Because of You

Alone trying to be Krishna's devotee

Bali menuju tragedi “Katak Rebus”

April12

Dibali ada berbagai semboyan yang dipakai menyindir atau mengingatkan perilaku seseorang. Beberapa semboyan itu di antaranya sebagai berikut:

Ngadep carik ngae gelebeg/jineng” (menjual sawah untuk dipakai membuat gudang tempat menyimpan padi)“. Semboyan ini menyindir orang yang menjual sawah untuk dipakai mempercantik rumah, merenovasi merajan atau membeli mobil baru yang bergengsi, atau untuk berupacara yang megah meriah agar dikagumi oleh masyarakat.

Cara patapan rook, pamuputne lakar telah”, (seperti rokok, pada akhirnya akan habis menjadi abu). Semboyan ini ditujukan kepada orang yang menjual tanah warisan untuk dipakai bersenang-senang seperti berjudi, mabuk-mabukan, selingkuh atau memborong barang-barang mewah yang biaya perawatannya mahal. Orang seperti itu juga dijuluki “ngatik bangbung” yaitu penampilan luarnya memang hebat, tetapi di dalamnya kosong melompong. Mula-mula dia menjual 2 are, jika ada keperluan maka lagi menjual 3 are, 4 are, 7 are dan seterusnya sehingga akhirnya habis terjual untuk membiayai berbagai kesenangan duniawi.

“Cara kuluk medem di arepan bungut jalikane, sayan gudig bulunne” (seperti anjing yang suka tidur di depan tungku dapur mencari kehangatan, akhirnya habislah bulunya terbakar sehingga dijuluki “cicing gudig” yang menjijikkan). Semboyan ini menyindir orang yang malas, tetapi ingin hidup enak. Pada akhirnya dia jatuh miskin sehingga dijauhi oleh masyarakat.

“Cara sendok komoh sing nawang rasan komoh” (seperti sendok, walaupun menyelam di dalam kuah sejenis gulai tradisi bali, tetapi tidak merasakan enaknya kuah). Ini menyindir penduduk lokal yang tinggal di wilayah pusat-pusat perekonomian, tetapi mereka tidak bisa menikmati rejeki yang berlimpah.

Cara I Godogan bengong di samping bungan tunjunge, tusing nawang di bungan tunjunge ada madu. Nyawane uli joh teka maruyuan ngisep madune ane ada di bungan tunjunge”. (seperti kodong yang bengong ngelamun di samping bunga teratai, dia tidak mengetahui di situ ada madu. Tetapi lebah yang jauh datang berduyun-duyun mengisap madu tersebut). Semboyan ini menyindir penduduk asli (lokal) yang kalah bersaing merebut rejeki melawan kaum pendatang. Seperti pulau Bali, diserbu oleh para pendatang yang menguasai pusat-pusat perekonomian strategis yang bertebaran di Bali. Sedangkan penduduk asli Bali tenang-tenang saja seperti katak yang tidak tahu madu.

Konon di Inggris ada juga semboyan yang mirip dengan katak bodoh di Bali, tetapi disana disebut “katak rebus”. Ceritanya katak itu jika dicemplungkan kedalam panci yang berisi air panas, maka dia spontan meloncat keluar. Tetapi jika dicemplungkan kedalam panci yang berisi air dingin maka dia diam. Kalau air panci itu dipanaskan secara perlahan, kodok itu tetap diam sampai akhirnya dia mati direbus.

Jika anda iseng mengamati kondisi sosial ekonomi umat Hindu di Bali, maka Anda akan melihat kondisi perekonomian mereka seperti nasib “katak rebus”. Secara perlahan mereka direbus oleh panasnya 4 jenis masalah yaitu:

  • Kesulitan ekonomi yang semakin mencekik leher.
  • Biaya kesehatan yang mahal (sewa kamar, obat dan jasa dokter semuanya mahal).
  • Biaya pendidikan mahal.
  • Biaya upacara juga mahal.

Kesulitan yang ditimbulkan oleh ke-4 masalah itu memang pelan-pelan, tetapi semakin lama makin sulit. Contohnya harga beras, setahun yang lalu Rp 4.000,-/kg kemudian secara perlahan naik sekarang menjadi 2 X lipat yaitu Rp 8.000,-/kg. Dengan demikian 10 tahun kedepan akan makin banyak umat Hindu yang menjadi “katak rebus”. Terutama mereka yang miskin tinggal di pantai Selatan Pulau Bali. Sebab tanah pertaniannya sudah 35 % digerus oleh ombak dan akan terus digerus. Di suatu  Subak yang dulunya luas sawahnya 100 hektar, sekarang yang tertinggal hanya 65 hektar, sisanya 35 hektar sudah menjadi laut. Sedangkan jumlah penduduknya menjadi 3 kali lipat. Populasi yang awalnya 100 KK sekarang menjadi 300 KK. Daya dukung alam menyempit sedangkan jumlah manusia berlipat ganda. Mau meloncat keluar  desa tidak bisa karena tidak punya ketrampilan dan tidak ada modal. Kondisi seperti itulah yang disebut seperti “katak rebus”.

Dilain pihak sumber-sumber ekonominya terus diserbu dan dikuasai oleh kaum pendatang. Yang tambah parah lagi adalah upacara agama jor-joran yang mewajibkan umat membayar iuran (urunan) lumayan besar. Disatu pihak pendapatan mereka menurun karena perekonomian dikuasai kaum pendatang, di lain pihak pengeluaran mereka membengkak dengan adanya wajib membayar urunan. Belum lagi biaya sekolah anak-anak yang mahal, biaya berobat juga mahal. Kalau sudah begitu kejadiannya, jika Anda tidak berusaha menyelamatkan keluarga, maka nasib Anda akan menjadi “katak rebus”.

Bersambung…….

Oleh: Jero Mangku Wayan Swena

posted under Opini | No Comments »

BALI (Baang Anake Liang Ingkel-ingkel)

November27

Mengapa orang Hindu gampang sekali pindah agama?

Mari kita simak…

Berbaik hati kepada setiap makhluk adalah ajaran yang sudah dimulai dari sejak jaman majapahit. siwa-buddha, agama ini begitu toleran sekali sehingga memungkinkan peluang besar terhadap syiar-syiar agama lain. Itulah sebabnya kenapa Islam bisa berkembang dengan baik di Indonesia. Semuanya oleh karena toleransi ini. Sebuah starting point yang bagus untuk agama pendatang.

Cinta itu kuat berupa kepedulian yang juga universal. Ketika cinta adalah raksasa mega yang diktator, setiap insan akan menjadi lupa akan hal lainnya. Cinta dan kelicikan adalah dua hal yang sangat tipis perbedaaannya. Ketika cinta kembali berkata,”turuti saja nuranimu” agama atau apapun tak akan bisa berkata apa-apa. Pernikahan pun terjadi dalam kebimbangan yang kuat meskipun seolah di luar terlihat begitu yakin. Well ternyata karena cinta kita terhadap seseorang ,kita pindah keyakinan. Pertanyaannya, bisakah keyakinan kita dipindahkan? Keyakinan semacam apa yang bisa dipindahkan begitu saja? Selera Atau keterpaksaan? Read the rest of this entry »

posted under Opini | No Comments »

Sri Jagannatha Ratra Yatra: Taman Pahlawan Pancakatirtha Tabanan,12-13 Juli 2013

August2

Sebagaimana dikisahkan dalam epos Mahabharata, menjelang dimulainya perang besar keluarga Bharata, Sri Krishna bersama kakak-Nya Sri Baladeva dan adik-Nya Subadra devi berangkat dari Dvaraka menuju Kuruksetra untuk menghadiri perang besar tersebut. Ditengah perjalanan mereka berjumpa dengan para penduduk Vrindavan yang sangat merindukan-Nya karena sudah terlalu lama berpisah. Kecintaan mereka yang sangat kepada Krishna membuat Ibu Yasoda, Nanda Maharaj, para kerabat sepermainan-Nya waktu kecil, para gopi dan segenap penduduk Vrindavan menyambut kereta mereka dengan penuh suka cita. Mereka semua berebutan ikut menarik dan mendorong kereta tersebut sambil mengagung-agungkan nama-nama Sri Krishna.

Berawal dari peristiwa heroik yang penuh dengan tangis cinta kasih kebahagiaan rohani itu, akhirnya secara turun-temurun selalu diadakan kegiatan serupa untuk mengenang kejadian yang telah berlangsung sekitar 5000 tahun yang lalu tersebut. Pada awalnya kegiatan yang dikenal dengan disebut festival Jaganatha Ratra Yatra ini hanya dilaksanakan di daerah yang sekarang dikenal sebagai Puri, di negara bagian Orissa, India yaitu di sekitar kuil Jaganatha (Sri Krishna) terbesar di kota itu. Festival ini adalah salah satu festival Hindu terbesar yang dihadiri oleh jutaan orang dari berbagai belahan dunia. Read the rest of this entry »

posted under Tradisi | No Comments »

Salah Kaprah Sistem Kasta (sebuah studi kasus)

August2

Setelah kerajaan Majapahit runtuh sekitar abad ke-15, Bali menjadi benteng terakhir bertahannya agama Hindu. Pada masa ini, Dang Hyang Nirartha yang berasal dari Majapahit diterima dan diangkat sebagai guru dan pendeta kerajaan pada masa pemerintahan raja Dalem Batur Enggong di Bali. Atas restu dari raja Dalem Batur Enggong, Dang Hyang Nirartha melakukan pembaharuan terhadap sistem sosial religius masyarakat Bali. Tatanan desa pakraman yang diperkenalkan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-10 Masehi, diperbaharui oleh Dang Hyang Nirartha menjadi sistem wangsa yang secara luas lebih dikenal sebagai sistem kasta. Tujuannya adalah untuk mengukuhkan kekuasaan pemerintahan feodalisme yang dipengaruhi oleh pola kerajaan Majapahit. Sayangnya, hanya anggota tiga golongan pertama yang mendapat pengakuan dan perlakuan terhormat  dalam masyarakat, dengan sebutan Tri Wangsa. Penyimpangan yang dilakukan dalam sistem wangsa ini adalah penggolongan masyarakat didasarkan pada status kelahiran dan garis keturunan seseorang, bukan berdasarkan bakat, sifat, dan pekerjaan seseorang seperti pada konsep Catur Varna menurut Veda.

Penyimpangan tersebut terlihat pada fakta bahwa keluarga Dang Hyang Nirartha dan seluruh keturunannya diangkat menduduki golongan brahmana;  keluarga Raja Dalem Batur Enggong beserta keturunannya mendapat status sebagai golongan ksatria; para arya atau senapati dan prajurit pengikut Dang Hyang Nirartha dari Majapahit menjadi para waisya; sedangkan para pemimpin kerajaan-kerajaan lain di Bali yang tunduk kepada Raja Dalem Batur Enggong menjadi diberi label sebagai golongan sudra. Diskriminasi terlihat jelas pada  para warga pemberontak yang merupakan penduduk asli Bali,  dianggap sebagai warga jaba atau diluar sistem kasta. Read the rest of this entry »

posted under Opini | No Comments »

Dialog Tentang Jiva – Part7

August2

Murid: Orang yang menekuni kegiatan spiritual disebut yogi. Lalu orang yang hanya sibuk dalam urusan material agar hidup lebih enak dan lebih nyaman melalui pemuasan indriya jasmani secara lebih mewah disebut apa?

Guru: Dia disebut bhogi, penikmat. Oleh karena tujuannya memperoleh gelar akademik adalah supaya bisa hidup lebih baik, lebih nyaman dan lebih mewah, maka praktis mereka yang disebut sarjana duniawi tergolong bhogi.

Murid: Tujuan material agar hidup lebih enak, lebih nyaman dan lebih mewah tanpa disadari menyebabkan tabiat serakah dan watak-watak asurik (jahat) lainnya tumbuh subur dalam pikiran.

Guru: Ya, demikianlah. Keserakahan sesungguhnya akar masalah kesengsaraan yang menimpa masyarakat dewasa ini. Oleh karena sesungguhnya tergolong bhogi bertabiat serakah, maka semakin banyak jiva berjasmani sarjana duniawi gentayangan di masyarakat, kehidupan rakyat bukan semakin damai, makmur dan sejahtera, tetapi semakin tidak damai, tidak makmur dan tidak sejahtera. Read the rest of this entry »

Dialog Tentang Jiva – Part6

August2

Murid: Jikalau prinsip-prinsip kehidupan materialistik ini terus mengotori kesadarannya sampai saat ajal, bagaimana nasib sang jiva selanjutnya?

Guru: Dia kembali terperangkap dalam mrtyu-samsara vartmani, jalur derita kelahiran dan kematian di dunia fana (perhatikan Bg. 9. 3). Dan dia (sang jiva) punas punah carvita carvananam, mengunyah lagi apa yang telah dikunyah sebelumnya (Bhag. 7. 5. 30). Maksudnya, dia mengulang lagi kegiatan-kegiatan yang telah pernah dilakukan dalam setiap penjelmaannya yang telah lewat.

Murid: Tetapi penjelasan Veda tentang kelahiran kembali atau punarbhava (reinkarnasi) ini tidak diperdulikan oleh kebanyakan orang yang mengaku penganut ajaran Veda. Mengapa demikian?

Guru: Sebab, seperti anda telah katakan bahwa kebanyakan sarjana duniawi yang dihormati sebagai orang-orang yang berpengetahuan, menyatakan tidak ada jiva (roh) spiritual-abadi yang menghidupkan badan jasmani, maka rakyat bodoh menjadi tidak perduli pada hukum punarbhava (reinkarnasi) ini. Sebab kedua adalah para pemuka ajaran Veda yang tidak sadar dirinya dikhayalkan oleh maya dengan sifat alam rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan), mengajarkan kepada umatnya bahwa dengan melaksanakan ritual (yajna) tertentu pada saat kematian, sang jiva disucikan dari dosa-dosa sehingga, katanya, “Ia (sang jiva) tidak mengalami punarbhava lagi”. Read the rest of this entry »

Dialog Tentang Jiva – Part5

August2

Murid: Para sarjana duniawi khususnya mereka yang berkecimpung dibidang biologi telah membuktikan secara pasti melalui penelitiannya berulang-kali di laboratorium bahwa apa yang disebut jiva atau roh tidak ada dalam badan jasmani, sebab mereka tidak melihatnya. Komentar anda?

Guru: Bagaimana mungkin mereka bisa melihat jiva yang spiritual dengan mata materialnya? Tuhan Krishna sudah mengatakan bahwa sang jiva adalah avyaktah, tidak berwujud material, dan acintyah, tidak terpahami secara material. Karena itu, mereka tidak mungkin melihat dan mengerti sang jiva dengan mata dan pikiran materialnya.

Murid: Barangkali mereka merasa bahwa penjelasan Veda tentang sang jiva tidak cukup detail dan tidak ilmiah, sehingga para sarjana duniawi ini berkata, “Bagaimana mungkin kami menyatakan jiva yang tak terlihat mata itu memang ada?”.

Guru: Veda (Khususnya Bhagavad-gita) telah menjelaskan tentang sang jiva secara detail dengan menyebut sifat dan ciri sang jiva, ukurannya dan tempat tinggalnya di dalam badan jasmani. Dan juga Veda telah menyatakan bahwa sang jiva hanya bisa diketahui ada berdasarkan penjelasan filosofis dan proses keinsyafan diri, bukan dengan apa yang disebut cara ilmiah yaitu penelitan di laboratorium dengan memanfaatkan berbagai peralatan material dan indriya-indriya jasmani kasar yang tidak sempurna. Read the rest of this entry »

Dialog Tentang Jiva – Part4

August2

Murid: Bebas dari maya atau khayalan berarti seseorang menyadari dan menginsyafi bahwa dirinya bukan badan jasmani tetapi jiva nan abadi. Bukankah anda juga mengajarkan demikian?

Guru: Betul, tetapi saya tidak mengajarkan bahwa makhluk hidup (jiva) identik atau sama dengan Tuhan (Brahman).  Makhluk hidup tetap makhluk hidup, dan Tuhan tetap Tuhan.

Murid: Bukankah di dalam Veda Tuhan dan makhluk sama-sama disebut atma, Brahman, isvara dan purusa? Bukankah ini menunjukkan bahwa makhluk hidup (jiva) identik dengan Tuhan (Brahman)?

Guru: Saya memahami ajaran Veda berdasarkan filsafat acintya bheda-bheda tattva, Tuhan dan makhluk hidup secara tak terpikirkan sama dan berbeda pada saat yang sama. Artinya begini, Tuhan dan makhluk hidup keduanya disebut atma, Brahman, purusa atau isvara karena sama yakni sama-sama berhakekeat spiritual-kekal. Tetapi pada saat yang sama, oleh karena Tuhan berpotensi tak terbatas dan mengendalikan sang makhluk hidup yang berpotensi kecil dan terbatas,  sebagai pengendali maka Tuhan disebut Paramatma (makhluk hidup paling utama), Paramesvara (Pengendali paling utama), Parambrahman (Makhluk hidup paling utama), dan Purusottama (Kepribadian paling utama). Demikian Veda menjelaskan. Apakah anda menolak penjelasan Veda ini? Read the rest of this entry »

Dialog Tentang Jiva – Part3

August2

Murid: Akibat-akibat buruk apa yang timbul di masyarakat dari paham jasmaniah yang keliru ini?

Guru: Banyak. Pertama,  para jiva berjasmani manusia tidak pernah puas atas hasil kerja yang dicapainya. Jika tidak puas, bagaimana mungkin bahagia? Kedua,  mereka terpaksa bekerja semakin dan semakin keras untuk mengejar apa yang disebut kebahagiaan hidup duniawi. Kerja keras berarti menderita. Ketiga,  mereka yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Keempat, alam dan lingkungan hidup semakin rusak oleh beraneka-macam kegiatan pemuasan indriya. Kelima,  moralitas sang manusia merosot. Keenam, Tindak kekerasan tidak pernah bisa di atasi sehingga kehidupan menjadi semakin tidak aman dan tidak nyaman. Ketujuh, manusia berumur pendek karena terserang beraneka-macam penyakit pada usia muda.

Murid: Meskipun begitu, paham jasmaniah “Aku adalah badan jasmani ini dengan nama si Anu” secara material dianggap benar, sehingga dijadikan landasan hidup bahagia melalui program “kemajuan ekonomi”. Meskipun secara filosofis salah, tetapi paham jasmaniah ini telah menjadi pondasi kehidupan individual, nasional maupun intenasional. Mengapa hal ini bisa terjadi demikian? Read the rest of this entry »

Dialog Tentang Jiva – Part2

August2

Murid: Anda telah mengatakan bahwa segala makhluk hidup (jiva) dan seluruh alam material dikendalikan oleh Tuhan. Lalu dimana letak peranan Tuhan sebagai pengendali para jiva yang dibelenggu oleh tri-guna?

Guru: Sesuai dengan unsur-unsur tri-guna yang dominan menyelimuti badan jasmaninya, sang jiva melakukan beraneka-macam kegiatan. Tuhan Krishna (dalam aspekNya sebagai Paramatma) bertindak sebagai saksi (upadrasta) atas segala kegiatan yang dilakukan sang jiva. Selanjutnya, Beliau bertindak sebagai  penentu (anumanta) hasil (phala) dari kegiatan-kegiatan (karma) yang dilakukan oleh sang jiva. Dan selanjutnya Beliau menentukan jenis badan jasmani yang sang jiva harus huni dalam penjelmaan berikutnya sesuai dengan karmanya itu (perhatikan Bg. 13. 23. Dan 18. 61). Read the rest of this entry »

Dialog Tentang Jiva – Part1

August2

Murid: Apa yang dimaksud dengan jiva Guru?

Guru: Secara umum, jiva juga disebut dengan roh, yaitu sesuatu yang menghidupi badan jasmani ini. Jiva berasal dari kata jiv yang berarti menghidupkan. Karena ada jiva dalam badan jasmani, maka badan jasmani hidup dan aktif melakukan berbagai kegiatan.

Murid: Lalu bagaimana dengan atman, Guru?

Guru: Atman adalah salah satu sebutan lain dari jiva. Selain disebut sebagai Atman, jiva juga bisa disebut sebagai brahman, purusa, kesetrajna dan isvara. Disebut atma karena ia adalah roh individual rohani abadi yang tidak terlibat secara material, tetapi keberadaannya dibuktikan berdasarkan logika dan filsafat. Dikatakan brahman, karena ia adalah roh individual nan kekal yang berhakekat spiritual dan diketahui ada berdasarkan proses keinsyafan diri. Disebut purusa, karena ia bertindak sebagai penikmat dan penderita atas kegiatan badan jasmani yang dihuninya. Dan disebut isvara karena ia mengendalikan badan jasmani. Read the rest of this entry »

Bhagawad-Gita, Kitab Suci Penganjur Perang dan Kekerasan?

August2

Ada sekelompok orang yang menyebut Sri Krishna sebagai tokoh yang tidak bermoral, karena memaksa Arjuna berperang di medan perang Kuruksetra. Padahal, menurut mereka, Arjuna telah tegas-tegas menolak terlibat dalam pertempuran yang akan memaksanya membunuh kakek, guru, kerabat dan sanak saudara yang ia hormati dan ia cintai! Benarkah Bhagavad-gita semata-mata mengajarkan perang dan kekerasan? Pelajaran moral apa yang terkandung dalam perintah Sri Krishna yang menegaskan bahwa Arjuna tetap harus berperang?

“Saya sudah muak dengan agama. Saya malas membaca kitab suci lagi. Termasuk baca Bhagavad-gita. Bukankah justru gara-gara ayat-ayat  suci itu manusia saling berperang?” cetus seorang teman dalam sebuah diskusi di ashram. Kebetulan dia baru pertama kali itu hadir dalam acara pendalaman Bhagavad-gita yang kami lakukan rutin setiap hari minggu siang. Read the rest of this entry »

Ketika Mantan Tukang Bakso Mandi di Maha Kumbha Mela India (Bagian 2)

August2

Tiba-tiba saja, dalam sebuah percakapan lewat Yahoo! Messenger, Prabhu Darmayasa, orang yang pertama kali datang ke Palangka Raya dan mengajarkan Hare Krishna (Bhakti Yoga) di Palangka Raya sekitar tahun 1995 itu, mengajakku mengikuti Festival Maha Kumbha Mela di kota Allahabad. Beliau bilang, Maha Kumbha Mela seperti tahun 2013 sekarang ini hanya terjadi setiap 12 tahun sekali. Belum tentu di tahun 2025 nanti, di penyelenggaraan acara Maha Kumbha Mela berikutnya, Tuhan masih memberikan anugerah pada kita untuk menghadirinya. Makanya, beliau memintaku agar bisa ikut, berangkat bersama rombongan hampir 60-an peseta lain dari seluruh Indonesia.

Jujur kukatakan bahwa aku tidak punya uang untuk berangkat ke India saat ini. Jangankan untuk ke India, untuk tirtha yatra ke tempat-tempat suci di Jawa dan Bali saja aku tidak punya biaya. Tapi beliau menjawab dengan santai, “Santih, damai Mas. Ayolah berangkat sama saya.” Read the rest of this entry »

posted under Opini | No Comments »

Ketika Mantan Penjual Bakso Mandi di Maha Kumbha Mela (Bagian 1)

August2

Untuk Kawan kawan generasi muda Hindu yang mungkin sedang berjuang mempertahankan kehinduannya ditengah berbagai tantangan…. saya mohon ijin berbagi cerita pribadi yang memang sangat subyektif, tetapi barangkali bisa menjadi inspirasi untuk semakin meyakini jalan Sanatana Dharma. Ini adalah cerita pengalaman pribadi sebagai mantan penjual bakso, yang bisa 2 kali ke India, kedua-duanya dibiayai oleh orang yang semestinya menurut aturan dan etika, tidak boleh melakukan hal itu….

Mantan Tukang Bakso Mandi di Acara Maha Kumbha Mela…..

Beberapa teman yang tahu aku baru saja pulang dari perjalanan tirtha yatra ke India, bertanya dengan nada enteng. ”Apa sih yang kamu dapat sepulang dari tirtha yatra ke India? Apa efeknya setelah mandi di sungai Gangga saat perayaan Maha Kumbha Mela begitu? Trus, aku harus manggil kamu dengan gelar apa nih?” tanyanya dengan nada agak mencibir. Read the rest of this entry »

posted under Opini | No Comments »

Menggali makna spiritual hari raya Galungan

August2

Ada yang menggelitik keinginan saya untuk menulis tentang pesan tersembunyi di balik setiap perayaan hari suci keagamaan yang berlangsung di Bali khususnya dan bhumi Nusantara Indonesia ini pada umumnya yakni sebuah kebanggaan mengimani keyakinan Sanathana Dharma dalam tataran agama yang disebut Hindu karena dalam pengamalan ajaran agamanya, Hindu sangat dekat dengan alam. Berbagai ritual keagamaan dilaksanakan untuk tetap menjaga keharmonisan dengan alam lingkungan, demikian juga dengan media persembahyangannya, hanya penganut agama timur yang menyertakan atau menggunakan hasil alam untuk mewujudkan rasa terima kasih dan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hidup serta kekayaan alam untuk menunjang kehidupan itu sendiri. Tumpek uduh dalam kaitannya dengan perayaan Hari raya Galungan adalah satu dari sekian banyaknya ritual hindu yang bisa dipakai cerminan bahwa ajaran agama ini sangat memperhatikan keharmonisan hidup antara manusia dengan alam lingkungannya sebagaimana tersurat dalam ajaran Tri Hita Karana. Read the rest of this entry »

Memalukan Hindu

August2

Jika membaca dari judulnya saja, mungkin akan ada banyak kesan yang ditimbulkannya, sebab jika ini adalah sebuah ajakan, maka sebagai orang hindu anda tentu akan marah, tetapi jika kalimat itu adalah sebuah pertanyaan, anda pasti akan diliputi rasa ingin tahu ‘kenapa’ atau jika ini adalah sebuah pernyataan, anda juga mesti menelusuri sebab musababnya guna mencari benar tidaknya ‘Pernyataan ini’ Read the rest of this entry »

posted under Opini | No Comments »
« Older Entries