Dalam beberapa artikel sebelumnya yang berkaitan dengan sains dalam Veda ternyata mendapat respon yang cukup menarik di beberapa forum dan blog tetangga. Terutama sekali yang membahas masalah penciptaan alam semesta dan mengenai hipotesa teori penciptaan Black Hole dan White Hole. Memang harus saya akui bahwa respon yang muncul tidaklah selalu positif atau setidaknya berupa kritik pedas yang dapat membangun, tetapi banyak juga yang melemparkan isu skeptis negatif. Tidak tanggung-tanggung dalam sebuah blognya ada yang menyerang institusi dan almamater saya.

Memang harus saya akui bahwa dalam penulisan artikel sains dan korelasinya dengan Veda, saya tidak selalu menggunakan metodologi ilmiah sebagaimana penulisan-penulisan jurnal-jurnal hasil penelitian ilmiah yang umum digunakan di dunia ilmu pengetahuan saat ini. Kenapa demikian? Karena harus disadari bahwa titik pangkal dari agama (dalam hal ini Veda) dan sains sangatlah berbeda. Metologogi pendekatan dalam menarik “kebenaran” dari kedua bidang ini sama sekali tidak bisa disamakan. Oleh karena itu, untuk menanggapi permasalah yang muncul akibat artikel saya tersebut dan untuk menyamakan persepsi dan pola pikir, saya harap ulasan berikut akan dapat memberikan sedikit gambaran.

Diceritakan bahwa terdapat lima orang yang sudah buta sejak lahir sehingga sama sekali tidak pernah merasakan dunia ini dengan indria penglihatannya. Mereka hanya berinteraksi dengan lingkungannya menggunakan indra peraba, pendengaran, pengecap dan ciuman. Pada suatu hari mereka sedang asyik bergurau di bawah sebuah pohon di pinggir sebuah sungai. Pada saat itu lewatlah seekor gajah dewasa yang memang sering berkubang di dekat peristirahatan mereka. Salah seorang dari antara orang buta tersebut berteriak; “Oh.. teman-teman ada gempa bumi, ada sesuatu yang sangat besar sedang berusaha merubuhkan bumi kita, mari kita selidiki dari manakah sumber getaran ini”. Sesaat setelah itu akhirnya orang buta pertama tepat memegang bagian perut si gajah yang sedang berbaring. Setelah meraba-raba berapa saat, sontak dia berkata; “Wah ternyata benda yang bisa menggetarkan dunia persis seperti tembok, badannya besar sekali dan kulitnya kasar serta berbulu jarang”. Setelah itu orang buta kedua datang mendekat dan dengan penasaran meraba-raba sang gajah. Namun yang dia pegang ternyata tidak sama dengan orang buta pertama, melainkan dia memagang belalainya. Sehingga tentu saja orang yang kedua ini berteriak membantah apa yang disampaikan oleh temannya; “Bukan, binatang ini persis seperti ular besar, mungkin dia sudah mencoba membuat lubang besar di dalam perut bumi kita sehingga membuat tanah kita bergetar”. Orang buta ketiga akhirnya juga mendekat karena penasaran. Namun lagi-lagi sayang sekali dia tidak meraba bagian gajah yang sama dengan kedua temannya, melainkan dia memegang gading si gajah. Akhirnya orang buta yang ketiga ini berusaha memberikan kesimpulan penengah dengan mengatakan “Bukan… bukan seperti tembok atau ular besar, kalian salah. Binatang ini sangat halus tetapi sangat keras, persis seperti tongkat besi besar halus yang meruncing”. Namun orang buta keempat datang lagi dan tepat memegang ekor si gajah. Akhirnya orang buta ini juga mendapatkan kesimpulan lain dengan mengatakan; “Binatang ini seperti kipas cemara yang buat arati (kipas buat upacara dan juga jaman dulu sering digunakan untuk mengipasi seorang Raja)”. Lalu orang buta yang terakhir juga ikut mendekat, namun lagi-lagi ternyata dia meraba bagian yang juga berbeda dengan apa yang teman-temannya raba sebelumnya. Dia meraba kaki si gajah. Akhirnya dia berkata; “kalian semua salah, binatang ini seperti batang pohon yang hidup dan dapat bergerak. Mungkin dia sudah loncak-loncat dan menumbuk bumi kita ini sehingga bergetar”.

Setelah puas mengamati si gajah hanya dengan indranya yang tidak sempurna, akhirnya mereka kembali duduk ke bawah pohon yang rindang. Namun karena perbedaan kesimpulan yang mereka dapatkan, diskusi kelima orang buta itu menjadi semakin panas dan tidak pernah menemukan kesimpulan. Masing-masing orang buta tersebut mengemukakan pengalaman nyatanya sebagai bukti otentik kesimpulannya. Semunya ngotot dengan kesimpulannya masing-masing. Berselang beberapa lama, akhirnya lewatlah seseorang yang ternyata merupakan pawang gajah yang sempat mereka pegang. Si pawang tersenyum-senyum mendengarkan perdebatan tiada ujung yang dilakukan oleh para orang buta tersebut. Dalam hatinya si pawang tersebut berkata; “dasar orang buta bodoh, kenapa mereka tidak bertanya langsung dan menerima penjelasan orang normal yang bisa menyaksikan si gajah tersebut secara utuh saja?”. Si pawang itupun akhirnya mendekat dan berusaha mendamaikan perselisihan. Si pawang berusaha menjelaskan sedetail-detailnya bagaimana kondisi sebenarnya dari binatang yang mereka permaslahkan tersebut. Namun sayang sekali, ternyata berhadapan dengan orang buta yang bodoh tidaklah selalu mudah. Hanya satu orang di antara orang buta tersebut yang menerima penjelasan yang disampaikan sang pawang, sementara keempat orang buta lainnya masih tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan mengatakan bahwa pendapatnyalah yang paling benar.

Dari kasus lima orang buta dan gajah diatas, sebenarnya memiliki analogi yang sangat erat dengan fenomena Veda dan sains yang berusaha saya jelaskan dalam artikel ini. Kita ini tidak ubahnya seperti orang buta yang sedang berusaha mengenal alam sekitar kita. Karena rasa ingin tahu kita yang besar, kita selalu berusaha melakukan berbagai research. Melakukan trial and error dan akhirnya menarik sebuah kesimpulan dimana kesimpulan ini selalu berubah dan diperbaharui sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam memperoleh kebenaran, saat ini manusia mengandalkan dua jenis pendekatan, yaitu pendekatan non ilmiah dan pendekatan ilmiah. Yang termasuk dalam pendekatan non ilmiah adalah antara lain; akal sehat, prasangka, intuisi, penemuan secara kebetulan (trial and error), penerimaan pendapat dari seorang pakar karismatik. Sedangkan pendekatan yang disebut dengan pendekatan ilmiah dan diagung-agungkan oleh dunia sains adalah suatu pendekatan yang kesimpulannya siap untuk diuji oleh siapa saja yang berkehendak untuk mengujinya. Sehingga dalam tahapan ilmiah seorang peneliti harusnya mengikuti tahapan-tahapan dari perumusan masalah, mengajukan dan perumusan hipotesis, pengujian hipotesis dan terakhir adalah penarikan kesimpulan. Semua ini harus dilakukan secara sistematik, berkelanjutan dan dalam kerangka berpikir rasional. Artinya setiap bukti yang diajukan harus dapat dipertanggung jawabkan dan dibuktikan oleh panca indra kita atau justifikasi melalui perhitungan matematis yang dibenarkan. Pendekatan ilmiah seperti ini juga dikenal dengan istilah empiris induktif. Sedangkan dalam bahasa Veda, metode ilmiah ini disebutkan dengan istilah pratyakña (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumäna (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris).

Kaedah dasar yang harus digarisbawahi sebagai sebuah kelemahan metodologi ilmiah adalah kaedah Akumulatif. Ilmu pengetahuan merupakan himpunan fakta, teori, hukum, dalan lain-lain yang terkumpul sedikit demi sedikit. Apabila ada kaedah yang salah, maka kaedah itu akan diganti dengan kaedah yang benar. Sehingga pada dasarnya kebenaran sains bersifat relatif dan temporal, bukan kebenaran mutlak dan final, sehingga dengan demikian ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka. Metode ilmiah tidak ada bedanya dengan orang buta yang sedang memperdebatkan hewan gajah seperti yang sudah disampaikan di atas. Pemahaman orang buta tersebut akan gajah akan semakin berkembang sedikit demi sedikit bergantung pada usaha mereka melakukan penelusuran dan pembuktian. Mereka harus melalui berbagai macam kesimpulan-kesimpulan salah atau tidak lengkap. Meski suatu saat mereka bisa mendapatkan gambaran gajah secara benar.

Namun apa yang ditawarkan oleh Veda sangat bertolak belakang dengan metode ilmiah. Veda menggunakan metode deduktif, yaitu proses turun-temurun dari mereka yang sudah mengetahui ilmu pengetahuan itu secara sempurna kepada para pengikutnya. Sama persis seperti orang buta yang bersedia menerima penjelasan pawang yang memberi penjelasan mendetail tentang gajah di atas. Orang buta tersebut tentunya jauh lebih mudah menerima kebenaran dari apa yang disampaikan oleh pawang sebagai orang yang sudah mengetahui kebenaran itu dari pada harus melakukan ekspirimen dan perdebatan panjang bukan?

Veda sebagai kitab suci Hindu, berkali-kali menegaskan bahwa kehidupan sebagai manusia tidaklah sempurna karena indria-indria jasmani manusia terbatas dan tidak sempurna, cendrung menghayal, menipu dan berbuat salah. Karena itu mempelajari dan mengerti apa yang disampaikan oleh Veda, terutama sekali yang bersifat spiritual dan transendental tidak bisa dilakukan secara pratyakña (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumäna (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris). Veda mengatakan bahwa ajaran-ajaran yang jauh dari jangkauan alam logika manusia lebih baik dimengerti secara sabda-pramäëa, mendengar dari sumber yang benar dan sah yaitu dari para guru kerohanian (äcärya) secara paramparä (proses menuru/deduktip) dalam suatu garis perguruan (sampradäya) sah dan jelas (perhatikan Bhagavad Gita 4.34 dan 4.2). Metode ini sama seperti contoh orang buta yang mau menerima penjelasan pawang dalam cerita analogi di atas.

Hanya saja, mereka yang berwatak materialistik sempit, sering kali menolak proses sabda-pramäëa sebagaimana yang disarankan oleh Veda. Mereka berkata bahwa proses sabda ini mengharuskan orang percaya secara membabi buta, patuh dan tunduk pada dogma, berpegang pada keyakinan tanpa dasar atau khayalan. Menurut mereka, proses sabda tidak bisa dipercaya karena tidak ilmiah yaitu tidak didukung bukti-bukti empiris yang dapat dilihat. Mungkin sikap seperti ini muncul akibat kejadian pahit yang pernah menimpa umat manusia. Para rohaniawan dari golongan agama tertentu terlibat perselisihan berdarah dengan kelompok ilmuan yang mempertanyakan kebenaran yang disampaikan oleh kitab suci agama tersebut, terutama sekali mengenai apakah bumi itu benar-benar datar. Berdasarkan berbagai pembuktian, ternyata memang benar bahwa kesimpulan kaum agamawan yang berdasarkan kitab suci tersebutlah yang salah, sehingga hal ini otomatis mendorong banyak ilmuan menjadi skeptis dan tidak percaya lagi pada kitab suci agama bersangkutan. Mau tidak mau, suka tidak suka harus diakui bahwa tidak semua agama itu sama. Dan mungkin juga tidak semua agama lahir dari Sang Maha Pencipta. Atau mungkin ada beberapa ajaran agama yang sudah mengalami distorsi sehingga suatu pembahasan yang harusnya menghasilkan kesimpulan yang sama jika didekati secara ilmiah (empiris induktif) berdasarkan pada kesimpulan agama (empiris deduktif) tidak dapat tercapai. Untuk suatu kasus komplek yang sulit disimpulkan oleh pengamatan indria, tentu tidak mudah untuk mengatakan kesimpulan agamaah yang salah. Tetapi untuk suatu kasus yang sangat mudah diamati, tetapi bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh agama sudah barang tentu ajaran agamanyalah yang perlu dipertanyakan.

Bagaimana dengan Veda? Jika seseorang ingin mengerti suatu hal secara empiris, Veda juga telah menyediakan sistem filsafat Säìkhya untuk menelaah apara-vidyä (ilmu pengetahuan material) yang masih terjangkau oleh pengamatan panca indria meski sangat terbatas. Dengan sistem Säìkhya ini, apa yang disampaikan Veda siap untuk diuji dan dipertanyakan kebenarannya secara empiris deduktif. Hanya saja, jika sudah membicarakan para-vidyä, pengetahuan tentang Tuhan dan jéva yang non material, maka proses empiris deduktif ini sama sekali tidak akan bisa digunakan lagi karena hal-hal rohani sangat berbeda dan tidak tersentuh oleh teori-teori materialistik yang hanya berlaku di dunia material.

Gambar di atas memperlihatkan ketidaksempurnaan indria kita karena terpengaruh ilusi optis


Pada dasarnya Agama dan sains juga memiliki titik temu. Agama membahas hal material dan hal spiritual dan sains membahas hal material yang dapat diamati oleh indria manusia semata. Tidak semua hal material dijelaskan oleh agama karena memang tujuan akhir dari sebuah agama adalah alam rohani, namun demikian pada semua irisan permasalah ternyata sering kali ranah yang dibahas oleh agama merupakan permasalahan yang sama dengan yang dibahas oleh sains. Pada titik inilah sebenarnya sains dan agama bisa berkolaborasi. Pada irisan ini agama dapat mengontrol sains ataupun sebaliknya, sains membuktikan kesahihan suatu agama.

Mengenai pembahasan bagaimana menilai kebenaran suatu agama mungkin dapat dibaca lebih lanjut di artikel Bagaimana menilai kebenaran suatu agama?

Jadi dari uraian panjang lebar di atas, pada dasarnya meskipun mungkin membahas hal yang sama, antara agama dan sains memiliki pendekatan yang jauh berbeda. Sayangnya, perbedaan mendasar seperti ini sering kali tidak disadari oleh seseorang. Seorang yang terdidik secara akademis terlalu memelihara ego mereka dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan secara empiris induktif adalah yang paling hebat dan selalu superior dibandingkan dengan metode empiris deduktif. Mereka selalu berlingdung di balik “baju ilmiah” dalam memonopoli kebenaran. Padahal kenyataannya terdapat beberapa bidang yang sama sekali tidak bisa disentuh dengan dunia sains dan hanya bisa dijelaskan oleh ranah agama dan demikian juga sebaliknya.

Om Tat Sat


Dikutip dari berbagai sumber.

%d bloggers like this: