Secara mengejutkan, kisah banjir bandang yang diikuti dengan kisah penyelamatan sejumlah komunitas dengan bantuan wahana besar seperti perahu atau perwujudan hewan besar ternyata tidak hanya monopoli Hindu yang terkenal dengan kisah Matsya Avatara-nya yang menyelamatkan Manu serta agama rumpun Abrahamik dengan kisah nabi Nuh-nya. Kisah yang serupa juga dapat ditemukan di China, Polinesia, Sumatra, Amerika, Hawaii, Rusia, Wales, Babilonia, Peru, Scandinavia dan di berbagai belahan dunia lainnya dengan tidak kurang dari 500 jenis kisah yang serupa. Semua kisah-kisah serupa ini menunjukkan kemiripan dan diindikasikan berasal dari sumber yang sama, tetapi karena proses pendistorsian akibat cerita dari mulut ke mulut menghasilkan berbagai macam variasi cerita.

Kesamaan kisah-kisah banjir bandang tersebut antara lain disebutkannya peringatan dini bahwa banjir tersebut akan terjadi, kisah wahana baik berupa kapal super besar maupun kemunculan sosok super besar yang mengangkut spesies yang diselamatkan, penampungan hewan-hewan, pengikutsertaan keluarga, pelepasan burung untuk mengetahui bahwa air sudah mulai surut, dan dari kenyataan penyebaran cerita yang begitu luas dan oleh karena faktor bahasa dan komunikasi oral menyebabkan detail waktu cerita tersebut umumnya tidak jelas.

Dalam literature Veda yang diwahyukan di India menyebutkan bahwa pada saat Manu mencuci tangannya di sungai, seekor ikan kecil mendekati tangannya seolah-olah ikan tersebut meminta perlindungan kepada Manu. Akhirnya manu menempatkan ikan tersebut di sebuah mangkok kecil, namun secara singkat ikan tersebut tumbuh membesar memenuhi mangkok. Manu akhirnya memindahkannya ke sebuah tong, tetapi sekali lagi ikan tersebut tumbuh membesar memenuhi tong. Karena ukuran tong juga tidak sanggup menampungnya, ikan tersebut secara berturut-turut akhirnya dipindahkan ke kolam, sungai dan ke samudra. Melihat keajaiban tersebut, pada saat memindahkan ikan tersebut ke samudra Manu menyadari bahwa ikan tersebut bukanlah ikan biasa, melainkan perwujudan Tuhan, Sri Visnu sebagai Matsya Avatara. Dalam posisi menyembah Matsya Avatara, manu diberi peringatan bahwa dalam waktu satu minggu akan terjadi banjir besar yang akan menghancurkan seluruh kehidupan. Akhirnya Manu membuat perahu yang digandeng dengan Matsya Avatara tersebut dan membawanya tetap survive dan memulai kehidupan baru setelah banjir besar itu usai.

Dalam kebudayaan Sumeria sesuai yang tercantum dalam Eridu Genesis sekitar abad ke-17 SM disebutkan bahwa Dewa Enki memperingati Zi-ud-sura (arti harfiah nama ini; “dia yang melihat kehidupan”) bahwa akan terjadi banjir besar yang akan meluluhlantakkan semua kehidupan di dunia atas kebijakan yang diambil oleh para dewa. Pada akhir peringatan, Dewa Enki memerintahkan Zi-ud-sura (yang juga dikenal dengan nama Atrahasis) membangun kapal besar untuk menyelamatkan diri dan memulai kehidupan baru setelah banjir besar surut. Sayangnya, manuskrip yang menceritakan kenapa para dewa mengambil kebijakan menghancurkan kehidupan di dunia dan memulainya dengan kehidupan baru serta penjelasan perintah pembangunan kapal besar hilang. Disebutkan banjir besar akhirnya surut setelah tujuh hari. Dan pada saat itu Zi-ud-sura membuat persembahan dan bersujud kepada dewa An (dewa langit) dan dewa Enlil (pemimpin para dewa). Atas karunia kedua dewa tersebut, Zi-ud-sura akhirnya diberikan kehidupan abadi di Dilmun ( Sumerian Eden).

Menurut epik cerita Gilgamesh yang muncul dalam peradaban Babilonia memperlihatan kesamaan dan indikasi bahwa cerita ini adalah versi berbeda dari epik Atrahasis di Sumeria. Diceritakan Gilgamesh menemui Utnapishtim di Dilmun yang merupakan sebuah sorga di dunia. Utnapishtim memberitahu bagaimana Ea (eqivalen dengan dewa Enkin di Sumeria) memperingati akan terjadi banjir besar. Gilgamesh juga diperintahkan untuk membuat kapal besar yang sanggup menampung dirinya, keluarga, teman-temannya, ternak dan harta kekayaannya. Setelah terjadinya banjir bandang, Gilgamesh juga dianugrahi kehidupan kekal sebagaimana kisah Zi-ud-sura di Sumeria.

Dalam kitab Genesis (6-9) yang menjdi pegangan agama Yahudi dan Kristen disebutkan bahwa Tuhan memilih nabi Nuh (Noah) dan memerintahkannya untuk membangun kapal besar. Nuh akhirnya menyelamatkan keluarganya, berbagi macam hewan dan burung dari ancaman banjir besar. Setelah kapal selesai di bangun, hujan berlangsung selama 40 hari yang mengakibatkan peningkatan debit air selama 150 hari. Setelah kapal merapat di sebuah pegunungan dan air kembli surut setelah 150 hari, Nuh membuka perahu dan membiarkan hewan-hewan keluar meninggalkan perahu. Setelah itu Nuh menghaturkan persembahan kepada Tuhan dan Tuhan menempatkan pelangi di awan sebagai tanda bahwa Dia tidak akan pernah menghancurkan kehidupan di Bumi lagi dengan banjir besar seperti itu.

Pada kisah banjir bandang yang tercantum dalam kitab suci Islam, Al-Qur’an,  menunjukkan kesamaan dengan apa yang dicantumkan dalam kitab Genesis. Perbedaannya hanya mengenai siapa itu Nuh, istrinya, dan jenis-jenis mahluk hidup yang ditampung di dalam kapal. Dalam versi Al-Qur’an ini juga disebutkan bahwa banjir yang terjadi bersifat lokal yang bertujuan hanya untuk menghukum orang-orang nabi Nuh yang memuja berhala dan menolak pengajaran nabi Nuh mengenai keesaan Allah. Tempat merapatnya kapal nabi Nuh disebutkan berlokasi di gunung Judi, yang secara tradisional diidentifikasi sebagai pegunungan dekal Mosul di wilayah Irak.

Dalam tradisi Batak di Indonesia ternyata juga mengisahkan akan adanya kisah banjir bandang yang serupa. Hanya saja dalam kisah ini disebutkan bahwa bumi berada pada seekor ular sangat besar yang disebut sebagai Naga Pahoda. Diceritakan pada suatu hari sang naga lelah menahan beban dan akhirnya melempar Bumi ke dalam samudra. Oleh karena itu Dewa Batara Guru menyelamatkan putrinya dengan cara mengirimkan pegunungan kedalam lautan. Pada akhir kisah disebutkan bahwa Bumi kembali ditempatkan ke atas kepala sang Naga dan seluruh peradaban manusia akhirnya dimulai kembali dari putri Batara Guru tersebut.

Melihat dari kesamaan-kesamaan ini dan kenyataan kecenderungan peradaban manusia dalam melakukan penyerapan, penyesuaian dan bahkan penggubahan kisah-kisah yang diserap dari kebudayaan berbeda, mungkinkah kisah-kisah banjir besar ini pada dasarnya bersumber dari satu sumber yang sama?

Dikutip dari sumber Anonim “Similarities in Flood Myths Around The World” [a PowerPoint Presentation]

%d bloggers like this: