Saya lahir di sebuah keluarga sederhana di desa Talang Rimba, Kecamatan Cengal Ogan Kombring Ilir, Palembang, Sumatera Selatan pada tanggal 3 Agustus 1992. Orang tua saya memberi nama Dino Pramiko. Keluarga saya hanyalah petani kecil yang memiliki sedikit lahan perkebunan sawit yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal kami. Desa kami cukup jauh dari kota. Waktu saya kecil, untuk pergi ke kota terdekat, kami harus melalui jalan-jalan yang sangat berdebu di kala musim kemarau dan berlumpur dikala musim hujan. Transportasi yang paling banyak melalui desa kami juga hanya truk-truk pengangkut kelapa sawit dan hasil perkebunan lainnya. Sangat jarang bisa kami temui bus-bus penumpang meski yang lebih “eksotis” dari bus kopaja di Jakarta sekalipun. Kalau tidak memiliki sepeda motor, maka orang-orang di desa kami terbiasa ke kota dengan menumpang di truk-truk barang.

Sejak kecil saya dirawat dengan penuh kehangatan oleh kedua orang tua saya. Keluarga saya adalah pemeluk agama Islam. Namun sebagaimana keluarga lain di desa saya yang hampir semuanya Islam, cerminan tingkah laku mereka dapat dikatakan sama sekali tidak Islami. Saya memang sering diajar mengaji di sebuah Masjid di dekat rumah. Tetapi pada saat yang bersamaan saya juga sering diajak melakukan maksiat. Sejak masuk SD saya sudah mengenal perjudian. Mulai dari togel, gaple, permainan dadu sampai sambung ayam. Bagaimana tidak, karena di desa kami meskipun tampak agamais, tapi hampir semua pemuda di lingkungan kami jati dirinya sangat bobrok.

Karena desakan teman-temen sepermainan dan melihat para orang tua yang merokok, saya sudah menikmati rokok sejak umur 11 tahun. Awalnya rokok itu saya dapatkan gratis dari teman-teman sepermainan dan bahkan dari seorang pemuka agama setempat. Pertama mencoba rokok, rasanya pahit dan memang tidak enak. Tetapi karena image yang berkembang mengtakan kalau tidak merokok itu banci, maka tetap saja rokok yang pahit itu saya hisap. Minggu-minggu pertama saya hanya menghabiskan tidak lebih dari satu batang rokok per hari. Tetapi setelah sekian lama berlalu, saya sanggup menghabiskan lebih dari satu bungkus per hari. Saat itu saya tidak bisa lepas dari “kenikmatan” merokok. Kalau orang tua saya tidak memberi duit untuk merokok, semua perabotan di rumah bisa terbang melayang.

Di kampung saya, pasti selalu ada dangdutan jika ada keluarga yang memiliki hajatan. Anak-anak muda dan bahkan yang masih SD sudah terbiasa melihat penyanyi dangdut dengan pakaian minim. Anak SD yang naik ke panggung dan memberi saweran merupakan pemandangan yang biasa. Saat itu umur saya baru sekitar 11 tahun ketika ikut dangdutan dan naik ke panggung bersama beberapa teman-teman yang lain. Awalnya memang malu-malu, tapi ternyata asyik juga nyawer dan megang-megang tubuh seksi para penyanyi dangdut itu. Saat acara hajatan seperti ini, yang punya hajatan biasanya juga menyediakan minuman beralkohol seperti bir dan tuak. Dan pada saat itupun ternyata teman-teman saya juga membawa beberapa minuman keras yang saya sendiri tidak ingat apa merknya. Sambil menikmati alunan musik dangdut, kami duduk rame-rame di tempat remang-remang beberapa puluh meter dari panggung dangdut. Di sanalah untuk pertama kalinya saya dicekoki minuman keras yang membuat kepala saya berat dan mabuk. Meski tidak seenak minum jus atau es cream, tapi pada saat mabuk perasaan memang terasa melayang, tenang dan merasa diri paling segalanya walaupun semua itu tidaklah nyata. Melihat ilusi seperti itu dan melihat bagaimana temen-temen yang mabuk muntah-muntah dan tampak seperti orang sakit, tetapi sulit melepas kecanduan miras ini. Perasaan mencoba setegug demi seteguk selalu bergejolak. Pokoknya setiap ada hajatan atau kumpul-kumpul yang menyediakan minuman keras, saya pasti ikut ada di sana.

Pada saat duduk di bangku kelas empat SD, tingkah laku saya semakin tidak karuan karena pengaruh rokok, miras dan pergaulan yang tidak karuan tersebut. Berkelahi demi seteguk miras, menendang pintu di rumah, adu mulut dengan orang tua  dan bahkan kabur tidak pulang-pulang sudah menjadi hal yang biasa. Itu jugalah yang menyebabkan saya tidak lagi melanjutkan pendidikan. Kelas empat SD adalah jenjang pendidikan terakhir yang pernah saya rasakan. Setelah itu saya memutuskan merantau kabur dari rumah bersama beberapa teman-teman yang lain. Saya numpang hidup dengan menjadi buruh serabutan, membantu menyadap getah karet, ngangkut kelapa sawit dan apa saja yang penting menghasilkan uang untuk rokok dan miras.

Bukannya menjadi semakin mandiri, ternyata di perantauan saya menjadi semakin tidak terkendali. Menginjak umur yang ke tiga belas saya sudah berkenalan dengan ganja. Awalnya disodori seorang kenalan secara gratis. Katanya ganja itu seperti tembakau tetapi memiliki efek fly yang lebih nikmat dari rokok. Fly dengan ganja memang kerasa jauh lebih nikmat dari pada alkohol, apa lagi rokok. Tetapi di sisi yang lain ternyata memberi efek ketagihan yang luar biasa. Saat saya sudah ketagihan ganja, teman yang biasa memberi saya secara gratis tidak lagi memberikannya. Karena itu mau tidak mau saya harus membeli beberapa linting ganja dari dia setiap minggunya. Tidak berselang setahun setelah berkenalan dengan ganja, beberapa jenis obat-obatan juga telah saya teguk. Mulai dari inex, ekstasi bahkan yang paling terakhir adalah shabu-shabu. Modusnya juga sama, semua obat-obatan itu saya dapatkan secara gratis dari kenalan-kenalan sesama perantau. Namun pada akhirnya semua duit yang saya dapatkan sebagai buruh habis hanya untuk obat. Saya rela tidak makan demi mendapatkan obat yang bisa membuat saya fly, kerasa tenang, tidak gelisah dan percaya diri. Bahkan dikala tidak memiliki duit, beberapa kali saya pernah mencoba memalak dan mencuri kecil-kecilan. Dunia hitam sudah mulai menyelimuti saya di usia yang sangat belia.

Orang bilang judi, miras, obat dan wanita tidak bisa dipisahkan. Semua itu memang benar adanya. Selama jauh dari orang tua, disamping ditemani rokok, miras dan obat-obatan, wanita juga tidak pernah jauh dari perhatian saya. Menyewa “ayam kampung” sudah menjadi kebiasaan. Bahkan pernah saya bersama beberapa temen menyewa perek secara patungan. Kami melakukan itu bahkan bukan di sebuah rumah, tetapi di sebuah semak belukar di suatu kebun yang hanya dengan beralaskan koran. Berkenalan dengan cewek-cewek lalu melakukan cinta satu malam juga sudah biasa. Saya juga sudah sekian banyak menjalin hubungan pacaran baik dengan wanita yang baru saja memasuki masa pubertas ataupun yang umurnya jauh lebih tua dari saya. Sampai-sampai karena saking seringnya main ke rumah salah satu pacar saya tersebut, pernah suatu ketika saya disuruh menikah oleh orang tuanya. Padahal waktu itu umur saya baru sekitar 15 tahun dan pacar saya baru 13 tahun. Mungkin mereka melihat itulah yang terbaik bagi kami karena terus terang kehidupan kami juga sudah sangat hancur. Kami sudah terbiasa melakukan hubungan suami-istri. Jika saya hitung-hitung sejak pertama kali saya mengenal kehidupan seks sampai umur saya baru menjelang 17 tahun, saya sudah menghamili tidak kurang dari 7 wanita. Tetapi semua wanita tersebut akhirnya saya tinggal kabur dan saya juga tidak tahu entah bagaimana nasib ke-7 janin hasil tindakan bejat saya itu.

Pada umur saya yang ke-17, saya memutuskan untuk pulang dari rantauan dan kembali ke rumah orang tua saya di kampung. Entah kenapa pada saat itu saya mulai berpikir kalau semua yang saya perbuat di rantau hanyalah kesia-siaan. Saya merasa rindu kehangatan orang tua. Saya juga merasa lelah melarikan diri dari berbagai masalah. Meski dengan kondisi layuh akibat rokok, miras dan obat yang menggerogoti dan tanpa tabungan sepeserpun, ternyata kedua orang tua saya menyambut saya dengan penuh kehangatan. Beruntung pada saat itu di rumah juga ada seorang berdarah Bali penganut Hindu Vaisnava yang biasa disebut dengan “Hare Krishna”. Beliau adalah biasa dipanggil Prabhu Ganga yang berasal dari daerah Tri Dharma di Lampung. Beliau sering ke rumah karena ternyata beliau memiliki relasi bisnis dengan kedua orang tua saya dalam hal perkebunan kelapa sawit. Saat itu saya begitu kagum melihat Prabhu Ganga. Prabhu Ganga tidak mengkonsumsi daging, ikan dan telur, apa lagi mengkonsumsi alkohol, ganja, obat dan shabu seperti saya. Benar-benar suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan saya selama ini. Setelah ngobrol sekian lama, saya juga mengetahui bagaimana ajaran yang diterapkan Prabhu Ganga begitu ketatnya. Disamping berpola hidup Vegetarian, beliau juga berpantang mabuk-mabukan, berjudi dan berzinah. Beliau juga bercerita mengenai banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan material dan spiritual. Itulah titik balik saya yang membuat saya berpikir keras dan berusaha meninggalkan kehidupan kelam sebelumnya. Akhirnya atas dorongan orang tua yang juga ingin melihat saya menjadi lebih baik dan disaksikan oleh para pemuka desa dan bahkan dengan membuat surat pengantar khusus yang ditandatangani oleh kepada desa dan kedua orang tua saya, saya memutuskan mengikuti jejak Prabhu Ganga.

Saat itu juga saya ikut beliau pulang ke Tri Dharma. Selama seminggu saya tinggal di rumah beliau di Tri Dharma dan mendengarkan bagaimana saya harus bersedia merubah diri 180 derajat dengan tinggal di Ashram Radha Govinda di daerah Puncak, Bogor. Saya berusaha mendengarkan dan mengikuti arahan beliau dengan sungguh-sungguh. Memang suatu hal yang benar-benar sulit. Seminggu itu saya harus rela lepas dari rokok, alkohol, obat-obatan dan juga wanita. Suatu masa-masa yang sangat sulit dan menderita.

Pada waktu itu sekitar akhir tahun 2009 ketika akhirnya atas bantuan Prabhu Ganga saya diantar langsung ke Ashram Radha Govinda di Bogor. Meski sudah mendapat pengarahan yang cukup panjang, tetapi jujur saya begitu kaget karena ternyata banyak hal-hal baru yang saya temui di ashram. Mulai dari pakaian para penghuninya yang menyerupai pakaian naik haji, rambut yang dikuncir seperti anak punk, pemujaan arca yang sebelumnya saya anggap sebagai sebuah kemusyrikkan, bangun jam 3.30 pagi dan mandi dengan air yang sangat dingin sekali, berjapa atau bertasbih di pagi-pagi buta, jam 4.30 pagi harus mengikuti prosesi persembahyangan yang sangat berbeda dari apa yang pernah diajarkan kepada saya dulu dan juga mendengarkan pelajaran 3-4 jam sehari. Sebuah pengalaman baru yang menyenangkan, tetapi sering juga membuat saya bosan karena belum terbiasa. Sering saya ingat dengan masa lalu saya sehingga pada awal-awal di sana saya sering menutup diri dari pergaulan dengan teman-teman yang lain. Sering juga saya berusaha komunikasi lewat sms dan telp dengan teman-teman cewek lama saya di kampung dan juga mulai menghibur diri di dunia maya. Tetapi itu dulu. Sekarang saya sudah mulai merasakan nikmatnya pola kehidupan yang baru dengan berusaha melakukan pelayanan bhakti melalui ajaran Bhakti Yoga dalam garis gerguruan Brahma Madhva Gaudya Vaisnava.

Setelah belajar selama sekian 2 tahun dan para senior menganggap saya sudah cukup mengerti akan ajaran ini dan bisa mengikuti semua pantangan dan menjalankan kewajiban, tepat pada saat hari ulang tahun saya pada tanggal 3 Agustus 2011 yang baru saja berlalu akhirnya saya diterima murid oleh Guru Maharaj Kavichandra Swami yang merupakan murid langsung dari Srila Prabhupada, pendiri ISKCON yang menyebarkan ajaran Veda melalui gerakan Hari Nama Sankirtana ke seluruh dunia. Guru Maharaj menganugrahi saya nama rohani Dina Bandhu Dasa. Sebuah nama yang sangat indah di telinga saya.

Beberapa minggu yang lalu saya juga sempat pulang ke rumah orang tua saya dan sungkem dengan mereka. Mereka sangat terkejut melihat perubahan drastis yang saya alami. Mereka sangat terharu dan tatap mata mereka mencerminkan kebahagiaan yang sangat besar. Anaknya yang dulu preman sekarang sudah mulai bisa mengikuti ajaran spiritual. Tetangga-tetangga dan teman-teman saya yang dulu juga terheran-heran melihat perubahan saya ini. Terimakasih saya ucapkan kepada Prabhu Ganga dan semua senior-senior saya di Radha Govinda Asram atas semua bimbingannya selama ini sehingga saya bisa menjadi lebih baik. Semoga Guru Maharaj dan para Sadhu bersedia terus membimbing saya terlepas dari ikatan material ini dan mencapai kepada pelayanan bhakti kepada kaki padma Sri Sri Radha Govinda. Semoga ajaran bhakti yang sangat berkaruni ini bisa menyebar ke seluruh dunia dan menyelamatkan orang-orang yang jatuh seperti saya.

Om Tat Sat,-

NB: Ditulis ulang dari sudut pandang pihak pertama berdasarkan wawancara pada tanggal 14 Agustus 2011

%d bloggers like this: