak didominiasi oleh pendatang luar. Kita jangan mengusir meraka apabila mereka sukses nanti, karena itu melanggar hukum. Yang perlu kita lakukan adalah kita harus berfikir cerdas dan berani bersaing dengan mereka serta mau memanfaatkan dan mengolah potensi yang ada. Masyarakat Bali harus mengurangi rasa gengsinya, karena uang lebih penting dari sebuah rasa gensi. Dengan uang kita bisa merubah nasib, namun gengsi hanya membuat perut lapar dan iri hati. Olahlah sumberdaya yang ada, manfaatkanlah seoptimal mungkin, garaplah lebih awal, sehingga lahan dan sumberdaya kita tidak sepenuhnya dikuasai oleh pendatang.

Singkatnya, mari belajar dari pengalaman dan masa lalu. Bangkitlah, Bangkitlah, dan Bangkitlah Generasi Hindu Bali. Mari kita jaga Bali. kita selamatkan Bali. Kita tak perlu melakukan tindak kekerasan, melakukan pengerusakan, namun yang perlu kita lakukan adalah Berjiwa Militan, berani berpendapat dan berani menantang hal yang dapat merusak Bali. Sudah saatnya masyarakat Bali untuk tidak saling bunuh dan saling tombak dengan saudara sendiri. Sejelek-jeleknya saudara masih lebih baik ketimbang orang lain. Mulai sekarang binalah diri sendiri, keluaraga, sahabat-sahabat, dan lingkungan kita, agar tak tercuci dengan ideologi sesat yang menghancurkan Bali. Kepada semua pihak yang membaca teks ini untuk disebar luaskan kepada seluruh masyarakat Hindu Bali, sebagai masukan dan bahan renungan, demi terciptanya Bali Mandara dan Jagatdita.  Save Our Bali! Satya Dharma!

*) Penulis adalah Pengamat Bahasa, Budaya, dan Peradaban Nusantara.

Email : widyasuputra@gmail.com

%d bloggers like this: