Di internet, baik yang dipublikasikan sebagai artikel, forum dan/atau mailing list sudah banyak dibahas mengenai kontroversi TajMahal. Namun untuk mendukung argumen-argumen dalam home page ini saya kira tidak ada salahnya saya tuliskan lagi di sini.

Artikel ini merupakan saduran dengan perbaikan terjemahan dari email yang saya peroleh dari milis Peradah (peradah-indonesia@yahoogroups.com) yang diposting oleh member yang menggunakan username Gede Sugik. Untuk lebih memperjelas dan menguatkan bukti-bukti yang menyatakan bahwa Taj Mahal adalah merupakan Kuil Hindu untuk dewa Siva yang disabotase oleh pejajah Islam waktu itu, saya juga menyadur dari beberapa sumber-sumber yang dapat dipercaya, salah satunya adalah dari tulisan Stephen Knapp.

Pencetus isu yang sangat kontroversial ini salah satunya adalah seorang ahli arkeologi dan sejarah bernama  P.N.Oak. Sebagai mana yang sudah saya posting sebelumnya, P.N. Oak juga menelurkan karya tulis ilmiah yang tidak kalah fenomelanya, yaitu yang menyatakan Ka’bah adalah merupakan bekas kuil Hindu. Sebagai seorang ilmuan tentunya beliau berargumentasi berdasarkan data-data ilmiah yang ditemukan di lapangan. Bagaimana beliau membuktikan bahwa TajMahal pada awalnya adalah kuil dewa Siva bernama Tejo Himalaya? Mari kita telusuri bersama.

Gambar Om Kara yang dimodifikasi

Jika anda mengunjungi TajMahal, anda akan melihat berbagai annex, puing-puing tembok pertahanan, bukit-bukit, danau kecil, air terjun kecil, tamam megah, ratusan kamar berberanda, teras, menara bertingkat-tingkat, kamar-kamar rahasia, kamar tamu, kandang kuda, puncak Trisula pada kubahnya dan huruf sakral Hindu “OM” yang biasanya diukir di tembok suatu  tempat suci.

Gambar lambang Siva di puncak TajMahal

Dilihat dari segi nama Tajmahal itu sendiri, dapat kita lihat bukti-bukti sebagai berikut:

  1. Sebutan TajMahal sendiri tidak pernah nampak dari surat-surat atau arsip-arsip kerajaan Mogul, bahkan semasa pemerintahan Pangeran mogul Aurangzeb masa yang diisukan sebagai masa “konstruksi” TajMahal
  2. Kata akhiran “Mahal” bukan istilah muslim karena tidak ada satupun negara muslim di dunia ini, dari Afghanistan sampai Aljazair, yang menamakan gedung mereka dgn kata “Mahal”.
  3. Anggapan umum bahwa kata TajMahal berasal dari nama permaisuri Mumtaz Mahal, yang dikubur didalamnya, tidak logis. Beberapa alasannya antara lain; namanya bukan Mumtaj Mahal tetapi Mumtaz-ul-Zamani. Apalagi nama wanita India akan terdengar aneh kalau kita memotong
    ketiga huruf pertamanya, “Mum”, dan menempelkannya pada nama
    gedung.
  4. Karena nama wanita itu adalah Mumtaz (berakhir dgn ‘Z’) seharusnya nama gedung itu menjadi Taz Mahal, dan bukan Taj (berakhir dgn ‘J’).
  5. Sejumlah pengunjung Eropa pada jaman Shahjahan merujuk pada gedung itu sebagai Taj-e-Mahal, sesuai dgn tradisi jaman itu dan sesuai dgn kata Sansekerta tua Tej-o-Mahalaya, nama sebuah kuil dewa Siwa. Tetapi Shahjahan dan Aurangzeb secara licik menghindari penggunaan kata Sansekerta itu dan hanya menyebutnya “makam suci”.
  6. Sejarah mencatat bahwa semua anggota istana atau anggota kerajaan Muslim termasuk Humayun, Akbar, Mumtaz, Etmad-ud-Daula dan Safdarjang dikubur dalam kuil-kuil dan tempat-tempat suci Hindu, bahkan ternyata di Indonesia juga demikian. Banyak tempat suci berubah menjadi kuburan sebagaimana saya kutip dalam sebuah artikel saya di homepage ini.
  7. Kalau memang makam/kuburan, mengapa memakai kata “Mahal”, yang nota bene berarti “mansion/gedung” ?
  8. Istilah TajMahal tidak tercatat dalam arsip istana mogul. Hal ini sangatlah aneh untuk suatu pembangunan gedung semegah itu. Hal ini sudah barang tentu karena kedua komponen namanya, ‘Taj’ dan’ Mahal’ adalah kata-kata Sansekerta.

Gambar Surat Aurangzeb kepada Shahjahan yang menyatakan TajMahal adalah kuil Hindu

Dilihat dari segi tradisi sebuah candi atau kuil yang merupakan tempat suci Hindu, maka dapat kita lihat kenyataan berikut ini.

  1. Isitlah TajMahal adalah dari istilah sansekerta TejoMahalay / Tejo Mahalaya, yaitu merujuk pada sebuah Kuil Siva.
  2. Tradisi lepas sepatu sebelum masuk gedung berasal dari jaman pra-Shahjahan saat TajMahal masih merupakan Candi Siva. Kalau memang TajMahal dulunya kuburan, orang tidak perlu melepaskan sepatu karena sepatu wajib dikenakan saat mengunjungi kuburan.
  3. Ukiran kendi-kendi berjumlah 108 (seratus delapan) yang merupakan angka suci dan keramat dalam tradisi Hindu.
  4. Orang-orang yang diberi tugas khusus untuk memperbaiki dan merawat TajMahal mengatakan telah melihat dalam tembok-tembok tebal dan ruang-ruang rahasia di lantai bawah yang tidak terbuka untuk umum yang berisi ukiran sakral lambang-lambang dewa Siva serta lingga Yoni Siva dan juga atribut-atribut dewa-dewa lainnya.
  5. Di India ada 12 Jyotirlinga, yaitu candi-candi megah bagi Dewa Siva. Tejomahalaya alias Tajmahal nampaknya merupakan salah satunya yang dikenal sebagai Nagnatheshwar karena penuh dengan hiasan ular naga. Padahal dalam tradisi Islam tidak diperkenankan mengukir/membuat suatu perwujudan naga seperti ini, kenapa dalam bangunan tajMahal terdapat hiasan ular naga?
  6. Manuskrip yang merupakan bagian kitab suci Hindu dibidang arsitektur yang terkenal berjudul Vishwakarma Vastushastra menyebut adanya ‘Tej-Linga’ diantara para Shivalinga, yaitu simbol-simbol Dewa Siva yg terbuat dari batu. Karena sebuah Tej Linga di-“konsekrasi” di Taj Mahal, maka timbullah isitilah TajMahal alias Tejo Mahalaya.
  7. Kota Agra, tempat lokasi TajMahal, adalah pusat kuno pemujaan Siva. Para penduduk orthodox-nya selama berabad-abad meneruskan tradisi pemujaan di lima candi Siva sebelum makan malam selama bulan Shravan.
  8. Beberapa abad terakhir ini, warga Agra hanya dapat meneruskan tradisi ini di 4 kuil Siva yaitu, Balkeshwar, Prithvinath, Manakameshwar dan Rajarajeshwar. Mereka kehilangan jejak kuil kelima dewa Siva, tempat pemujaan nenek moyang mereka. Ternyata, kuil ke lima adalah Agreshwar Mahadev Nagnatheshwar yaitu, Dewa Agra, dewa para naga, yang di-konsekrasi di Tejomahalay alias Tajmahal.
  9. Suku yang mendominasi wilayah Agra bernama Jat. Nama mereka bagi Siva adalah Tejaji. Isu Khusus tentang Jat dalam majalah The Illustrated Weekly India (Juni 28,1971) menyebut bahwa suku Jat memiliki Teja Mandir atau kuil-kuil Teja. Ini karena Teja-Linga adalah diantara beberapa nama Shiva Linga. Dari sini jelas bahwa Taj-Mahal adalah Tejo-Mahalaya, tempat kediaman megah milik Tej/Siva.

Dari manuskrip-manuskrip kuno dan bukti-bukti arsip lainnya diperoleh keterangan antara lain sebagai berikut;

  1. Arsip istana Shahjahan sendiri berjudul Badshahnama, pada halaman hal 403, jilid 1 mengakui bahwa sebuah istana megah dan unik yang dihias dengan atap berupa kubah (Imaarat-a-Alishan wa Gumbaze) diambil dari
    Jaipur Maharaja Jaisigh bagi kuburan Mumtaz, dan gedung itu dikenal sbg istana Raja Mansingh.
  2. Surat Pangeran Aurangzeb kepada ayahnya, kaisar Shahjahan, tercatat paling tidak dalam 3 bagian berjudul `Aadaab-e-Alamgiri’, Yadgarnama’, dan `Muruqqa-i-Akbarabadi’ (diedit oleh Said Ahmed, Agra, 1931, halaman 43, catatan kaki 2). Dalam surat itu, Aurangzeb mencatat tahun 1652 M bahwa berbagai bagian gedung dalam ketujuh tingkat Taj Mahal itu saking tuanya sehingga atap-atap sering bocor, sementara dibagian utaranya terlihat garis-garis retakan. Oleh karena itu, Aurangzeb langsung memerintahkan operasi darurat penyelamatan gedung itu atas biaya sendiri sambil menganjurkan kepada kaisar agar perbaikan yang lebih sulit dilaksanakan dikemudian hari. Inilah bukti bahwa pada masa kekuasaan Shahjahan, komplek Taj sudah begitu tua sehingga memerlukan perbaikan segera.
  3. Maharaja Jaipur mencatat dalam koleksi tulisan rahasia-nya, `KapadDvara’, 2 perintah dari Shahjahan tertangal 18 Desember, 1633 M yang mempertanyakan kembali komplek Taj. Ini jelas sesuatu yang sangat memalukan bagi penguasa Jaipur sampai ia merahasiakan dokumen tersebut.
  4. Arsip negara bagian Rajasthan di Bikaner menyimpan 3 perintah
    yang disampaikan Shahjahan kepada Jaisingh, sang pemimpin Jaipur, memerintahkannya untuk mensuplai marmer (bagi makam Mumtaz) dan cetakan huruf-huruf Al-Quran dari tambang marmernya di Makranna dan juga sejumlah tukang ukir batu. Jaisingh sepertinya begitu marah dengan pencurian Tajmahal secara blak-blakan ini sampai ia menolak perintah Shahjahan.
  5. Ketiga perintah diatas ini dikirim kepada Jaisingh 2 tahun setelah kematian Mumtaz. Kalau pendirian Tajmahal memang sampai memakan waktu 22 tahun sebagaimana yang diyakini secara absur atas sumber dari pengunjung Prancis, Travernir selama ini, maka marmer itu seharusnya baru akan diperlukan 15 atau 20 tahun sesudahnya dan tidak segera setelah kematian Mumtaz.
  6. Lebih-lebih, ketiga perintah itu tidak pernah menyebut Tajmahal, ataupun Mumtaz, ataupun penguburan. Harga dan kuantitas batu marmer juga tidak disebut. Ini menunjukkan bahwa jumlah marmer yang diperlukan tidaklah besar, hanya sekedar untuk menambal atau mengubah dekorasi Tajmahal. Shahjahan tidak pernah mampu mendirikan gedung semegah Tajmahal kalau seandainya harus tergantung pada marmer Jaisingh yang sering tidak kooperatif.

Beberapa kesaksian dan penjelasan dari ahli sejarah dan juga pengunjung mancanegara memberikan penjelasan yang sangat kontradiksi dengan apa yang diyakini selama ini.

  1. Tavernier, jeweller Perancis mencatat dalam buku perjalannannya bahwa Shahjahan secara sengaja mengubur Mumtaz didekat Taz-i-Makan (Kuil Taj) dimana pengunjung Eropa sering datang dan dapat mengaguminya. Ia juga menambahkan bawha ongkos tangga-tangganya lebih tinggi daripada ongkos pendirian keseluruhan gedung. Pekerjaan yang dilakukan Shahjahan di kuil Siva, Tejomahalaya, berupa penghancuran dekorasi mahal, mencongkeli arca-arca Siva di dua tingkat dan sebagai gantinya menancapkan centotaph dan kutipan-kutipan Al-Quran diseputar kubu-kubu dan tembok-tembok keenam tingkat gedung tersebut.
  2. Peter Mundy, pelncong dari Inggris yang datang ke Agra tahun 1632 (1 tahun setelah kematian Mumtaz) menulis bahwa tempat-tempat menarik di dan sekitar Agra, termasuk makam, taman dan bazaar Taj-e-Mahal. Ini menegaskan bahwa Tajmahal memang gedung unik bahkan sebelum
    Shahjahan.
  3. De Laet, pejabat Belanda mendaftarkan istana Mansingh sekitar 1 mil dari benteng Agra, sebagai gedung megah jaman pra-Shahjahan. Arsip istana Shahjahan, Badshahnama, mencatat penguburan Mumtaz di dalam istana Mansingh yang sama.
  4. Bernier, pengunjung Perancis mencatat bahwa non muslim dihalangi masuk lantai bawah tanah pada saat Shahjahan merebut istana Mansingh yang mengandung sinar-sinar terang. Jelas ia merujuk kepada pintu-pintu perak, pinggiran emas, dekorasi batu-batuan berharga, dan kalung dan dawai-dawai mutiara yang digantung di leher arca Siva. Shahjahan menyita semua kekayaan gedung ini dan menjadikan kematian Mumtaz sebagai alasan untuk menyembunyikan maksud sebenarnya.
  5. Johan Albert Mandelslo, yang menggambarkan secara detil kehidupan di Agra tahun 1638 (7 tahun setelah kematian Mumtaz) dalam buku `Voyages and Travels to West-Indies’ (terbitan John Starkey dan John Basset, London), tidak menyebutkan apapun tentang konstruksi gedung megah macam TajMahal, yg “kata orang” dibangun antara tahun 1631 sampai 1653.

Penemuan yang tidak kalah menariknya di dalam gedung TajMahal itu sendiri adalah adanya tulisan-tulisan sansekerta yang sama sekali tidak sesuai dengan keberadaan kaligafi Al-Qur’an yang menghiasi TajMahal. Tulisan Sansekerta ini juga mendukung kesimpulan bawha Taj dulunya kuil Siva. Tulisan yang disalah kutip sebagai tulisan Bateshwar (saat ini disimpan di tingkat atas museum Lucknow), menunjuk pada keterangan yang mengatakan “kuil Siva sebening kristal, begitu cantiknya sampai Dewa Siva  memutuskan untuk tinggal disana dan tidak lagi kembali ke tempat asalnya, Gunung Kailash”. Tulisan itu bertanggalkan 1155 M, dipindahkan dari taman Tajmahal atas perintah Shahjahan. Beberapa sejarawan salah menyebut tulisan itu sbg `Bateshwar inscription‘ padahal arsip tidak sedikitpun mengatakan bahwa tulisan itu ditemukan di Bateshwar. Seharusnya tulisan itu disebut dgn `The Tejomahalaya inscription’ karena asalnya memang dari taman Taj sebelum diangkat dan dibuang atas perintah Shahjahan.

Bukannya mendirikan, Shahjahan malah merusak TajMahal dengan kaligrafi hitam Quran dan menghancurkan semua tulisan Sansekerta, arca-arca dan 2 patung gajah besar dari batu yang kedua belalainya membentuk kubah, seolah-olah memberi tanda selamat datang kepada pengunjung. Areal itu sekarang merupakan pintu masuk dimana turis membeli tiket masuk. Orang Inggris, Thomas Twinning, mencatat pada bukunya “Travels in India A Hundred Years ago” di halaman 191 yang menuliskan bahwa pada bulan November 1794 dia tiba di tembok tinggi yang menutupi Taj-e-Mahal dan gedung-gedung disekitarnya. Dari sini dia menaiki tangga menuju portal indah yang merupakan pusat dari bagian gedung yang dinamakan ‘COURT OF ELEPHANTS’/Istana gajah.”

Taj Mahal dipenuhi dengan kaligrafi hitam 14 bab dari Al-Qur’an tetapi tidak ada satupun tulisan yang menyebut bahwa Shahjahan adalah pendiri Taj Mahal. Kalau memang ia orang yang mendirikanTajmahal, ia pasti akan memerintahkan penulisannya sebelum memulai mengutip Al-Qur’an.

Bahwa Shahjahan, hanya mencongkeli TajMahal dengan huruf hitam Qurannya itu disebut oleh Amanat Khan Shirazi sendiri (sang penulis kaligrafi) dalam salah satu karya kaligrafinya di gedung itu. Pengamatan seksama dari huruf-huruf Al-Qur’an itu menunjukkan adanya bekas-bekas tulisan yang ditutup-tutupi dengan batu.

Pintu TajMahal yang menghadap ke sungai menjadi obyek pengujian dengan radiokarbon (karbon-14) oleh laboratorium AS dan membuktikan bahwa pintu itu 300 tahun lebih tua dari masa Shahjahan. Tahun persisnya adalah 1155 M, kira-kira 500 tahun sebelum datangnya Shahjahan.

Dari segi arsitektur juga memberikan bukti yang sangat kuat bahwa TajMahal adalah kuil Siva yang direbut oleh penjajah Islam, Shahjahan.

  1. Ahli-ahli arsitektur ternama seperti E.B.Havell, Mrs.Kenoyer dan Sir W.W.Hunterhave menulis bahwa TajMahal dibangun dalam gaya kuil  Hindu. Havell menunjuk pada peta kuil Hindu kuno, yaitu candi-candi Siva di Jawa, identik dengan taj mahal.
  2. Kubah ditengah-tengah dengan atap lengkung di keempat sudutnya adalah benuk universal kuil/candi Hindu.
  3. Keempat menara marmer di keempat sudutnya adalah gaya Hindu yang biasanya digunakan sebagai menara lampu pada malam hari dan pos penjagaan pada siang hari. Menara-menara itu penting untuk menandakan arah-arah suci. Altar-altar perkawinan Hindu dan altar bagi pemujaan Dewa Satyanarayan memiliki tiang/pilar di keempat sudut.
  4. Bentuk oktagonal TajMahal memiliki arti khusus dalam tradisi Hindu
    karena hanya orang Hindu yang memiliki nama-nama khusus bagi delapan penjuru mata angin dan juga bagi para dewa yang bertempat di kedelapan penjuru tersebut (ditambah 1 arah tengah sehingga menjadi sembilan/sanga) yang dikenal dengan istilah Devatanavasanga /Dewata Nawa Sanga.
  5. Ujung menara lancip menunjuk ke loka/dunia yang lebih atas, sementara fondasi menunjukkan dunia dibawah. Benteng, kota, istana dan candi-candi Hindu selalu memiliki layout oktagonal sehingga bersama-sama dengan ujung menara dan fondasi, mereka mewakili kesembilan arah mata angin/Dewata Nawa Sanga.
  6. TajMahal memiliki ujung Trisula (semacam garpu bertanduk tiga) diatas kubah. Replika trisula ini diukir didalam tembok batu merah istana bagian timur Taj. Bagian tengah trisula ini menunjukkan sebuah “Kalash” (kendi suci) yang berisi 2 daun mangga dan sebuah kelapa. Ini motif sakral Hindu dan merupakan salah satu atribut penting dewa Siva. Trisula juga merupakan senjata dewa Siva. Trisula-trisula serupa ditemukan di banyak candi-candi Hindu dan Buddha di kawasan Himalaya. Selama ratusan tahun orang salah kaprah dan menganggap ujung Taj
    ini sebagai bintang dan bulan sabit Islam yang juga merupakan alat penyambar petir yang dipasang Inggris pada jaman kolonialisme di India. Namun sebenarnya, ujung ini adalah karya metalurgi Hindu karena terbuat dari metal anti-karat, yang mungkin juga dimaksudkan untuk menyambar petir. Bahwa replika trisula ini digambar di bagian timur istana penting bagi umat Hindu karena ini merupakan arah terbitnya matahari. Ujung trisula ini, setelah direbut penjajah Muslim ditempeli kata ‘Allah’ sementara gambar replikanya tidak memiliki kata Allah.

Satu hal yang paling janggal dalam banguan TajMahal yang ada saat ini adalah inkonsistensi dalam banyak hal, yaitu antara lain:

  1. Kedua gedung yang menghadap Taj di sebelah timur dan barat identik dalam design, ukuran dan bentuk. Tetapi gedung disebelah timur ini dianggap sebagai ruang komunitas Islam, sementara gedung sebelah barat dikatakan sebagai mesjid. Bagaimana gedung-gedung bagi tujuan yg sangat berbeda bisa berbentuk serupa? Mengapa gedung yg dinyatakan mesjid itu tidak memiliki minaret ? Itu karena tadinya merupakan bagian dari sepasang paviliun resepsi yang merupakan bagian kuil!
  2. Beberapa meter dari situ terletak Nakkar Khana alias DrumHouse (Rumah Gendang) yang sangat tidak cocok dengan tradisi Islam. Dekatnya
    Drum House ini menunjukkan bahwa gedung ini tadinya bukan mesjid. Mengapa? Karena sebuah Rumah Gendang adalah kebutuhan sebuah kuil atau Istana Hindu. Bukan Islam. Karena pekerjaan rumah Hindu, baik pagi maupun malam, selalu diiringi irama gendang lembut.
  3. Ukiran-ukiran dimarmer bagian luar dari kamar cenotaph adalah bagian dari desain dan huruf Hindu “OM”. Juga terdapat motif-motif bunga padma dan kerang yang merupakan motif khas Hindu, yaitu atribut Visnu.
  4. Ruang sanctom sanctorum (paling suci) Taj Mahal memiliki pintu-pintu perak dan pinggiran/pegangan emas seperti layaknya candi-candi Hindu. Didalam ruang ini, lantai marmer dihiasi dengan mutiara dan batuan-batuan berharga. Kekayaan material inilah yang membuat Shahjahan tertarik dan merebutnya dari Jaisingh, sang penguasa Jaipur yang tidak berdaya.
  5. Orang Inggris bernama Peter Mundy pada tahun 1632 (setahun setelah kematian Mumtaz) melihat pegangan/sandaran tangga berlapis emas dan batuan-batuan berharga. Kalau proses pembangunan Taj Mahal memang sampai makan waktu 22 tahun, maka pegangan/sandaran berharga macam ini akan dipasang paling belakang (setelah gedung hampir selesai) dan tidak mungkin dapat disaksikan pengunjung setahun setelah kematian Mumtaz. Akhirnya semua hiasan berharga, sandaran tangga emas, pintu perak, mutiara, batuan-batuan berharga tersebut dicuri oleh Shahjahan. Penjarahan TajMahal merupakan skandal yang mengakibatkan percekcokan besar antara Shahjahan dan Jaisingh.
  6. Di lantai marmer disekeliling cenotaph Mumtaz terlihat bekas-bekas mosaik. Bekas-bekas ini menunjukkan tempat-tempat bekas tongkat penunjang pegangan tangga emas itu. Ini menunjukkan bekas-bekas sebuah pagar (mengelilingi arca Siva).
  7. Diatas cenotaph Mumtaz ada lampu yg digantung pada rantai. Yang awalnya adalah tempat kendi air yang diteteskan pada Shivalinga/lingga siva. Tradisi Hindu inilah yang dicontek penjajah Muslim menjadi cerita tetesan air mata yang jatuh pada makam Mumtaz saat terang bulan.

Diantara mesjid dan Rumah Gendang pada TajMahal terdapat sebuah sumur oktagonal bertingkat-tingkat yang berisi tangga yang menuju kebawah sampai ke tingkat batas permukaan air. Ini merupakan sumur tradisional, tempat penyimpan harta kuil ataupun istana Hindu. Barang berharga biasanya disimpan di kamar-kamar bawah tanah guna menyulitkan pencurian/penjarahan. Kalau sampai harta ini ingin direbut musuh maka harta ini bisa didorong dan disembunyikan dalam sumur. Sumur yang pelik pembuatannya dengan berbagai tingkat ini tidak diperlukan bagi sebuah mausoleum.

Yang lebih anehnya lagi, kalau seandainya memang Shahjahanyang membangun TajMahal sebagai mausoleum megah, sejarah pasti akan mencatat tanggal upacara penguburan isterinya. Namun anehnya, hal inipun tidak ada! Tidak adanya detil amat penting ini menunjukkan palsunya legenda TajMahal. Bahkan anehnya, tahun kematian Mumtaz tidak diketahui. Ada yang mengatakan
1629, 1630, 1631 ataupun 1632. Kenapa hal penting macam ini saja perlu ditebak-tebak? Tidakkah ini membuktikan bawha kematian Mumtaz adalah peristiwa yang tidak berarti sehingga orang tidak peduli dan merasa perlu mencatatkannya. Jadi, siapakah yang mendirikan TajMahal bagi kematiannya?

Cerita-cerita besarnya cinta Shahjahan bagi Mumtaz hanyalah isapan jempol. Tidak ada satu peninggalan sejarahpun yang menceritakan kisah cinta mereka!

Biaya pendirian TajMahal tidak sedikitpun tercatat dalam dokumentasi istana Shahjahan karena Shahjahan memang tidak membangunnya. Ini mengakibatkan berbagai spekulasi, mulai dari 4 juta sampai 91.7 juta rupee.

Sama juga dengan periode konstruksi yang diperkirakan antara  10 dan 22 tahun. Kalau memang ada dokumentasinya, orang tidak perlu mengira-ngira seperti ini.

Mengenai desainer Tajmahal kadang disebut Essa Effendy, kadang orang Persia atau orang Turki, Ahmed Mehendis, kadang orang Perancis, Austin de Bordeaux, atau kadang orang Italia, Geronimo Veroneo atau bahkan Shahjahan sendiri. Lalu siapakah sebenaranya desainer aslinya?

20.000 buruh seharusnya sibuk mendirikan gedung ini selama 22 tahun. Kalau ini memang benar, maka di masa Shahjahan seharusnya ada dokumentasi denah arsitektur, daftar jumlah kehadiran buruh, ongkos harian, tanda terima bahan baku dan order-order komisi atau setidaknya prasasti yang ditempatkan dalam bangunan semegah Tajmahal. Namun, tidak terdapat satu peninggalah manuskrippun yang ditemukan.

Karena itu, legenda Taj Mahal hanyalah karangan para “yes men” istana, sejarawan bodoh, arkeolog malas dan para penulis fiksi, tukang sajak, travel agent dan pemandu wisata pencari duit.

Deskripsi taman-taman disekitar TajMahal jaman Shahjahan menyebut nama-nama Jai, Jui, Champa, Maulashree, Harshringar dan Bel. Kesemua ini adalah nama-nama tanaman yang bunga atau daunnya digunakan dalam upacara pemujaan dalam tradisi Hindu. Daun Bel khususnya digunakan bagi Dewa Siva. Kuburan Hindu hanya ditanami dengan pohon besar dan teduh dan bukan dengan buah-buahan dan bunga-bunga.

Candi-candi Hindu sering dibangun di pinggir sungai dan pantai. TajMahal ini dibangun di tepi Sungai Yamuna, lokasi ideal kuil Siva. Nabi Muhammad sendiri memerintahkan bahwa tempat kuburan muslim tidak boleh menonjol ataupun ditandai satu tombak kuburanpun. TajMahal jelas-jelas melanggar hukum Islam.

Tajmahal yang memiliki gerbang masuk yang serupa dikeempat sudutnya menunjukkan kesesuiaannya dengan bangunan khas Hindu yang dikenal dengan nama Caturmukhi, yaitu muka empat.

TajMahal memiliki kubah yang bergaung. Kubah macam ini tidak cocok bagi sebuah makam yang harus menjaga kesunyian. Kubah-kubah bergaung macam ini memang diperlukan candi-candi Hindu karena memperindah suara lonceng, gendang, seruling dalam upacara pemujaan.

Kubah Tajmahal juga dihiasi bentuk bunga padma/lotus. Kubah-kubah Islam seharusnya tidak dihias sebagaimana terlihat di gedung Kedutaan Pakistan di Chanakyapuri, New Delhi, dan kubah-kubah di Islamabad.

Pintu masuk TajMahal menghadap selatan. kalau ini gedung orang Islam, seharusnya opintu masuk menghadap barat.

Banyak orang salah sangka bahwa seluruh gedung itu merupakan tempat pemakaman. Mumtaz dikubur didalam Taj. Jadi Taj bukan dibangung diatas kuburan Mumtaz. TajMahal adalah gedung berlantai 7, Pangeran Aurangzeb juga menyebut ini dalam suratnya kepada Shahjahan.

Jadi dari pemaparan bukti yang sangat mendetail ini sudah jelaslah bahwa TajMahal bukanlah sebuah kuburan yang dibangun oleh Shahjahan untuk istrinya Mumtaz, melainkan pada dasarnya adalah Kuil Hindu untuk dewa Siva, Tejo Mahalaya yang direbut dengan cara licik oleh Shahjahan sebagai penjajah Muslim yang berkuasa di India waktu itu.

Banguan Tejo Mahalaya bukanlah satu-satunya bangunan yang direbut dan dialihfungsikan secara antagonis oleh penjajah Muslim, kuil yang merupakan tempat yang diyakini sebagai lokasi munculnya Rama di Ayodya, tempat munculnya Krishna di penjara Raja kamsha, tempat munculnya Chaitanya dan banyak tempat-tempat suci umat Hindu di India direbut secara licik oleh penjajah Muslim waktu itu. Sebagian di hancurkan dan dijadikan Masjid, namun sebagian lagi malahan dijadikan kuburan/pemakaman. Dan ternyata di candi-candi di Indonesiapun kurang lebih bernasib sama seperti itu.

Note: Untuk melihat gambar-gambar bukti-bukti yang menukjukkan TajMahal adalah Kuil Siva, silahkan kunjungi situs berikut; http://stephen-knapp.com/was_the_taj_mahal_a_vedic_temple.htm

Sumber:

  1. Email Gede Sugik dari milis peradah
  2. www.stephen-knapp.com
  3. Encyclopaedia Britannica, (1964), XXI, 759.
  4. A C Roy, Bharater Itihas (in Bengali), I, 186.
  5. D J Kale, Epigraphica India , published by S D Kale & M D Kale, I, 140-141.
  6. R.C. Majumdar (General Editor), The History and Culture of the Indian People, Bharatiya Vidya Bhavan   (in 12 volumes), Mumbai (1996) V, 122.
  7. R.C. Majumdar, ibid, Bharatiya Vidya Bhavan, Mumbai (1996) VII, 781.

%d bloggers like this: